LiputanIslam.com – Palestina adalah amanat kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia. Sejak awal kemerdakaan, para founding fathers kita telah merumuskan haluan kehidupan kebangsaan negara Indonesia, yang salah satu butir terpentingnya adalah penghapusan segala bentuk penjajahan di atas muka bumi ini. Jadi, jauh sebelum negara-negara Barat “meributkan” perkataan Presiden Iran Ahmadinejad di awal milenium 2000-an terkait dengan penghapusan rezim penjajah Zionis, pembukaan konstitusi kita secara tegas menyatakan hal yang sama. Esensinya sama, yaitu sama-sama menghendaki penghapusan penjajahan.

Akhir-akhir ini, Palestina kembali mendapatkan perhatian. Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memindahkan kedutaan negaranya ke kota Jerussalem menjadi semacam blessing in disguise bagi gerakan resistensi. Keputusan itu memang pahit dan menciptakan kegeraman yang sangat meluas. Bahkan, akibat keputusan itu, berbagai demonstrasi digelar di kawasan Gaza, yang ternyata kemudian menimbulkan korban jiwa di kalangan para pejuang Palestina. Akan tetapi, keputusan itu juga membuat kembali tertujunya kembali perhatian dunia, termasuk kaum Muslimin Indonesia kepada Palestina. Ini menandai kembalinya akal sehat, hati nurani, dan kemanusiaan yang benar. Kita kembali tersadarkan betapa ada satu amanat besar bangsa kita yang masih terabaikan.

Selama beberapa tahun terakhir ini, ghirrah keislaman sebagian ummat Islam Indonesia ditujukan untuk objek yang salah. Banyak di antara anak-anak bangsa, para pemuda yang memiliki semangat membela Islam, telah tertipu oleh muslihat licik khas penjajah: pecah-belah dan kuasai! Akhirnya, tenaga, harta, dan bahkan nyawa mereka korbankan untuk memerangi sesama Muslim. Lebih parah lagi, Muslim yang diperanginya itu (Suriah) adalah negara yang selama ini merupakan musuh utama Zionis Israel.

Ternyata, semangat saja tidak cukup. Tanpa kewaspadaan dan kecerdasan, semangat yang ada hanya akan menjadi kekuatan destruktif yang melemahkan sendi-sendi perjuangan sendiri. Dan, lihatlah, bagaimana selama beberapa tahun terakhir ini, energi ummat Islam terkuras habis untuk sesuatu selain pembelaan terhadap Palestina.

Dampak negatif lain dari krisis Suriah adalah munculnya sikap sinis dan apatis terhadap segala hal yang berbau Islam dan jihad. Banyak yang melakukan generalisasi bahwa semua yang berbau jihad Islam adalah palsu. Akibatnya, ketika perhatian masyarakat kembali tertuju ke Palestina, tak sedikit yang bersikap sinis dan apatis.

Padahal, Palestina sejatinya adalah masalah isu kemanusiaan dan keadilan. Palestina di saat ini adalah potret bangsa kita saat masih di bawah cengkeraman penjajahan Belanda (dan Jepang). Terlepas dari agama apapun yang dianut oleh mereka, Palestina adalah bangsa yang saat ini masih berada di bawah cengkeraman penjajahan Zionis Israel. Palestina adalah satu-satunya bangsa di dunia ini yang masih berstatus sebagai koloni dari sebuah bangsa lain.

Fakta menunjukkan bahwa dukungan terhadap Palestina tidak hanya datang dari Dunia Islam. Meskipun Israel menggunakan mesin propaganda yang sangat canggih, tetap saja kejahatan mereka tidak bisa ditutup-tutupi sehingga seluruh dunia menunjukkan kemuakan luar biasa kepada rezim rasis ini. Bahkan, kebencian terhadap Zionis Israel juga datang dari kalangan internal kaum Yahudi. Neturei Karta adalah lembaga rabi Yahudi yang  tak pernah berhenti menyuarakan penentangan kerasnya terhadap Zionis Israel. Kalau komunitas lain saja begitu keras menyuarakan solidaritas bagi bangsa Palestina, tentu saja kita sebagai bangsa Muslim mestinya memiliki solidaritas yang lebih kental dibanding mereka.

Solidaritas terhadap Palestina akan terus kita gelorakan sampai saudara-saudara kita itu meraih kemerdekaan yang diidam-idamkan. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*