LiputanIslam.com –Jumat terakhir Ramadhan tahun ini jatuh pada tanggal 31 Mei. Seperti tahun-tahun yang lalu, momen Jumat terakhir Ramadhan ini akan dimanfaatkan oleh sejumlah komunitas di seluruh dunia untuk menggelorakan solidaritas internasional Al-Quds, Palestina.

Fakta terkini menunjukkan bahwa bangsa Palestina masih terus berjuang untuk meraih kemerdekaannya yang dirampas oleh Zionis Israel. Masih ada lebih dari lima juta warga Palestina yang menjadi pengungsi di negara-negara lain. Di dalam negeri, orang-orang Palestina menjalani kehidupan sebagaimana layaknya para pengungsi. Mereka tinggal di kamp-kamp permukiman serba darurat yang tersebar di beberapa titik di Tepi Barat dan Gaza.

Keterpurukan nasib bangsa Palestina itu tak lepas dari ketidakpedulian sebagian besar negara-negara Arab Muslim terhadap nasib saudara-saudaranya itu. Tentu saja, di sini ada peran AS yang dengan gigih menjadi pembela utama Zionis Israel. Dengan kekuatan dan kelicikan politik, militer, dan ekonominya, AS menjadikan para penguasa negara-negara Arab itu seperti keledai yang dengan mudahnya diancam atau diiming-imingi.

Lihatlah, bagaimana isu perjuangan bangsa Palestina meredup dengan cepat manakala negara-negara Arab lebih sibuk mengirimkan pasokan logistik dan senjata kepada para teroris yang memberontak di Suriah. Ironisnya, para teroris yang terluka itu malah dibawa sejumlah rumah sakit Israel untuk mendapatkan perawatan. Lihatlah juga, bagaimana selama hampir lima tahun ini, milyaran dolar AS digelontorkan oleh Riyadh untuk menggempur milisi Ansarullah, Houthi Yaman.

Maka, Palestina pun menjadi terlupakan dan terabaikan.

Hanya saja, kita tetap patut bersikap optimis. Negara-negara Arab Muslim memang terkesan sangat tak peduli dengan Palestina, hingga bangsa Palestina seakan-akan harus berjuang sendiri. Akan tetapi, keteguhan bangsa Palestina untuk terus berjuang tanpa kenal menyerah telah membuahkan hasil.

Palestina memang masih terus berjuang. Kemerdekaan juga belum diraih. Akan tetapi, perjuangan mereka menunjukkan progres yang membanggakan. Penduduk Yahudi Israel makin merasa tidak nyaman. Mereka adalah generasi ketiga, keempat, atau kelima dari kaum imigran Yahudi yang didatangkan dari berbagai penjuru dunia. Mereka dulunya diiming-imingi Tanah Yang Dijanjikan; negeri yang makmur dan aman. Faktanya, kehidupan warga Israel jauh dari kata aman dan nyaman.

Sebagaimana yang kita ketahui, sejak dekade 1990-an lalu, warga Palestina yang merasa putus asa dengan berbagai macam prakarsa perdamaian yang tak adil, mengambil tindakan unik dan berani. Mereka menggelorakan intifadhah. Gerakan ini intinya adalah glorifikasi perlawanan dan resistensi  terhadap Zionis Israel, meskipun dengan senjata seadanya. Saat itu, intifadhah dikenal dengan lemparan batu yang ditujukan kepada tank-tank baja. Terlihat sekali , betapa sangat mazlum-nya bangsa Palestina.

Hingga kini, intifadhah masih terus dilakukan oleh para pejuang Palestina. Hanya saja, alat yang dipakai untuk melakukan perlawanan sudah semakin canggih. Batu sudah lama ditinggalkan. Sebagai ganti batu, para pemuda Palestina menggunakan senapan rakitan sendiri, atau suplai dari para pendukung perjuangan Palestina. Kini, senapan juga sudah mulai berubah menjadi rudal. Misil-misil para pejuang Palestina itu bisa menjangkau kamp-kamp militer di banyak tempat di Israel. Sungguh membuat ngeri Zionis, dan membuat para imigran Yahudi itu makin tak betah tinggal di Israel

Perjuangan saudara-saudara kita itu harus terus kita dukung dan kita dorong. Kita juga harus terus memelihara sikap optimis bahwa warga Palestina yang menjadi pengungsi akhirnya pada akan kembali ke negeri asal mereka, dan hidup sebagai orang-orang yang merdeka. (os/editorial/liputanislam)

Baca: Jenderal Iran Sebut Perjuangan Palestina Beralih dari Batu ke Rudal

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*