hari-pahlawanSampai sekarang, status kepahlawanan Presiden Republik Indonesia yang kedua, Soeharto, masih menjadi polemik. Anak bangsa ini masih saja berdebat tentang apakah Soeharto layak disebut sebagai pahlawan bangsa.

Hampir semua anak bangsa ini sebenarnya sepakat bahwa Soeharto pernah berjuang membela Tanah Air. Nyawa dia pertaruhkan, dan segala macam pedih-perih perjuangan telah ia jalani. Bahkan, ia termasuk orang sangat berjasa dalam Perang Kemerdekaan. Aksi heroiknya memimpin sisa-sisa pasukan untuk menduduki Jogjakarta selama enam jam selalu dikenang sejarah. Aksi inilah yang diyakini telah membuka mata dunia hingga mereka tahu bahwa Indonesia sangat layak merdeka dan punya pemerintahan. Negeri ini punya tentara yang bermartabat dan bisa diandalkan. Tak lama setelah aksi “enam jam di Jogja” itu, pemerintah Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia.

Waktu terus merambat dan memberikan ujian bagi jiwa-jiwa kepahlawanan. Di tahun 1966, ketika Soeharto dilantik oleh MPRS sebagai presiden menggantikan Soekarno, suara-suara miring mulai terdengar. Berdasarkan versi resmi pemerintah, apa yang dilakukan Soeharto di saat itu sangat heroik. Ia secara tegas menumpas Partai Komunis Indonesia yang dianggap sebagai biang kerok kesengsaraan rakyat; kelompok yang ditengarai telah melakukan aksi kudeta sekaligus pembantaian atas tujuh petinggi Tentara Nasional Indonesia.

Hanya saja, di sini mulai muncul keraguan. Beberapa pihak meyakini bahwa apa yang dilakukan Soeharto sebenarnya adalah konspirasi tingkat tinggi, demi meraih posisi orang nomor satu di Indonesia. Pahlawan adalah para pejuang pembela tanah air tanpa pamrih. Jika perjuangan dilakukan dalam rangka mengincar posisi tertentu, apakah masih layak disebut sebagai tindakan kepahlawanan?

Sinisme makin mengemuka manakala Soeharto lantas menjadi presiden Indonesia untuk kurun waktu yang sangat lama: 32 tahun. Dia menjadi salah satu pemimpin negara terlama di dunia. Apalagi, kemudian terbukti bahwa di masa pemerintahannya itulah parasit bernama korupsi, kolusi, dan nepotisme mulai tumbuh dan menjadi bagian tak terpisahkan dari gerak langkah pembangunan. Sejumlah tindakannya yang dianggap represif dan melanggar HAM dalam rangka mempertahankan kekuasaan juga menjadi catatan buruk sejarah perjalanan hidupnya. Puncaknya, ia dilengserkan secara paksa oleh Gerakan Reformasi tahun 1998. Ia pun berada di ambang pengadilan. Tapi ia sudah tua dan sakit-sakitan. Lalu, ia pun selamat dari proses peradilan, dan statusnya hingga sekarang masih mengambang: pahlawankah atau penjahat/pengkhianat?

Apa yang dialami Soeharto adalah adalah sebuah pelajaran penting. Status kepahlawanan tak pernah berhenti di satu titik kehidupan. Tak ada yang namanya istilah “pahlawan sekali untuk selamanya”. Jasa yang sudah ditunjukkan kepada bangsa (bahkan taruhannya adalah nyawa) tak pernah memberikan jaminan kepada kita bahwa kita akan tetap akan dianggap pahlawan. Kepahlawanan adalah sesuatu yang lahir untuk kemudian harus kita rawat terus menerus sampai nyawa terlepas dari tubuh kita. Perjuangan tak pernah dinyatakan selesai.

Hukum ini berlaku sepanjang sejarah, untuk seluruh fase zaman. Ayat 144 Ali Imran mengingatkan kaum Muslimin di zaman Nabi agar tetap teguh di jalan Allah, karena tak ada jaminan bahwa mereka akan tetap berada di jalan yang benar; bahwa mereka tidak akan kembali kepada kehidupan Jahiliah, begitu Nabi wafat.

Pahlawan memang layak mendapatkan penghargaan. Akan tetapi, penghargaan tersebut sering kali membuatnya silau terhadap kehidupan dunia dan lupa kepada esensi perjuangannya. Yang lebih parah lagi, jika perolehan penghargaan ini menjadi tujuan dari tindakannya. Saat itu, status kepahlawanannya akan terjerembab ke dasar lumpur hipokritas dan pengkhianatan.

Apapun, selamat Hari Pahlawan, 10 November 2014. Selamat kepada mereka yang tetap teguh di jalan perjuangan bangsa sampai akhir hayatnya. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL