foto: viva.co.id

foto: viva.co.id

Kejujuran adalah salah satu aspek terpenting integritas. Reputasi seseorang sering kali terhempas ke dasar jurang akibat stigma “pembohong” yang disematkan kepadanya. Tentu saja tidak setiap stigma itu benar. Sejarah mencatat, bahkan seluruh nabi pun pernah disudutkan dengan tuduhan keji ini. Padahal, kita semua mafhum, tak mungkin ada nabi yang tukang bohong.

Dari serpihan-serpihan sejarah para nabi, kita mengenal sejumlah kasus tuduhan tukang bohong yang dialamatkan kepada para utusan Tuhan. Pertama, dan yang sangat terkenal, adalah kasus Nabi Musa saat menyepi di Bukit Tursina. Dikisahkan bahwa untuk memperoleh perintah Tuhan, Nabi Musa diperintahkan untuk ber-khalwat selama tiga puluh hari. Maka, Musa pun pamitan kepada kaumnya, sambil berjanji bahwa ia akan kembali setelah tiga puluh hari.

Allah lalu berkehendak lain. Setelah melewati batas hari yang dijanjikan, Musa ternyata tidak diizinkan langsung pulang. Ia masih harus memperpanjang masa khalwat-nya menjadi empat puluh hari. Kasus ini secara cepat dimanfaatkan orang-orang jahat untuk mendiskreditkan Musa. Tuduhan bahwa Musa berbohong pun segera menyebar luas bak api yang menjilat dedaunan kering. Hanya dalam hitungan hari, keyakinan orang-orang berbalik. Mereka tinggalkan Musa karena dianggap pembohong, untuk kemudian bergabung dengan agama baru penyembahan patung anak sapi ala Samiri.

Kisah kedua terkait dengan Imran. Dikisahkan bahwa saat istrinya, Hanna, sedang hamil, Imran meninggal dunia. Sebelum wafat, Imran sempat mengabarkan bahwa bayi yang dikandung Hanna akan menjadi juru selamat yang dijanjikan (Al-Masih Al-Ma’ud). Tak disangka, sang bayi ternyata seorang perempuan yang kemudian diberi nama Maryam. Tak mungkin perempuan menjadi nabi dan juru selamat. Maka, sama seperti Musa, keluarga Imran (termasuk iparnya yang bernama Nabi Zakaria), juga menjadi bulan-bulanan cercaan publik. Keluarga Imran disebut pendusta.

Enam abad setelah itu, giliran makhluk termulia di semesta alam, Rasulullah SAW, mendapatkan perlakuan serupa. Saat masih di Mekah, ia juga di-bully dengan tuduhan kadzdzab (pembohong), selain tentu saja tuduhan gila dan penyihir. Bahkan tuduhan serupa datang dari orang-orang terdekatnya. Kredibilitas kerasulan beliau sempat dipertanyakan sebagian sahabat gara-gara Rasul menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan pihak Qureisy Mekkah. Perjanjian menyebutkan bahwa tahun itu, Muslimin tidak bisa melaksanakan ibadah haji. Maka, Rasul pun sempat dituduh sebagai pembohong. “Bukankah engkau ini Nabi? Kau kan bilang, bahwa kita akan memasuki Masjidil Haram?” begitulah pertanyaan kritis sebagian sahabat. Memang, keberangkatan rombongan kaum Muslimin dari Madinah menuju Mekah itu didasarkan kepada “mimpi nyata” Rasul bahwa mereka akan memasuki Masjidul Haram dengan aman.

Para nabi berhasil menepis tuduhan-tuduhan keji tersebut. Musa mengatakan bahwa keterlambatan kepulangannya adalah perintah Allah dalam rangka menguji keimanan ummat. Zakaria menjelaskan bahwa kemunculan Al-Masih ditunda oleh Allah, karena saat itu, Kaisar Herodes yang kejam siap membunuh sang bayi begitu ia lahir. Sedangkan Rasulullah dengan tenang menjawab, “Benar, aku memang telah berjanji. Tapi, aku tidak pernah menyatakan bahwa itu akan terjadi tahun ini.”

Ketiga kasus di atas menunjukkan satu hal: perubahan rencana strategis sama sekali tidak bisa disebut sebagai kebohongan, meskipun terjadi perbedaan antara apa yang dikatakan sebelumnya dengan tindakan yang kemudian diambil. Tentu dengan catatan, bahwa perbedaan itu tidak boleh melenceng dari prinsip dasar dan rencana besarnya.

Jokowi jelas bukan siapa-siapa dibandingkan dengan para nabi. Dia bukan seorang yang maksum (pasti benar). Dia sangat mungkin berbuat keliru. Bahkan, mungkin saja Jokowi sebenarnya bukan capres yang ideal. Hanya saja, menyebut Jokowi sebagai pembohong hanya karena dia menjadi capres padahal ia belum genap dua tahun memimpin Jakarta, adalah tidak pada tempatnya. Sayangnya, tuduhan seperti ini justru banyak dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai aktivis Islam. (Editorial/LiputanIslam.com)

Bersambung ke : Menyoal Kampanye Negatif Pro-Jokowi

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL