timnas-u-192Timnas U-19, anak-anak muda yang yang sempat melambungkan harapan banyak elemen bangsa, nyatanya tak berdaya. Awalnya mereka begitu dipuja. Mereka berhasil meraih gelar juara AFF U-19. Lalu, dalam babak kualifikasi Piala AFC (Asia), mereka mampu lolos ke putaran final dengan status juara grup. Padahal di grup kalifikasi itu mereka bergabung dengan juara bertahan Piala AFC U-19 Korea Selatan.

Bertitik tolak dari kesuksesan ini, lantas dibuatlah target yang lebih besar. Mereka diproyeksikan mencapai babak semifinal putaran akhir Piala AFC. Jika target ini berhasil dicapai, berarti mereka akan lolos ke Kejuaraan Dunia U-20 tahun depan.

Maka, persiapan pun digelar. Dana disediakan untuk menjamin terlaksananya beragam persiapan yang dimaksud. Anak-anak muda itu digembleng lewat program pemusatan nasional jangka panjang. Lalu, mereka menjalani lebih dari tiga puluh pertandingan percobaan, baik di dalam ataupun di luar negeri. Untuk luar negeri, selain mengunjungi Timur Tengah, mereka juga bahkan sempat bertanding melawan para pemain muda dari empat klub top dari La Liga: Valencia, Atletico Madrid, Barcelona, dan Real Madrid.

Lalu, dengan segala macam persiapan panjang dan program yang matang tersebut, bagaimana hasilnya? Nol besar! Dua kali tampil di babak grup, dua kali itu pula kalah. Melawan Uzbekistan dan Australia, anak-anak muda itu tak berdaya. Mereka dikalahkan lawan-lawanya itu dengan skor 1-3 dan 0-1. Dengan hasil ini, Timnas U-19 dipastikan tersingkir.

Apa sebenarnya yang terjadi? Secara teknis, terlihat dengan jelas, bagaimana dalam dua pertandingan itu, para pemain tampil di bawah form. Mereka tampil tidak konsisten. Teknik individu dan taktik secara tim yang mereka miliki tidak bisa diterapkan sepanjang laga. Mereka terlihat gugup saat mendapatkan tekanan. Bola dengan sangat mudah terlepas. Kontrol bola sangat buruk. Kesalahan umpan sangat sering terjadi. Akibatnya, gol-gol dari tim lawan tercipta dengan sangat mudah akibat kesalahan sendiri. Adapun peluang-peluang yang tercipta tidak bisa dimanfaatkan secara baik. Terlihat jelas bahwa mereka bukan pemain yang matang secara emosional.

Saat bisa dipastikan bahwa secara teknis mereka saat itu tampil di bawah form (artinya, dalam laga-laga persahabatan dan saat latihan, mereka sebenarnya mampu menunjukkan performa yang jauh lebih baik), maka ini adalah urusan mental para pemain. Ada ketidaksiapan secara mental dari mereka untuk tampil di laga tingkat Asia.

Lalu kenapa ini bisa terjadi? Banyak hal yang mesti dilacak. Bisa jadi hal ini kembali kepada sikap inferior mereka. Di mulut, mereka bisa saja berbicara mengenai kegagahberanian. Akan tetapi, bisa saja jauh di bawah lubuk hatinya (atau, meminjam psiko-analisisnya Freud, jauh di alam bawah sadarnya), mereka sebenarnya masih punya rasa minder. Ini sangat mungkin terjadi karena setiap saat, mereka dibombardir oleh berita-berita yang menunjukkan betapa lemahnya bangsa ini. Mereka mendengar berita tentang pelecehan yang dialami para TKI dan ketundukan para pemimpin nasional di depan kepentingan asing.

Tapi, bisa juga masalah mental ini berasal dari kurangnya motivasi pada diri mereka. Kesempatan mereka untuk berangkat ke negara-negara Timur Tengah dan Spanyol dalam konteks laga persahabatan, bisa saja malah menjadi bumerang justru dari sisi motivasi. Menunaikan umrah (di sela-sela pertandingan persahabatan di Timur Tengah) dan bermain melawan pemain yang berseragam Barcelona dan Real Madrid, jelas merupakan kebanggaan yang sangat besar. Lihatlah wajah-wajah berbinar pada foto-foto yang mereka posting di akun-akun twitter dan instagram, ketika mereka berada di stadion Nou Camp, atau ketika mereka memegang replika Champions Cup. Wajah-wajah itu tetap ceria sampai pulang ke tanah air. Padahal, dalam laga-laga tersebut mereka sempat dibantai 0-5 dan -6, masing-masing oleh Barcelona B dan Real Madrid B. Mereka tetap bahagia, seakan-akan momen-momen yang membanggakan itu (bisa berkunjung ke Madrid dan Barcelona) merupakan cita-cita tertinggi mereka.

Ya, para pemain memang masih punya masalah dengan mental mereka. Pada dasarnya, bangsa kitalah yang masih punya masalah dengan mental. Tentu para pemimpin bangsa lah yang paling bertanggung jawab atas situasi seperti ini. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL