LiputanIslam.com – Ketika berbicara tentang keimanan di hati dan praktik lahiriah, Islam membagi manusia menjadi empat golongan. Ada orang mukmin, yaitu orang yang hatinya beriman dan praktiknya pun ia melakukan amal ibadah yang sesuai dengan apa yang ia percaya. Adapun kafir bermakna orang yang hatinya tidak beriman, dan tentu saja, ia tidak beribadah.

Ada lagi yang disebut fasik (fasiq), yaitu orang yang hatinya beriman tapi, karena sesuatu dan lain hal (misalnya karena godaan hawa nafsunya terlampau kuat), ia tidak mempraktikkan amal ibadah sesuai dengan keyakinannya. Misalnya, orang yang sebenarnya beriman, tapi ia tidak salat, atau, ia meminum khamar.

Terakhir, ada yang disebut dengan munafik (munafiq), sebuah fenomena yang sangat dikecam dalam Al-Quran. Satu surah khusus turun dengan nama ini (Al-Munafiqun). Surah ini bahkan lebih panjang dibandingkan dengan surah bernama Al-Kafirun (terkait dengan orang-orang kafir). Ini bisa menjadi indikasi bahwa kemunafikan itu lebih berbahaya buat Islam dibandingkan dengan kekafiran. Dan ini juga menunjukkan bahwa di tengah-tengah ummat Islam, fenomena kemunafikan lebih banyak dibandingkan dengan fenomena kekufuran.

Tapi, apakah kemunafikan itu? Setelah Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah kaum Musyrikin mengalami kekalahan berat dalam perang menghadapi Muslimin. Saat itu, ada sebagian warga Makkah dan Madinah yang masuk Islam, meskipun hati mereka tak pernah menerima Islam. Tindakan itu dilakukan demi menyelamatkan jiwa dan harta mereka, atau demi mencapai posisi dan kedudukan di antara Muslimin. Mereka mengaku dirinya Muslim dan memoles diri dengan warna yang sama sebagaimana Muslimin lain.

Hipokritas, hati bercabang, dan bermuka dua, pada dasarnya adalah fenomena yang selalu dihadapi oleh setiap revolusi dan perubahan-perubahan sosial. Karena itu, jangan sekali-kali mengira bahwa semua orang yang menunjukkan keimanan dan kesetiaan serta kebersamaan, lalu hatinya pun memiliki konsistensi yang sama. Betapa banyak orang-orang yang pada lahirnya sangat Islami, namun di dalam hati, sangat memusuhi Islam. Iman adalah perkara hati, bukan lidah dan perilaku. Oleh sebab itu, untuk mengenali orang-orang tertentu, kita tidak bisa mencukupkan dengan pernyataan-pernyataan lahiriah mereka.

Karena itu, bisa jadi di tengah-tengah komunitas mereka yang meneriakkan “membela Islam” pun ada orang-orang munafik. Itu terjadi seandainya sikap itu diambil bukan karena ingin mengharap ridha Allah, melainkan dalam rangka mengejar jabatan politik atau konsesi ekonomi tertentu.

Kita melihat fenomena di Timur Tengah, khususnya di Suriah, bagaimana orang-orang menamakan dirinya mujahid, berjanggut panjang, berteriak takbir, tapi ternyata keberadaan mereka diinisiasi dan didanai oleh AS dan Zionis. Mereka mengibarkan bendera bertuliskan Allah, Rasulullah, dan juga lafaz-lafaz ‘Islami’ lainnya. Lalu, banyak yang terkecoh dan bersimpati kepada mereka. Padahal, di sisi lain, ada banyak sekali perilaku mereka yang terbukti sangat jauh dari esensi agama Islam.

Di Indonesia, kelompok-kelompok itu ada dan bertebaran. Kita mengenal para koruptor yang pulang pergi berhaji. Ada juga penghisap darah kaum mustad’afin yang mengenakan peci dan baju takwa. Lalu, kita juga mengenal para para politisi yang mengaku pembela Islam dan ulama, tapi, itu semua dilakukan demi meraup suara, demi meraih kursi dan jabatan mereka. Adalah sebuah kebodohan jika kita serta-merta mempercayai begitu saja sikap religius yang mereka tampakkan.

Adapun soal bendera berlafaz tauhid yang dibakar, dalam konteks tulisan ini, pertanyaannya adalah: mungkinkah sebuah bendera berlafaz tauhid, tapi sebenarnya bendera tersebut dibuat dengan tujuan jahat? Tentu saja jawabannya sangat mudah: mungkin-mungkin saja. Kenapa tidak? Bahkan indikasinya, karena jenis tulisan dari lafaz tauhid itu persis sama dengan jenis tulisan yang menjadi lambang sejumlah milisi teroris di Suriah (di antaranya Jabhah Al-Nusrah), maka banyak sekali pengamat yang meyakini bahwa bendera ormas pemilik bendera tersebut memang terafiliasi dengan kelompok teroris. Sangat mungkin bahwa bendera tersebut justru malah indikator dari kemunafikan di zaman modern.

Perlu segera ditambahkan bahwa seandainyapun bendera tersebut sebenarnya adalah topeng kemunafikan, pembakaran atasnya bukanlah tindakan yang bijak. Apalagi, pembakaran itu memang telah menciptakan kegaduhan yang masif. Terlepas juga dari asumsi bahwa memang ada upaya provokasi dari kelompok tertentu untuk membuat kegaduhan. (os/editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*