LiputanIslam.com –Papua kembali bergejolak. Rentetan kejadian yanag bermula dari kerusuhan di Malang dan Surabaya berlanjut hingga pembakaran gedung DPRD di Manokwari. Kabarnya, kerusuhan juga mulai merembet ke kota-kota besar di pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Kita melihat, ada sekelompok orang yang punya sentimen terhadap orang-orang Papua yang merasa mendapatkan momentum untuk mengekspresikan ketidaksukaannya itu. Di sisi lain, orang-orang Papua sendiri yang merasa bahwa selama ini mereka diperlakukan dengan tidak adil, juga merasa mendapatkan momentum. Tak main-main. Mulai ada suara-suara untuk menuntut diadakannya referendum.

Sebenarnya, kerusuhan Papua ini tidak memiliki alasan yang otentik. Secara sosiologis, kultural, dan juga politik, Papua sudah terintegrasi dengan NKRI. Secara umum, masyarakat Indonesia di seluruh pelosok negeri tidak punya masalah dengan orang-orang Papua. Sebagai contoh, kita semua turut bangga ketika ada atlet nasional asal Papua yang berprestasi mengharumkan nama Indonesia. Para atlet asal Papua pun merasa bangga jika terpilih mewakili Indonesia untuk bertarung di even-even internasional.

Maka, ketika ada letupan dan gesekan antara orang-orang Papua dengan sesama anak bangsa lainnya yang berujung kepada gerakan disintegrasi, kita patut curiga bahwa tuntutan itu pastilah tidak otentik.

Dan benar saja. Kasus di Malang dan Surabaya ternyata dipicu oleh kabar yang ternyata tidak benar alias hoax. Kabar yang beredar, ada bendera merah putih yang dibuang ke selokan. Lalu, muncul kesan kuat bahwa mayoritas mahasiswa Papua yang berada di dua kota itu adalah pendukung separatisme. Kemudian, terjadilah penyerbuan yang melibatkan aparat keamanan bersama sejumlah ormas. Padahal, sebagaimana yang diklarifikasi oleh orang-orang Papua sendiri, seandainyapun memang ada aksi pelemparan Sang Saka ke selokan, itu dilakukan oleh oknum yang sama sekali tidak mewakili aspirasi warga Papua.

Modus penyebaran hoax ini juga menandai kerusuhan di Manokwari. Ada berita yang tersebar bahwa warga Papua diperlakukan denga sangat buruk. Bahkan, beredar isu yang menyatakan bahwa ada warga Papua yang meninggal dunia dalam kerusuhan di Jawa Timur itu. Intinya, dalam pandangan para pendemo, warga Papua telah diperlakukan dengan tidak adil dan tidak manusiawi. Padahal, sebagaimana yang kemudian diklarifikasi oleh Gubernur Khofifah, aksi-aksi di Malang dan Surabaya itu adalah ulah segelintir oknum yang sama sekali tidak mewakili pandangan dan sikap warga Jawa Timur secara keseluruhan, apalagi jika disebut sebagai cerminan pandangan masyarakat Indonesia. Tak lupa, Khofifah pun menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi di wilayah pemerintahannya itu.

Kita melihat bahwa aksi-aksi kerusuhan itu digosok dengan hoax di sana, dan dibombardir dengan hoax lainnya di sini. Akibatnya, muncul kesalahpahaman dan kemarahan. Jika dibiarkan, gesekan liar ini akan menjadi api yang melalap sendi-sendi kesatuan bangsa ini.

Kita tentu berharap, semoga aksi kerusuhan ini bisa segera mereda. Kita harus sadar bahwa kemerdekaan bangsa ini diperoleh dengan susah payah, dengan menenun benang-benang persatuan dari seluruh anak bangsa. Sangat disayangkan bahwa hanya dengan pola-pola lama, yaitu penyebaran fitnah, kebohongan, dan politik pecah-belah, persaudaraan kita sebagai sesama anak bangsa menjadi porak poranda. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*