LiputanIslam.com –Amerika terlihat makin bingung. Pesawat mata-mata tanpa awak (drone) RQ-4 Global Hawk milik Angkatan Laut negara itu ditembak jatuh oleh rudal Iran di atas Selat Hormuz. Pesawat yang disebut-sebut memiliki teknologi tercanggih di dunia itu memiliki harga sangat fantastis, yaitu USD 130 juta atau lebih dari Rp 1,8 triliun.

Peristiwa ini menarik perhatian banyak pihak di dunia. Keberanian Iran menembak jatuh pesawat militer AS menunjukkan bahwa negara ini punya keberanian dan ketegasan yang tak banyak diduga orang. Berkonfrontasi fisik secara langsung melawan AS yang dikenal memiliki kekuatan militer terkuat di dunia, tentulah butuh nyali yang sangat besar.

Dalam banyak kasus lainnya di dunia, penembakan sebuah alat perang oleh negara lain pastilah akan menciptakan ketegangan bahkan bisa jadi dianggap sebagai sebuah pernyataan perang. Sebagai contoh, ketika Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Tjiptadi-381 ditabrak oleh Coast Guard Vietnam di Laut Natuna Utara, 27 April lalu, kedua negara sempat bersitegang. Melalui Kementerian Luar Nageri, Indonesia sempat melayangkan protes keras kepada Vietnam. Para netizen kedua negara juga saling melontarkan perang urat syaraf yang cukup panas.

Ini baru insiden penabrakan yang sama sekali tidak menciptakan kerugian. Akan tetapi, dampaknya lumayan buruk. Bagaimana jika yang terjadi adalah insiden penembakan yang menghancurkan sebuah pesawat mata-mata tercanggih? Tentu saja buntutnya akan sangat panjang dan berbahaya.

Para pengamat lalu menduga-duga, apa gerangan yang membuat Iran begitu berani berkonfrontasi dengan Amerika. Apakah hal ini menunjukkan Iran sudah kehilangan akal sehatnya sehingga berani memulai sebuah konfrontasi yang berakibat buruk kepada kehancuran diri sendiri? Tidakkan penembakan pesawat drone itu adalah tindakan bunuh diri?

Faktanya, setelah beberapa hari berlalu dari insiden itu, Amerika tidak menunjukkan reaksi keras yang biasanya ia tunjukkan jika ‘kehormatan’ negara itu terusik. Yang muncul malah kesan “bingung”. Para pejabat tinggi AS malah saling berdebat satu sama lain terkait dengan tindakan apa yang seharusnya diambil untuk merespon penembakan pesawat itu.

Bagi sejumlah pengamat lainnya, kebingungan Amerika ini bisa difahami. Insiden penembakan drone itu menunjukkan bahwa Iran memiliki teknologi militer sangat canggih hingga bisa ‘menjerat’ sebuah pesawat drone tercanggih di dunia. Kemampuan Iran ini membuat banyak mata pakar militer dunia terbelalak. Peristiwa ini menyisakan misteri dan tanda tanya besar terkait dengan teknologi rudal apa yang sebenarnya dipakai Iran untuk menembak jatuh drone canggih AS tersebut. Peristiwa ini sungguh di luar perkiraan semua ahli militer.

Analisis kemudian berkembang menjadi lebih liar. Rudal Khordad-3 yang dipakai untuk melumpuhkan drone AS itu adalah sebuah sistem teknologi yang tidak dikenal. Sebagai pesawat mata-mata paling canggih, Drone RQ-4 Global Hawk pastilah dilengkapi dengan sistem yang membuat pesawat itu tak mudah dideteksi, apalagi sampai terperangkap oleh rudal. Faktanya, sistem penjagaan drone itu luluh lantak oleh rudal Iran.

Maka, muncul dugaan: jangan-jangan, selain Rudal Khordad-3, Iran juga punya sistem senjata canggih lain yang belum dikenal oleh AS atau militer negara lainnya di dunia. Misteri inilah yang tampaknya membuat Amerika terlihat bingung dalam mengambil tindakan. Bahkan, ketika Iran secara terang-terangan mengumumkan keberhasilannya dalam melakukan pengayaan atas cadangan uranium, belum terlihat reaksi galak Amerika sebagaimana biasanya. (os/editorial/liputanislam)

Baca:
Pejabat Iran Nyatakan Penembakan Drone AS Adalah Pesan Bagi Orang yang Takut Kepada AS

Ini Analisis CNN Tentang Ditembaknya Nirawak AS Senilai 110 Juta Dolar oleh Iran

Ini Dia Senjata Buatan Iran Yang Baru Saja Merontokkan Nirawak Pengintai AS

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*