damaiHari ini, ummat Kristiani di seluruh dunia merayakan Natal. Mereka percaya bahwa di hari ini, Yesus, Sang Juru Selamat, telah lahir ke dunia. Dia disebut Sang Juru Selamat karena keberadaannya sebagai penyelamat ummat manusia di saat itu dari kezaliman zaman. Dia dipercaya membawa damai dan kasih sayang bagi ummat manusia. Yesus, Kristen, Juru Selamat, kasih-sayang dan damai menjadi kosakata yang selalu saling berkait. Tema-tema perayaan Natal tidak pernah jauh dari kelima kata ini.

Keselamatan serta tebaran damai dan kasih-sayang tentulah menjadi dambaan seluruh ummat manusia. Dunia yang tenteram, di mana para penghuninya saling menebarkan perdamaian dan cinta kasih adalah impian setiap orang, apapun agama dan rasnya, di sepanjang zaman. Jadi, damai dan kasih sayang bukanlah tujuan yang hanya dimonopoli oleh ummat Kristiani.

Sekarang, marilah kita tengok dunia kita hari ini. Apakah perdamaian dan kasih-sayang sudah menjadi ciri kehidupan ummat manusia? Rasanya kita dengan mudah sepakat bahwa situasi tersebut masih jauh panggang dari api. Ketenteraman dan perdamaian masih hanya dimonopoli oleh sebagaian kecil ummat manusia. Itupun terkadang ketenteraman, kesejahteraan, dan kedamaian tersebut berhasil diwujudkan dengan cara yang ironis, yaiitu dengan cara menindas dan mengorbankan ketenteraman dan kedamaian kelompok lain.

Perdamaian dan ketenteraman sudah lama terampas dari bumi Palestina, Irak, Afghanistan, Suriah, dan sejumlah kawasan lainnya. Perang dan eksploitasi kekayaan alam menjadi harga yang harus dibayarkan oleh negara-negara Dunia Ketiga demi ambisi segelintir orang rakus; rakus akan harta kekayaan, rakus akan popularitas, dan rakus akan kekuasaan. Segelintir orang di muka bumi ini bersenang-senang dengan kekayaan yang bertimbun-timbun, dan hampir mati gara-gara kekenyangan; sementara milyaran orang lainnya mengais-ais makanan dari apa yang tersisa, demi agar bisa bertahan hidup dan terhindar dari mati kelaparan.

Sungguh sangat disayangkan bahwa orang-orang kaya dan kaum eksploitir itu sebagian (besar)nya adalah mereka yang mengaku sebagai pengikut Al-Masih. Mereka merayakan Natal serta menyebarkan pesan-pesan damai dan kasih-sayang sambil menjalankan roda bisnis yang mencekik kaum yang lemah.

Para pemimpin Gedung Putih memegang jabatan politik setelah disumpah di bawah Kitab Injil. Secara tradisional, presiden AS selalu berasal dari kalangan Protestan. Ini semua menandakan aura kuat agama Kristen dalam sistem politik AS. Tapi, lihatlah, betapa sangat banyak bencana yang ditimpakan oleh para politisi di Gedung Putih terhadap ummat manusia di muka bumi.

Di saat ummat Kristiani merayakan Natal, inilah sepertinya harapan paling hakiki yang datang dari pihak luar. Kita berharap bahwa para pemimpin dunia yang menganut agama Kristen kembali merenungkan esensi dari kehadiran Al-Masih. Jika Al-Masih hadir ke dunia demi menebarkan damai dan kasih-sayang, itulah yang semestinya Anda tiru. Jangan malah melakukan sebaliknya. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL