LiputanIslam.com – Ketegangan antara Amerika dan Iran belum sepenuhnya mereda, meskipun Presiden Amerika Donald Trump mulai melunak dengan mengatakan siap berunding tanpa syarat dengan Iran. Sebelum ini, tensi politik di Timur Tengah memanas akibat perang twitter antara Trump dan Rouhani, Presiden Iran. Trump sempat menggunakan bahasa yang sangat keras dan mengancam akan memberikan pelajaran kepada Iran. Akan tetapi, para pejabat tinggi Iran serempak merespons ancaman itu dengan tak kalah keras. Komandan pasukan elit Garda Al-Quds, Jenderal Qassem Soleimani, mengatakan bahwa Iran siap untuk melawan. Amerika boleh memulai perang. Akan tetapi, akhir dari perang itu ditentukan oleh Iran. Tak lupa, Soleimani mengingatkan bahwa perang terhadap Iran akan melibatkan sangat banyak simpatisan Iran di seluruh dunia yang akan segera melumpuhkan Amerika.

Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Hossein Khanzadi juga mengancam akan menutup Selat Hormuz di Teluk Persia, begitu Amerika melancarkan serangan pertamanya ke kawasan Iran. Selat sempit Hormuz yang secara teritorial masuk ke dalam kekuasaan Iran itu adalah tempat lalu lalangnya kapal-kapal tanker yang mengangkut 70% kebutuhan minyak dunia. Bisa dibayangkan, resesi ekonomi macam apa yang akan terjadi di dunia jika perang betul-betul terjadi.

Mendapati sikap keras Iran, bahasa diplomatik Amerika mulai melunak. Trump mulai menawarkan perundingan dengan Iran untuk menyelesaikan masalah ini. Akan tetapi, Iran menolak mentah-mentah tawaran itu. Iran mengatakan bahwa Trump sama sekali tidak bisa dipercaya. Bukankah ketegangan terbaru Iran dan Amerika ini dipicu oleh aksi sepihak Trump yang dengan entengnya menyatakan diri keluar dari perjanjian? Hingga kini, Trump tak pernah menyatakan diri bersalah atas tindakan sepihaknya itu. Lalu, bagaimana Iran akan bisa percaya bahwa ke depannya, jika sampai ada perundingan dengan Trump, presiden Amerika itu tidak akan mencabik-cabik apa yang sebelumnya sudah disepakati?

Begitulah kurang lebihnya logika yang dipakai Iran saat menolak tawaran perundingan yang diajukan oleh Trump.

Lebih dari itu, sebenarnya ada dinding psikologis lain masih harus dihancurkan jika dunia masih berharap akan bisa terjalinnya perundingan langsung antara Amerika dan Iran. Secara umum, Iran masih meyakini bahwa segala macam gestur politik Amerika terhadap Iran, tujuannya adalah menggulingkan sistem yang dihasilkan oleh Revolusi Islam empat dekade yang lalu. Artinya, dalam pandangan Iran, Amerika tak akan pernah puas sampai terjadinya revolusi di dalam negeri Iran yang mengganti sistem pemerintahan di Iran saat ini.

Dengan tujuan seperti itu, segala macam ancaman, tawaran, penjatuhan sanksi, pemberian insentif, penguatan kelompok oposisi, dukungan senjata dan intelejen kepada pemberontak, serta beragam kebijakan lainnya (termasuk opsi perang fisik), semua itu hanyalah pilihan-pilihan cara untuk mengganti sistem politik di Iran. Sistem Republik Islam bagi Amerika betul-betul bertentangan dengan “nilai-nilai Amerika”, yaitu demokrasi, HAM, dan kebebasan. Karenanya, sistem tersebut harus ditumbangkan.

Sampai sejauh ini pemerintah Republik Islam Iran menganggap bahwa Amerika, siapapun presidennya, pastilah melihat Iran sebagai musuh yang harus dinihilkan. Jadi, bagaimana Anda bisa berunding dengan pihak yang punya tujuan akhir penumbangan pemerintahan Anda?

Kini Dunia sedang menanti perkembangan selanjutnya dari ketegangan antara Iran dan Amerika dengan harap-harap cemas. Selama ini, Amerika dikenal oleh publik sebagai negara yang arogan, dengan logistik ekonomi dan militer yang sangat kuat.  Saat ini, negara adidaya tersebut dipimpin oleh seorang presiden yang bahkan di dalam negerinya sendiri punya banyak pembenci akibat ulahnya yang kerap main hantam kromo. Tapi, kini Trump menghadapi Iran yang dikenal “keras kepala” serta memiliki cukup banyak opsi perlawanan. Selain menguasai selat strategis Hormuz, Iran juga dikenal punya banyak simpatisan di seluruh dunia. Pun, di dalam negeri, Iran punya soft power yang sangat kuat berupa militansi rakyat untuk membela bangsa dan pemimpin.

Apakah kali ini Iran akan tumbang, atau Amerika yang akan “kena batunya”? Ataukah ketegangan kali ini juga hanyalah riak-riak kecil yang segera kembali akan meredup? Waktulah yang akan mengurai dan menjawab pertanyaan di atas. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*