ramadhanKita sudah memasuki bulan mulia Ramadhan. Di bulan suci ini, kita berpuasa sebulan penuh, dengan harapan, ibadah ini akan meningkatkan spiritualitas dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa, sebagaimana kewajiban ini telah ditetapkan kepada orang-orang terdahulu. Mudah-mudahan, kalian bisa menjadi orang-orang yang bertakwa.”

Ketakwaan memang masalah spiritual dan adanya di dalam jiwa manusia. Akan tetapi, ketakwaan jelas akan tercermin dalam perilaku kita sehari-hari. Secara sederhana, takwa didefinisikan sebagai kemampuan manusia untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi berbagai larangan-Nya. Nah, berbagai perintah dan larangan Allah itu terkait dengan perilaku kita sehari-hari. Seberapa banyak perintah-Nya yang kita laksanakan, serta seberapa banyak pula larangan-Nya yang bisa kita hindari, akan menunjukkan seberapa tinggi tingkat ketakwaan kita.

Di bulan suci Ramadhan tahun ini, kaum Muslimin Indonesia berhadapan dengan sejumlah moment penting dan sangat menyita perhatian. Perilaku kita sering kali betul-betul merupakan refleksi atas moment-moment tersebut.

Pertama adalah pilpres, dengan segala pernak-perniknya yang makin mirip infotaintmen. Sejak masa pilpres dimulai, berbagai perilaku kaum politis sudah membuat miris banyak kalangan. Mereka mempertontonkan berbagai kata dan sikap yang betul-betul bertentangan prinsip-prinsip akhlak Islami. Mereka berbohong, memfitnah, merendahkan, menggunjing, mengadu domba, dan memutus silaturahmi.

Jika perilaku ini masih terus dipelihara sampai hari H pencoblosan (tanggal 9 Juli), tentu ini menjadi alarm tanda bahaya bagi nilai ketakwaan. Kita boleh saja secara lahiriah berpuasa. Tapi, yakinlah bahwa di sisi Allah, tak akan ada pahala yang bisa kita raih dari berpuasa kita kecuali lapar dan dahaga saja.

Moment kedua yang juga cukup menyita perhatian kaum Muslimin Indonesia adalah Piala Dunia. Babak perdelapan final sampai final Piala Dunia sudah mulai digelar. Kaum Muslimin penggila bola umumnya akan menyisihkan waktunya demi menonton perhelatan ini. Sayangnya, jam tayang siaran langsung dilaksanakan malam hari, mulai jam 23.00 hingga jam 05.00 pagi.

Ini adalah tantangan tersendiri. Kita ummat Islam semestinya memanfaatkan waktu-waktu malam hari bulan suci Ramadhan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah. Kita mestinya di saat-saat itu banyak bertadarrus Al-Quran, shalat malam, shalat Shubuh di awal waktu, dan menghadiri kuliah-kuliah Shubuh. Jika kita menyerah di hadapan godaan hawa nafsu untuk tetap menonton sepakbola, ini juga menjadi alarm bahaya bagi tingkat ketakwaan kita.

Terakhir, adalah krisis Irak. Brutalitas kelompok ISIS sudah menjadi pembicaraan dunia. Kemungkinan besar, selama bulan suci Ramadhan, Irak akan terus dicekam teror. Sebagai ummat Islam yang baik, tentu saja, minimalnya kita jangan terjerumus ikut-ikutan ke dalam kelompok tersebut. Jangan sampai kita ikut-ikutan mendukung kegiatan mereka, seperti menyebarkan berita-berita mereka yang sarat dengan kebohongan. Kita tidak boleh turut menyumbang dana bagi kegiatan terorisme mereka, meskipun mereka mengusung panji-panji Islam. Dan yang paling buruk, tentu saja akan akan sangat ironis jika ada ummat Islam yang tertipu hingga mau berangkat “berjihad” ke Irak.

Tragedi yang menimpa kaum Muslimin di Irak saat ini disebabkan kekejian atas nama agama yang dipertontonkan ISIS. Adalah sebuah kekejian pula jika kita sampai ikut-ikutan mendukung mereka. Dan perilaku keji jelas bertentangan dengan spirit ketakwaan yang hendak digapai oleh seorang yang sedang berpuasa.

Marhaban, ya Ramadhan! Semoga sinar berkahmu bisa kami raih seterang-terangnya, agar kabut kegelapan di hati kami bisa tersingkap secepat-cepatnya.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL