LiputanIslam.com –Iran akhirnya membuktikan kata-katanya. Negara ini mengumumkan telah mempercepat laju produksi uranium yang diperkaya hingga sepuluh kali lipat dalam dua bulan terakhir. Tindakan itu dilakukan sebagai implementasi atas keputusan Iran untuk menghentikan sebagian komitmennya kepada kesepakatan nuklir bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Iran menyatakan bahwa berbagai reaktor di seluruh Iran saat ini setiap harinya mampu memproduksi 5 kilogram uranium yang diperkaya. Dengan laju kapasitas produksi seperti ini, dalam hitungan tak lama lagi, produksi uranium Iran akan mencapapai titik tertentu di mana uranium tersebut bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan. Dan itu, artinya, posisi Iran makin kuat, dan negara ini tak lama lagi akan menjadi salah satu kekuatan nuklir besar Dunia.

Keberhasilan Iran untuk melakukan percepatan pengayaan uranium itu  tak lepas dari situasi politik internasional yang agaknya memang sedang berpihak kepada Iran. Sebagaimana yang diketahui bersama, dalam beberapa dekade terakhir ini, Iran berkali-kali dikenai sanksi dan embargo ekonomi dengan tuduhan dan kekhawatiran bahwa program nuklir Teheran akan membahayakan keamanan Dunia. Kemudian, di tahun 2015, AS dan sejumlah negara besar Dunia duduk bersama-sama dengan Iran. Mereka menyepakati JCPOA yang ditandatangani di Wina, Austria. Inti dari perjanjian itu adalah, Iran menghentikan sementara pengayaan uranium, dan di sisi lain, negara-negara Barat juga mencabut sanksi ekonomi kepada Iran secara bertahap.

Akan tetapi, semuanya menjadi berantakan gara-gara ulah Presiden AS Donald Trump. Sejak terpilih sebagai presiden, dia memang langsung mengeluarkan banyak sekali kebijakan yang kontroversial. Salah satu di antaranya adalah menyatakan secara sepihak keluar dari JCPOA. Dengan keluar dari perjanjian itu, Trump merasa lebih mampu untuk menekan Iran.

Faktanya, sikap Trump itu ditentang oleh para pihak lain dari penanda tangan JCPOA, bahkan Inggris, Perancis, dan Jerman yang selama ini dikenal dekat sebagai sekutu seia sekata dengan AS dalam urusan Iran. Akibat penentangan tersebut, negara-negara Barat itu enggan mengikuti langkah AS dalam peningkatan atau perluasan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Di sisi lain, tindakan Trump itu menjadi dalil yang kuat bagi Iran untuk secara bertahap juga keluar dari sebagian isi perjanjian JCPOA. Tindakan Iran ini direspon dengan pasif oleh negara-negara Barat. Mereka tidak bisa bereaksi keras seperti biasanya, karena apa yang dilakukan Iran itu adalah konsekwensi logis dari adanya “pengkhianatan” sepihak yang dilakukan oleh penanda tangan perjanjian.

Bahkan, lebih jauh lagi, Pemimpin Tertingga Iran Ayatullah Khamenei mampu meyakinkan seluruh faksi politik internal di Iran soal sangat banyaknya mudharat yang muncul akibat terlibat perundingan dengan AS. Untuk itulah, Khamenei secara resmi telah melarang pejabat negara tingkat manapun di Iran untuk melakukan perundingan dengan AS.

Kini, Iran sepertinya tengah membuka lembaran baru produksi nuklirnya. Iran dengan leluasa terus memproduksi uranium yang diperkaya, tanpa adanya hambatan berarti dari dunia internasional. Sanksi-sanksi yang diperluas oleh AS pun sepertinya hanya berdampak minor terhadap kehidupan ekonomi rakyat Iran. Apa yang dilakukan hari ini sangat mungkin akan menjadi titik balik besar dalam perkembangan konstelasi politik ekonomi internasional. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*