Lebaran-2013Hari-hari ini, salah satu fokus pemberitaan berbagai media nasional adalah soal lebaran. Masalah mudik saja sudah menjadi headline news. Fenomenanya memang tidak main-main. Jumlah pemudik sepeda motor tahun ini diperkirakan menembus angka dua juta kendaraan. Mobil pribadi yang akan memadati jalur mudik Lebaran 2015 diprediksi mencapai 1,7 juta mobil. Sedangkan pemudik yang menggunakan angkutan umum diperkirakan mencapai 20 juta penumpang, dengan 6,5 juta penumpang menggunakan angkutan udara. Bayangkan! 30 juta orang melakukan pergerakan massal, menempuh perjalanan jauh, bersilangan di sana-sini, bermacet-macetan, dan –sayangnya—seringkali memakan ratusan korban jiwa.

Fenomena lebaran lainnya adalah pawai obor dan takbiran semalaman di malam raya. Di malam itu juga, zakat fitrah dibagikan. Lalu, keesokan harinya, kaum Muslimin akan memenuhi di lapangan untuk melakukan shalat Id. Hampir semuanya. Bahkan yang sehari-harinya jarang melakukan shalat fardhu pun, dia akan berusaha keras agar bisa hadir di shalat ‘Id. Maka, jadilah shalat di hari tersebut seolah-olah menjadi ritual agama yang paling penting bagi banyak orang Indonesia.

Sepulang dari shalat, sajian ketupat dan makanan enak di hari raya siap menyambut. Lalu, orang-orang mengenakan pakaian baru, menggelar acara sungkeman, bersalam-salaman, mohon maaf satu sama lain (dengan ucapan yang sangat khas: “mohon maaf lahir dan batin”), dan sebagian berziarah ke makam kerabat. Para pejabat menggelar open house. Sebagian orang merayakan lebaran dengan mengunjungi tempat-tempat wisata.

Suasana lebaran tetap terjaga sampai beberapa hari berikutnya. Masih ada acara halal bihalal yang pastinya terkait dengan lebaran. Lalu, ada juga fenomena arus balik selepas mudik.

Maka, jadilah lebaran sebagai fenomena paling menarik sekaligus paling menyibukkan bagi bangsa Indonesia sepanjang tahun. Anda bisa membayangkan, betapa sangat banyaknya hal yang harus disiapkan demi bisa menggelar rangkaian acara demi acara di seputar hari lebaran.

Menariknya lagi, seluruh fenomena yang dituliskan di atas sangat khas Indonesia. Di negara-negara Arab sendiri, Idul Fitri tidak dirayakan seperti di Bumi Nusantara. Di sana, hanya ada pembayaran zakat fitrah, shalat ‘Id, makanan yang sedikit berbeda, dan pakaian yang agak bagus (tidak mesti baru). Liburnya pun hanya maksimal dua hari. Tidak ada yang namanya libur panjang dua minggu, fenomena mudik, ucapan khas mohon maaf, open house, halal bi halal, dan lain sebagainya.

Lebaran dengan segala gegap gempitanya di Indonesia memang tidak semata-mata fenomena ritual agama. Yang dominan justru adalah fenomena khas kultural Islam Nusantara. Tanpa campur tangan budaya yang terbentuk berabad-abad lamanya, mustahil lebaran di Indonesia menjadi sedemikian berbedanya dengan perayaan Idul Fitri di kawasan lainnya.

Jadi, fenomena kultural itu memang ada; Islam Nusantara itu memang ada, yaitu ekspresi Keislaman yang dibingkai oleh nuansa kultural khas Nusantara. Fenomena lebaran adalah contoh yang tak terbantahkan. (Editorial-LiputanIslam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL