Waving flag of Indonesia and Syria

LiputanIslam.com –Panasnya pemilu 2019 kembali memakan korban. Kali ini, seorang anak muda berusia 25 tahun bernama Hermawan Sutanto (HS) ditangkap oleh pihak keamanan dengan tuduhan yang tidak main-main: makar. Ancaman hukumannya maksimal seumur hidup.

HS ditangkap setelah videonya saat melakukan demontrasi di depan Kantor Bawaslu Jumat (10 Mei) beredar viral di tengah-tengah masyarakat. Dalam video itu, HS bersumpah akan memenggal kepala Presiden Jokowi demi Indonesia yang lebih baik. HS juga menyebut-nyebut nama Poso, daerah yang selama ini dikenal rawan konflik dan salah satu tempat beraktivitasnya para teroris.

Sungguh sangat memprihatinkan bahwa ujaran kebencian disertai ancaman teror itu dilontarkan ketika ummat Islam baru menjejaki hari-hari awal bulan Ramadhan. Padahal, si pemuda itu jelas sekali membawa atribut agama Islam. Ia berteriak takbir dan mengenakan peci penutup kepala khas orang Islam. Dengan atribut tersebut, janganlah heran jika publik mengasosiasikan aksinya itu dengan kelompok Islam radikal. Baik buruknya aksi-aksi itu akan berdampak secara kuat terhadap citra kelompok Islam ini di mata masyarakat Indonesia.

Ancaman penggal kepala Presiden oleh HS sangat patut diduga merupakan contoh dari kemunculan kelompok Islam radikal dalam pentas sosial politik di Indonesia dalam kurun waktu sekitar tujuh tahun belakangan ini. Polanya sangat patut diduga persis sama dengan apa yang terjadi di Suriah.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, krisis Suriah dipicu oleh isu sektarianisme . Dikatakan bahwa Assad adalah seorang Syiah yang membantai rakyatnya yang Sunni. Maka, terjadilah rekruitmen besar-besaran dalam bentuk panggilan jihad untuk melawan Assad.

Kita ringkas saja apa yang telah di Suriah terjadi. Pertama, rekruitment jihad didasarkan kepada fakta-fakta palsu dan berita hoax. Apa yang dikatakan sebagai pembantaian Muslim Sunni oleh Syiah hanyalah omong kosong. Jadi, seruan jihad itu didasarkan kepada fakta yang sumir, sehingga jihad yang terjadi dikategorikan sebagai fake-jihad.

Kemudian, fakta kedua, para jihadis palsu itu menggunakan kekerasan di luar batas nalar kemanusiaan dalam mempraktekkan apa yang mereka sebut sebagai jihad itu. Mereka berkali-kali mempertontonkan kekejaman yang sangat mengerikan. Mereka dengan bangga menyebarkan video aksi mereka saat memakan jantung korban, membakar hidup-hidup korban secara massal di dalam kerangkeng, hingga pemenggalan kepala siapapun yang mereka kategorikan sebagai musuh, termasuk anak-anak dan perempuan.

Fakta ketiga, akar dari gerakan jihad palsu itu adalah kepentingan ekonomi-politik pihak-pihak tertentu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepentingan dan kemajuan ummat Islam. Motif asli dari upaya penggulingan Assad bukan karena Assad adalah Muslim Syiah Alawiah, melainkan karena posisi Suriah di bawah pemerintahan Assad sebagai negara Arab satu-satunya yang menentang Israel. Juga ada motif perebutan jalur pipa gas untuk suplai energi ke Eropa.

Itulah yang pernah terjadi di Suriah. Dan sepertinya, pola seperti itu pula yang menjadi konteks munculnya seruan ‘penggal kepala Presiden’ oleh HS. Ia menjadi sangat geram dan emosional dengan Presiden akibat berita-berita palsu yang ia terima terkait dengan sosok dan sepak terjang Jokowi. Lalu, muncullah ujaran yang sama: lakukan kekerasan kepada siapapun yang ia benci. Bedanya, kalau di Suriah hal itu sudah dilakukan, sedangkan yang dilakukan HS di Jakarta barulah sebatas ujaran dan ancaman.

Tinggal satu pola yang harus kita cermati. Pertanyaannya adalah: betulkah di belakang semua itu sebenarnya kepentingan politik dari pihak-pihak yang sebenarnya tidak ada urusannya dengan kemajuan agama Islam? Betulkah ummat Islam hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pihak lain? Waktulah yang akan mengurai kebenaran tesis ini. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*