LiputanIslam.com –Polemik seputar memilih pemimpin Muslim kembali mengguncang negeri ini. Pusat epicentrumnya di mana lagi kalau bukan Jakarta. Kemunculan Ahok (sudah Kristen, Tionghoa pula) sebagai kandidat kuat, mendapatkan reaksi keras dan gelombang perlawanan dari beberapa kelompok Islam.

Sedemikian kuatnya isu tersebut, sampai-sampai di sela-sela kedatangan tokoh terkenal Zakir Naik, masalah memilih pemimpin Muslim ini menjadi salah satu topik utama tanya jawab. Jawaban yang disampaikan Zakir Naik bersifat normatif dan sederhana. Dikatakan bahwa paling tidak, pemimpin Muslim lebih baik daripada pemimpin non-Muslim. Itu adalah jawaban minimalnya. Artinya, Islam sebenarnya menekankan keharusan bagi seorang Muslim untuk memilih orang yang seagama dengannya.

Ya, memang akal paling sederhana pun akan dengan mudah mengambil kesimpulan ini. Sebagai orang Islam, tentu saja lebih baik bagi kita untuk memilih seorang Muslim ketimbang non-Muslim, baik sebagai teman ataupun pemimpin. Akan tetapi, pilihan atas dasar agama ini selalu saja menimbulkan sejumlah masalah yang kompleks.

Di antara masalah tersebut adalah soal konteks kepemimpinan. Soal anjuran atau keharusan memilih pemimpin Muslim tentulah erat kaitannya dengan urusan apa yang dipimpin dan dikelola. Jika yang dikelola adalah hal-hal yang terkait dengan keagamaan (misalnya soal ritual keislaman), Tentu sangat absurd jika kita memilih seorang non-Muslim menjadi penanggung urusan tersebut. Tapi, jika yang dikelola adalah hal-hal umum dari kepentingan publik, tentu prinsip “memilih pemimpin Muslim” ini harus ditelaah lebih mendalam lagi.

Yang tak kalah pentingnya adalah soal esensi keislaman. Kita tahu bahwa Muslim dan Islam adalah dua hal yang berbeda. Menjadi seorang Muslim tidak mesti berarti orang tersebut telah menjalankan ajaran Islam (apalagi dikasih embel-embel “seutuhnya”). Bahkan, menjadi seorang Muslim bukan merupakan jaminan bahwa orang tersebut memang berniat untuk menjalani kehidupan dengan landasan ajaran Islam. Bisa saja orang tersebut berislam hanya kerana budaya, keturunan, atau memang punya kepentingan duniawiah. Pencitraan, misalnya.

Di sini, kita mengenal adanya orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang secara lahiriahnya saja berislam, akan tetapi hakikat hati dan kepercayaannya merujuk kepada sesuatu yang lain. Betapa banyak orang yang berislam, tapi perilakunya korup. Betapa banyak haji yang menzalimi. Dan bagaimana pernah kita temukan dalam sejarah sosok-sosok semisal Abdullah bin Ubay dan Snouck Hugronje.

Atau, di masa kini, sebagian besar dari kita tentulah menolak kehakikian Islam yang dibawa oleh pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi. Kalau dia maju sebagai kandidat pemimpin atas nama agama Islam, Anda tak akan mungkin memilihnya, bukan?

Artinya, prinsip pemimpin Muslim itu meniscayakan keislaman yang hakiki, Islam yang genuine, bukan sekedar Islam secara lahiriah, atau Islam yang hanya dibawa-bawa saat ada kepentingan politik. Jika tidak, ummat Islam akan terus terjerembab ke dalam keterpurukan.

Yang harus menjadi bahan perhatian kita di saat ini adalah mendorong lahirnya para pemimpin Muslim yang genuine, bukannya memaksakan orang yang biasa-biasa saja (apalagi kalau sampai orang yang berjiwa korup) untuk menjadi pemimpin. Jangan sampai muncul kesan kuat bahwa di tangan orang Islam, urusan ummat justru terbengkalai dan hancur-hancuran. (editorial/liputanislam/ot)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL