pasukan AS di IrakSetelah sekian lama vakum akibat berbagai kendala, mulai pekan ini insya Allah rubrik editorial Liputan Islam akan kembali di-update secara rutin minimalnya sekali sepekan. Pagi ini, ada kejadian aneh yang kami temukan. Kami sampai 4 kali mengunggah berita tentang ditahannya 400 demonstran di Amerika Serikat yang memprotes politik uang di negara tersebut. Setelah ter-publish, tiba-tiba saja secara misterius artikel tersebut lenyap. Bahkan terakhir, setelah kami mengubah judul dan foto, dan sudah berhasil diunggah, sekitar 5 menit kemudian, artikel itu lenyap lagi.

Aksi demontrasi itu digelar oleh organisasi “musim semi demokrasi”. Sebelum mencapai gedung Kongres AS, mereka sudah berjalan kaki sejauh 150 mil dari kota Filadelfia [nama organisasi dan kota sengaja tidak disebut dalam ejaan/bahasa asli]. Mereka menyeru agar Kongres menghentikan korupsi yang dilakukan para pemodal besar dalam dunia politik AS, serta meminta agar Kongres (Parlemen) AS menjamin terlaksananya pemilu yang bebas, fair, dan terlepas dari politik uang.

Kurang dari sejam sejak dimulainya aksi demo damai, polisi mengancam akan menahan mereka jika terus melakukan aksi demo.   Namun, para demonstran meneruskan aksi damai tersebut, dan akhirnya ditahan polisi. Lebih dari 400 orang ditahan dan ini merupakan penangkapan terbesar di gedung kongres dalam sejarah AS.

Anehnya, media mainstream sama sekali tidak memberitakan kejadian ini. Padahal, lebih dari 53.000 kicauan muncul di Twitter untuk memprotes dan membincangkannya.

AS selalu mendorong, bahkan kalau perlu menggunakan kekuatan senjata, negara-negara lain berdemokrasi. Banyak negara yang demi kestabilan politik membatasi penggunaan facebook dan twitter karena telah terbukti berkali-kali di berbagai negara, misalnya dalam rangkaian gejolak negara-negara Arab, kedua media sosial itu digunakan untuk menggalang massa.  Di Mesir, misalnya, terbukti bahwa penggalan utama demonstrasi adalah orang-orang yang sudah ditraining oleh lembaga-lembaga milik AS, misalnya National Endowment for Democracy (NED).

Demokrasi, selama ini digunakan AS untuk memperluas dominasinya di negara-negara muslim. Irak, Libya, dan Suriah adalah tiga di antara korban tragis dari kriminalitas AS. Dengan menggunakan alasan demi mendemokratisasi negara-negara yang -menurut klaim AS- dipimpin oleh rezim diktator, AS mengirim pasukan militernya. Saddam dan Qaddafi telah digulingkan, Assad masih bertahan berkat dukungan penuh rakyatnya dan tiga sekutu terdekatnya, Hizbullah, Iran, dan Rusia. Di sisi lain, AS justru berteman akrab dengan negara-negara yang sama sekali tidak demokratis, misalnya Arab Saudi (rezim monarkhi) dan Israel (rezim yang menjajah Palestina).

AS sering dipandang sebagai kampiun demokrasi. Namun berbagai aksi protes yang marak terjadi akhir-akhir ini, mengkritik sistem politik negara itu dan ketimpangan ekonomi di AS, tidak diliput oleh media-media utama. Mungkin lebih tepat kita sebut AS sebagai kampiun demokrasi tebang pilih. (Editorial/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL