media radikalKementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memblokir sejumlah situs atas dasar rekomendasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). BNPT sendiri menyatakan bahwa situs-situs yang direkomendasikan agar diblokir tersebut selama ini terbukti menyebarkan konten berita dan juga artikel berisikan ajaran Islam radikal. Radikalisme secara sederhana ditandai dengan dukungan terhadap aksi Al-Qaeda, ISIS, atau kelompok teroris sejenisnya. Selain itu, indikasi radikalisme adalah penyebaran faham takfiri, yaitu sebuah prinsip yang dengan sangat mudahnya menjatuhkan vonis sesat dan kafir kepada kelompok di luar mereka.

Jika apa yang disampaikan oleh BNPT itu memang benar, yaitu bahwa situs-situs tersebut menunjukkan dukungan terhadap terorisme dan juga dengan mudahnya menjatuhkan voni sesat kepada kelompok yang tidak sealiran, tentu saja langkah Kemkominfo itu harus didukung. Banyak sekali kerugian yang diderita agama Islam akibat perilaku terorisme. Salah satunya adalah buruknya citra Islam di mata publik. Adapun faham takfiri, tentu saja ini juga sesuatu yang sangat buruk di Bumi Indonesia yang secara kultural hidup dalam harmoni dan toleransi.

Kita di sini ingin menambahkan satu lagi alasan terkait perlunya tindakan terhadap media-media semacam itu, yaitu terkait dengan fitnah dan kebohongan yang kerap mereka sebarkan. Liputan Islam lewat rubrik Tabayyun berkali-kali memberikan bantahan atas kebohongan dan fitnah yang kerap dipertontonkan media-media tersebut. Misalnya saja, mereka meng-upload foto hukuman mati atas bandar narkoba di Iran, tapi dalam keterangannya, dikatakan bahwa yang digantung itu adalah orang Sunni yang dihukum karena akidah mereka. Fitnah-fitnah seperti ini bukan sekali dua kali dipertontonkan oleh media-media tersebut, melainkan puluhan bahkan ratusan kali.

Kebohongan dan fitnah adalah hal yang sangat buruk. Fitnah bahkan disebut lebih kejam daripada pembunuhan. Dengan fitnah, timbul kebencian tak berdasar. Fitnah juga salah satu bentuk pembodohan kepada masyarakat. Media penyebar fitnah, alih-alih menjalankan fungsi edukasi, malah mengajarkan kebodohan kepada masyarakat. Tentu media seperti ini semestinya mendapatkan tindakan hukum.

Tentu kita juga tidak menyangkal bahwa di balik konten radikalnya, situs-situs tersebut juga memuat ajaran-ajaran Islam yang bagus. Ada sejumlah artikel tentang akhlak dan keluarga yang sangat bagus dijadikan panduan bagi kaum Muslimin. Penjelasan mengenai hukum fiqih sangat membantu kaum Muslimin yang ingin menjalani kehidupan yang Islami. Kritikan dan kecaman mereka terhadap gaya hidup hedonis, pornografi, dan arogansi Barat (Amerika dan Zionis) adalah di antara hal-hal positif yang terdapat pada situs-situs tersebut. Hanya saja, keberadaan konten-konten yang bagus itu tidak bisa serta-merta dijadikan pembenaran atas perilaku radikalisme mereka. Tokh kita bisa tetap kritis terhadap Barat tanpa perlu menjadi teroris atau takfiri.

Kemudian, catatan lainnya adalah bahwa meskipun situs-situs itu terbukti menyebarkan radikalisme, cara penindakannya pun juga harus jauh dari gaya-gaya radikal. Mestinya, dibuat dulu undang-undang yang memberikan batasan jelas terkait apa yang dimaksud dengan radikalisme. Mesti juga dijelaskan tahapan sanksi yang diberikan kepada pengelola situs yang terbukti radikal. Baru setelah itu dilakukan tindakan hukum yang sah. (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL