tahun baruKita kembali menemui satu titik dalam lintasan waktu yang kita maknai secara bersama sebagai pergantian tahun. Tahun 2015 berganti dengan tahun tahun 2016. Tahun 2015 adalah waktu-waktu yang telah kita lewati, dan tahun 2016 adalah waktu yang akan kita jalani.

Pergantian tahun ini bisa dimaknai dengan hal yang positif, yaitu ketika perubahan waktu itu disertai dengan adanya keinginan dan tekad untuk melakukan atau mencapai sesuatu yang baru dan baik.Menetapkan target keberhasilan di masa depan adalah ciri manusia yang benar, karena menetapkan target berarti juga memikirkan langkah-langkah menuju ke arah perwujudan target tersebut. Ini berarti kita tidak menyerahkan nasib kita ke tangan orang lain. Kita berarti memutuskan bahwa nasib kita ada di tangan kita sendiri.

Dalam konteks agama Islam, memikirkan apa yang kita perbuat dan dihubungkan dengan apa yang akan kita peroleh di masa mendatang adalah ciri orang yang beriman dan bertakwa. Alquran sendiri menegaskan hal ini. Manusia mestinya memperhatikan dampak dari apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Wal tanzhur nafsun maa qaddamat li ghadin (Al-Hasyr: 18). Meskipun maksud “hari esok” pada ayat ini lebih ditujukan kepada hari Kiamat, tapi para ulama tidak menafikan bahwa ayat ini bisa juga digunakan sebagai landasan bimbingan terkait “hari esok di dunia”.

Tantangan di tahun 2016 tentu tidak sedikit. Hal itu tidak terlepas dari situasi yang sudah terjadi selama tahun 2015lalu. Perpecahan di antara sesama kelompok Islam masih sangat parah. Tantangan lainnya adalah kondisi laten mayoritas kaum Musliminsebagai kaum yang lemah dan tertindas alias menjadi kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Kaum Muslimin di negeri ini masih digolongkan sebagai kaum yang lemah: lemah secara ekonomi, lemah secara intelektual, dan lemah dalam struktur sosial.

Bisa dikatakan bahwa belum ada perkembangan siginifikan pada ummat Islam di tahun 2015 ini dibandingkan dengan tahun 2014 sebelumnya. Karena itulah, tantangan yang paling besar hingga kini masih berupa aktivitas kelompok militan takfiri, khususnyaISIS. Selain menimbulkan teror dan perpecahan (dengan kegemarannya menjatuhkan stigma kafir dan sesat kepada kelompok Muslimin lain), kelompok-kelompok seperti ini, berikut berbagai derivasinya, jelas telah sangat mencoreng muka ummat Islam.

Syukurlah, kaum Muslimin Indonesia umumnya memiliki kewaspadaan yang tinggi atas keberadaan kelompok-kelompok seperti ini. Ini bisa dibuktikan dari pernyataan resmi dua ormas Islam terbesar di Indonesia dalam muktamar mereka masing-masing yang terselenggara pada tahun 2015 ini. Nahdhatul Ulama akhirnya memilih kembali KH Said Aqil Siradj sebagai ketua PBNU. Kiai Aqil Siradz selama ini dikenal sebagai tokoh yang sangat menentang sikap-sikap ekstrem. Bahkan dalam laporan pertanggungjawabannya, beliau secara tegas memberikan warning terhadap bahaya faham Wahhabi di kalangan internal NU.

Adapun Muhammadiyah, melalui rekomendasi yang dikeluarkan forum muktamar, meminta secara tegas kepada umat Muslim agar tidak mudah terpengaruh terhadap provokasi pecah-belah. Secara khusus, Muhammadiyah menyoroti munculnya gejolak antara kaum Sunni dan Syiah di Indonesia. Untuk mencegah semakin meluasnya konflik Sunni dan Syiah itu Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk mengadakan dialog intraumat Islam serta mengembangkan pemahaman tentang perbedaan agama dan bersosialisasi meminimalisir konflik horizontal.

Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan barakah yang lebih kepada kaum Muslimin di tahun 2016 ini. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL