takwaBayang-bayang akan terjadi kembali krisis ekonomi di Indonesia menghantui banyak pihak. Tidak sedikit pakar ekonomi dalam negeri yang meyakini bahwa dari berbagai indikator yang ada, krisis ekonomi hanya tinggal menghitung hari. Tingkat inflasi yang tinggi serta melambannya pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama tahun 2015, juga harga dolar Amerika yang menyentuh angka 14.000 rupiah (terendah sejak krismon 1998) adalah indikator yang sangat kuat terkait kemungkinan terjadinya kembali krisis ekonomi tersebut. Menurut para pakar ini, nanti, jika semua indikasi di atas menyebabkan larinya pemodal asing, berarti gong krismon memang betul-betul telah ditabuh.

Banyak pihak yang membantah prediksi menakutkan tersebut. Pemerintah sampai sejauh ini masih tetap bertahan dengan keyakinannya bahwa fondasi ekonomi kita masih cukup kuat. Dikatakan bahwa segala indikator di atas hanyalah gejolak sesaat, dan lebih banyak disebabkan faktor dari luar, seperti peningkatan suku bunga Amerika Serikat yang menyebabkan larinya dolar untuk pulang kampung ke negerinya sendiri; atau disebabkan oleh devaluasi mata uang Yuan oleh pemerintah Cina.

Apapun juga, tak ada yang senang dengan kondisi ekonomi seperti ini. Terlebih jika visi kita tidak hanya terpaku kepada indikator-indikator ekonomi dalam bentuk angka dan statistik, melainkan menelusuri kondisi ril ekonomi di sekitar kita. Masukilah relung-relung kehidupan sebagian besar rakyat bangsa ini yang masih bergulat dengan beragam dimensi kemiskinan. Akan kita dapati bahwa seandainyapun krismon betul-betul tidak akan terjadi, kehidupan bangsa kita ini masih sangat memprihatinkan. Kemiskinan masih sangat merajalela dengan segala macam dimensinya: kebodohan, kejahatan, kesewenang-wenangan, bahkan kekufuran. Dalam bahasa agama, kita bisa mengatakan bahwa rahmat dan keberkahan dari langit masih belum turun kepada bangsa ini.

Nah, kalau kita kembali kepada Alquran, solusi atas semua ini adalah peningkatan ketakwaan seluruh elemen bangsa. Tentu saja ketakwaan di sini tidak boleh dibatasi secara sempit kepada ibadah-ibadah individual. Salat, zikir, dan doa tetaplah elemen fundamental dalam kehidupan beragama. Akan tetapi, perintah Tuhan kepada ummat Islam bukanlah hanya berputar-putar pada ranah ibadah mahdhah. Ketakwaan pun tidak hanya menjadi predikat bagi kegiatan individual. Ketakwaan memiliki arti luas hingga menyentuh segala kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika ketakwaan diartikan secara sederhana sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah dan upaya untuk menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya, jelas sekali bahwa perintah dan larangan Allah itu memang tersebar di berbagai dimensi kehidupan manusia, mulai dari politik, ekonomi, hingga sosial. Lihatlah dalam bidang politik. Seorang politisi disebut bertakwa jika sejak awal dia memiliki tujuan yang benar saat terjun di dunia politik. Dalam Islam, politik bukanlah kendaraan pemuas syahwat ingin memimpin dan memburu rente demi kepentingan pribadi dan golongan. Politik dalam Islam sangat jauh dari perilaku saling sikut, mengelabui, dan melakukan manipulasi publik. Islam jelas melarang kebohongan, manipulasi, dan kemunafikan.

Lalu ada ketakwaan ekonomi. Di sini, akan kita temukan kutukan keras Islam terhadap sejumlah perilaku buruk seperti merebut hak orang lain, memakan barang haram, atau menggunakan cara-cara licik yang sepintas terlihat legal tapi kenyataan di dalamnya penuh dengan korupsi dan pembusukan.

Ada juga juga ketakwaan sosial, yaitu sejumlah perilaku dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang sangat ditekankan oleh agama. Seseorang disebut bertakwa jika dalam interaksi sosialnya, ia mampu menjaga amanah, bersikap jujur, baik, sopan, empati, dan segala perilaku baik lainnya.

Jika berbagai elemen bangsa ini mampu menerapkan konsep ketakwaan tersebut di atas, bisa dipastikan bahwa ancaman apapun yang menghadang akan bisa kita hadapi; negeri ini akan diguyur oleh limpahan rahmat Ilahi. Tentu saja, perilaku ketakwaan di semua lini kehidupan itu kita harapkan pertama-tama akan ditunjukkan oleh para pemimpin bangsa ini. Mereka memberikan contoh, dan rakyat akan menirunya. Tapi, yang seperti ini agaknya masih merupakan mimpi. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL