LiputanIslam.com –Tak sampai sepekan, Indonesia diguncang dua aksi teror. Setelah melakukan aksi biadab penyanderaan dan pembunuhan secara keji di Rutan Salemba (Komplek Mako Brimob), para teroris kembali melakukan aksi yang tak kalah kejinya, yaitu meledakkan bom di tiga gereja yang terdapat di kota Surabaya. Sampai tulisan ini diturunkan, korban jiwa akibat ledakan tersebut diberitakan berjumlah empat belas orang, termasuk para pelakunya. Yang membuat miris, kali ini tindakan teror diduga melibatkan anak kecil berusia sepuluh tahun sebagai bomber, yang tentunya juga ikut tewas. Ini tentu adalah tindakan yang harus dikutuk sekeras-kerasnya.

Sangat disayangkan bahwa banyak sekali pihak seperti pihak keamanan (kepolisian) dan juga media-media independen (termasuk Liputan Islam) yang sudah mewanti-wanti betapa peristiwa-peristiwa ini sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak. Dengan memperhatikan segala macam preseden serta pola-pola gerakan kaum teroris, tak sulit untuk menduga bahwa suatu waktu mereka akan melakukan tindakan kejinya di Indonesia. Sejak lama kami sampaikan bahwa pengabaian terhadap krisis Suriah berarti membiarkan aksi terorisme merajalela di Bumi Nusantara ini.

Marilah kita melihat masalah ini dari fakta-fakta yang aksiomatis, yaitu bahwa aksi-aksi terorisme yang terjadi dalam kurun waktu enam tahun terakhir ini, , termasuk dua aksi teroris di Rutan Salemba dan juga di Surabaya, pastilah ada hubungannya dengan krisis Suriah.

Awalnya adalah adanya kepentingan kaum imperialis modern (Amerika, Zionis Israel, dan sekutu-sekutunya) untuk menaklukkan para penentang. Suriah, satu-satunya negara Arab yang konsisten menentang Zionis Israel, pun dijadikan target. Dibuatlah isu pertentangan madzhab Sunni-Syiah, lalu hoaks dan fitnah pun disebar. Setelah itu, para jihadis dari sekitar seratus negara dunia (termasuk Indonesia) difasilitasi untuk datang ke Suriah dalam rangka “berjihad’ menegakkan khilafah dan meruntuhkan “rezim thaghut” Bashar Assad yang mereka sebut menindas rakyat Sunni. Milyaran dolar dikucurkan untuk memberikan bantuan senjata dan logistik (termasuk bantuan pencitraan lewat media dan lembaga kemanusiaan).

Setelah bertempur selama lebih dari enam tahun, para jihadis makin terpojok dan bisa dikatakan sudah kalah. Mereka gagal mendirikan khilafah. Tapi, mereka berhasil menciptakan prahara kemanusiaan yang tak terkira di Bumi Syam. Sebagai konsekwensinya, mereka pulang ke negara masing-masing. Pihak kepolisian Indonesia memiliki data bahwa jumlah alumni jihadis Suriah yang sudah pulang ke Tanah Air mencapai angka 500 orang lebih; sebuah angka yang cukup mengerikan. Mereka pulang dengan pengalaman bertempur dan cara-cara menciptakan teror di tengah-tengah masyarakat. Mereka juga membawa pengalaman terkait dengan pola-pola rekruitmen yang sangat teruji. Maka, angka 500 ini bisa berkembang biak menjadi berkali-kali lipat. Saat ini, sangat mungkin jumlah teroris yang siap melakukan aksinya mencapai angka ribuan orang.

Apakah kita cukup mengantisipasi perkembangbiakan mereka itu? Sayangnya tidak. Kepentingan politik dan ekonomi segolongan elit negara ini membuat kita melakukan pembiaran terhadap bibit-bibit radikalisme dan intoleransi. Bahkan, sangat kuat ditengarai bahwa sebagian kelompok politik mengambil manfaat dari keberadaan kelompok-kelompok radikal itu untuk kepentingan politik mereka. Hate speech dan fitnah dibiarkan bertebaran dan memakan korban.

Lalu, ketika faham  dan ujaran radikalisme itu sudah mewujud dalam bentuk tindakan, ketika belum punya payung hukum yang memadai sehingga kepolisian masih dihadapkan kepada situasi serba salah dalam melakukan tindakan penanggulangan atas aksi-aksi potensial teman-teman mereka. Bayangkan, polisi punya data tentang mereka yang pulang dari pertempuran di Suriah. Akan tetapi, polisi tidak bisa dengan serta menangkap mereka, karena memang tidak ada payung hukum yang membenarkan penangkapan.

Para elit politik, khususnya DPR RI yang sudah lebih dari dua tahun menggodok revisi UU anti terorisme, memiliki tanggung jawab yang sangat signifikan dalam kasus ini. (os/edititorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL