LiputanIslam.com – Para penstudi ilmu-ilmu keislaman pastilah mengenal nama Syeikh Ramadhan Al-Buthi. Dia seorang ulama besar Suriah. Namanya semakin dikenal setelah gugur syahid menjadi korban aksi teror Maret 2013. Seminggu sebelum menjadi korban teroris, Syeikh Buthi mengeluarkan pernyataan yang ditujukan kepada orang-orang yang merasa sedang berjihad menegakkan agama Islam.

Syeikh Buthi menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tertipu, karena terprovokasi untuk mengangkat senjata untuk kemudian menciptakan prahara, atas nama agama. Menurut Syeikh Al-Buthi, alih-alih membela Islam, tindakan mereka itu justru adalah sebuah kejahatan sangat besar yang dikutuk oleh Islam. Untuk itu, beliau menyeru orang-orang itu agar segera bertobat.

Sejatinya, seruan almarhum Syeikh Al-Buthi itu bersifat universal, melintasi zaman dan tempat. Di manapun ada slogan atau seruan “membela Islam”, “membela ulama”, “jihad”, dll., kita tidak serta merta harus mempercayainya. Bisa jadi itu adalah seruan palsu; sekedar jubah agama yang dipakai dengan tujuan-tujuan yang buruk.

Inilah hal yang saat ini sedang terjadi di negeri kita. Bermunculan kelompok-kelompok radikal dan intoleran dengan slogan menegakkan Islam, jihad, dan membela agama Allah. Mereka meneriakkan kecaman dan ancaman ke sana ke mari. Siapapun yang tidak sepaham dengan Islam versi mereka, harus siap-siap terkena libas. Salah satu isu yang mereka kemukakan adalah pendirian negara khilafah seraya menyebut konsep Pancasila dan NKRI sebagai thaghut.

Lalu, ketika Kapolri Jenderal Tito Karnavian, orang yang paling bertanggung jawab dalam hal penegakan hukum dan keamanan dalam negeri, secara tegas akan menindak kelompok tersebut, Jenderal Tito malah disuruh bertobat. Tak tanggung-tanggung, mereka juga mempertanyakan “agama” yang dianut Jenderal Tito. Jadi, keputusan Jenderal Tito untuk menjalankan tugasnya menjaga NKRI dan Pancasila disebut dosa, bahkan indikasi kemurtadan. Bagi kelompok-kelompok itu, para penentang “paham keislaman mereka” adalah penentang Islam itu sendiri.

Berkaca dari nasehat almarhum Asy-Syahid Syeikh Ramadhan Al-Buthi, justru kelompok-kelompok itulah yang harus disadarkan. Apa yang dilakukan oleh Jenderal Tito itu sudah benar, berdasarkan negara maupun agama Islam yang dianutnya. Justru kelompok itulah yang melakukan sejumlah dosa dan kesalahan. Sikap fanatik buta, memprovokasi, intoleran, menebar kekerasan (ingat, mereka adalah pendukung para jihadis-teroris di Suriah), menebar kebohongan dan fitnah, serta menuduh orang lain yang tak sepaham sebagai orang yang telah keluar dari agama, adalah bentuk dosa dan kesalahan tersendiri.

Sama seperti Syeikh Al-Buthi saat berseru kepada para jihadis-teroris, kita juga berseru kepada kelompok-kelompok intoleran itu, khususnya kepada orang-orang awam mereka: “Kalian yang telah tertipu, bertobatlah!” (editorial/liputanislam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL