happy-independence-day-indonesiaHiruk-pikuk sengketa pilpres sedang disidangkan di Mahkamah Konstitusi (MK) dan juga Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Perhatian publik juga terbetot ke arah persoalan kelompok radikal ISIS (atau IS). Di sisi lain, kaum Muslimin Indonesia juga masih terus memantau duka derita warga Gaza, Palestina, yang terus berjuang melawan penindasan Zionis Israel.

Ketiga peristiwa ini memang menarik perhatian publik. Ketiganya banyak dibicarakan di media-media sosial dan media-media massa. Hanya saja, sebagai bangsa yang besar, kita tentu tidak boleh lupa, bahwa saat ini, kita berada di bulan Agustus; dan bahwa kita sedang merayakan hari kemerdekaan negara tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

69 tahun yang lalu, naskah paling keramat itu dibacakan oleh Bung Karno. Pernyataan paling berani disampaikan secara gagah perkasa: “… dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Inilah pernyataan yang mewakili jutaan penduduk dari Sabang sampai Merauke, terkait keinginan terlepas dari belenggu yang mengikat, apapun resikonya.

Masyarakat Indonesia umumnya memaknai kata merdeka sebagai kebebasan (freedom dalam bahasa Inggris atau Al-Hurriyyah dalam bahasa Arab). Padahal, jika kita merujuk kepada literatur politik internasional, merdeka itu punya makna yang berbeda, yaitu independensi (independence dalam bahasa Inggris, dan Al-Istiqlal dalam bahasa Arab). Itu terlihat jelas dari istilah yang digunakan untuk Hari Kemerdekaan yang diperingati oleh negara-negara bebas jajahan. Komunitas internasional selalu menggunakan kata “Independence Day” untuk hari tersebut, bukan “Freedom Day”.

Untuk konteks bangsa Indonesia, pemaknaan kemerdekaan yang lebih condong ke arah kebebasan, bukan independensi, tentu amat bisa dimaklumi. Konsep kebebasan memang lebih mudah difahami dibandingkan independensi. Apalagi jika kita bicara tentang keterbelengguan mereka di zaman itu. Yang pertama kali terpikir sebagai cita-cita perjuangan tentulah kebebasan dari belenggu itu; kebebasan yang jikapun tidak begitu mereka nikmati, tapi bisa diwariskan kepada anak cucu.

Memang, konsep independensi itu lebih kompleks dibandingkan kebebasan. Bebas artinya tidak terikat, sedangkan independen artinya tidak bergantung. Dari sisi ini, orang yang sudah bebas sangat mungkin masih belum independen. Ia memang punya kebebasan. Hanya saja, saat ia bergerak, pergerakannya itu bergantung kepada faktor-faktor di luar dirinya (meskipun faktor-faktor luar tersebut ia yakini sebagai hal yang keliru).

Konsep independensi itu menjadi rumit karena faktor-faktor yang menentukan gerak langkah seseorang itu sangat kompleks dengan spektrum yang cukup luas. Orang bisa sangat bergantung kepada sebuah budaya yang sebenarnya dia ketahui sebagai hal yang keliru. Orang juga bisa bergantung kepada doktrin agama yang ia tahu bahwa itu salah. Orang juga bisa terikat dengan adat kebiasaannya sendiri. Atau, dalam model psiko-analisis Sigmund Freud, orang punya kecenderungan yang sangat kuat untuk digerakkan sepenuhnya oleh alam bawah sadarnya.

Dari sisi ini, jika pemahaman independensi ini diterapkan dalam konteks bangsa Indonesia, kita tentu selayaknya harus merenung dalam-dalam: betulkah bangsa kita sudah merdeka? Apakah bangsa kita sudah tidak bergantung kepada faktor-faktor luar? Seberapa mandirikah bangsa kita dalam berpikir dan bertindak?

Bangsa kita memang sudah merdeka, dalam pengertian yang paling primer, yaitu bebas dari belenggu penjajahan. Hanya saja, untuk menjadi bangsa yang merdeka dalam pengertian yang lain, yaitu independen, sepertinya memang masih banyak yang harus kita perjuangkan bersama-sama. Dirgahayu Republik Indonesia! (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL