LiputanIslam.com –Kunjungan Raja Salman ke Indonesia memang sudah lama berlalu. Tapi, benak kita masih mengingat dengan jelas euforia yang muncul dari kunjungan serba “wah” rombongan Raja Salman itu. Kunjungan tersebut ditengarai telah mereduksi stigma negatif yang sebenarnya amat-sangat melekat pada Raja Salman dan pemerintahan Arab Saudi secara umum.

Kita semua tahu Arab Saudi masih punya masalah dalam hal perlakuan terhadap para pahlawan devisa kita. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan TKI di Arab Saudi diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Belum lagi masalah janji santunan bagi korban kecelakaan crane yang sampai sekarang belum juga direalisasikan.

Dalam konteks politik internasional, jejak Arab Saudi sebagai sponsor kelompok radikal semisal Al-Qaeda, Al-Nusra, dan ISIS sudah tidak bisa lagi ditutupi. Dan Indonesia adalah negara yang berkali-kali menjadi korban serangan terorisme yang dilakukan kelompok-kelompok tersebut. Bom Bali 1 dan 2, juga bom Mariot, hingga Sarinah, para pelakunya terkait erat dengan kelompok teroris internasional yang mendapatkan dukungan dari Arab Saudi.

Baru-baru ini,  delapan ratus keluarga korban peristiwa 9/11 diberitakan menuntut Arab Saudi atas serangan teror pada tahun 2001. Tuntutan tersebut mengemuka menyusul dirilisnya dokumen otentik terkait dengan keterlibatan para pejabat Kedutaan Saudi dalam mendukung Salem Al-Hazmi dan Khalid Al-Mihdhar (dua orang pelaku teror) delapan belas bulan sebelum peristiwa terjadi. Berdasarkan dokumen itu, para pejabat Arab Saudi membantu para teroris mencari apartemen, belajar bahasa Inggris, serta memperoleh kartu kredit dan uang. Mereka juga diajari untuk membiasakan diri dengan bentang darat Amerika.

Kreindler & Kreindler, biro hukum yang mewakili keluarga korban teroris, menyebut Arab Saudi sebagai pembohong. Tuduhan itu mengacu kepada gestur politik negara itu akhir-akhir ini, yang berkoar-koar tentang pemberantasan terorisme. Padahal, terorisme itu berdiri, tersemai, dan beraktivitas dengan dukungan penuh Arab Saudi. Tak lupa, Kreindler & Kreindler juga mengecam negaranya, AS, dengan alasan yang sama. Lembaga ini juga menyebut negaranya hipokrit: sangat gencar berkoar-koar soal terorisme, tapi pada saat yang sama, justru AS adalah supporter teroris, dan bersekutu dengan Arab Saudi.

Inilah persekutuan mematikan antara dua kutub. Yang satu adalah rezim haus perang, dan yang satunya lagi adalah rezim yang berdiri di atas faham Islam radikal. Keduanya juga sangat pandai membungkus diri dengan slogan-slogan yang menyesatkan. Tapi, bau busuk persekutuan itu sudah makin menguar dan tak akan mungkin lagi bisa ditutupi. (editorial/liputanislam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL