Liputanislam.com –Pancasila adalah dasar negara Republik Indonesia. Kelima sila dalam Pancasila itu harus menjadi dasar bagi setiap kehidupan berbangsa dan bernegara seluruh warga negara Indonesia. Makin tinggi status sosial seorang anak bangsa, seharusnya  ia makin mampu mengamalkan sila-sila dalam Pancasila secara lebih komprehensif.

Para politisi berada pada posisi sangat tinggi dalam hierarki sosial di negara kita. Jika aktivitas politik mereka mengantarkan mereka kepada posisi jabatan tertentu, entah itu eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, mereka betul-betul berada pada strata paling tinggi. Mereka bahkan disebut sebagai public figure, satu status yang menunjukkan bahwa masyarakat awam mestinya menjadikan mereka sebagai panutan; sebagai contoh.

Sayangnya, yang terjadi justru berkebalikannya. Para politisi kita saat ini menjadi contoh sangat buruk dalam pengamalan sila-sila Pancasila. Keadaban yang menjadi sifat dari manusia Pancasila (selain keadilan, seperti yang tercantum pada sila kedua) terasa sangat absurd untuk disematkan kepada para politisi kita. Jangan pernah bicara soal etika dengan mereka, karena politik sudah dimaknai sebagai hal ihwal merebut dan mempertahankan kekuasaan, di mana etika akan dicampakkan ke sudut gelap kehidupan hingga tak layak untuk dibicarakan.

Perhatikan perilaku mereka. Etika yang buruk seperti mengumpat, mencela, “nyinyir”, merekayasa hakikat, sombong, takabur, gibah, hingga fitnah, adalah hal yang sangat lumrah dan seakan menjadi kemestian dalam berpolitik. Dan, sungguh sangat memprihatinkan ketika faktanya, di tahun politik ini (pilkada serentak dan pendaftaran capres/cawapres serta calon anggota legislatif), perilaku yang berkeadaban menjadi semakin disingkirkan. Bahkan, dalam banyak kasus, mereka yang pandai membual dan jago dalam mencela justru malah terpilih sebagai pejabat.

Bagi ummat Islam Indonesia, perilaku yang tidak beradab itu bukan hanya bertabrakan dengan sila kedua Pancasila, melainkan juga merupakan pelanggaran serius terhadap pilar agama. Dalam Islam, akhlak (norma) adalah salah satu fondasi penting selain akidah (dogma) dan syariat (ritual). Ketiganya adalah syarat mutlak keselamatan di akhirat kelak. Tanpa dibarengi akhlak yang baik, sekuat apapun akidah yang dipegang dan sebanyak apapun amal ibadah yang dilakukan, semuanya akan sia-sia dan sirna.

Bertebaran teks-teks agama yang berbicara tentang ancaman pedih bagi siapapun yang mengabaikan sisi akhlak dalam hidupnya. Perhatikanlah, bagaimana salat yang disertai riya akan berakibat celaka. Pengumpat dan pencela diancam dengan neraka Huthamah. Sedekah yang disertai dengan kesombongan tak akan pernah diterima Allah. Para penggibah akan dihukum dengan cara dialihkannya pahala amal ibadahnya kepada orang yang mereka ghibah. Adapun tukang fitnah (menyebarkan-nyebarkan kebohongan terkait dengan pribadi seseorang) disebut sebagai pelaku kejahatan yang lebih keji daripada pembunuhan.

Perhatikanlah bahwa seiring dengan makin dekatnya event politik, betapa semua itu makin sering diabaikan. Dan yang lebih memprihatinkan, pengabaian atas etika itu berlangsung secara merata di seluruh politisi; bahkan mereka yang beraasal dari partai Islam sekalipun. Dalam beberapa hal, justru mereka yang berasal dari partai Islam itu malah menunjukkan akhlak yang lebih buruk daripada yang lainnya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL