LiputanIslam.com –Jalur Gaza di Palestina kembali membara. Jet-jet tempur Israel kembali menghujani berbagai titik di kawasan yang dihuni warga Palestina tersebut. Ini adalah implementasi dari rencana para petinggi Israel untuk “menghabisi” apa yang mereka sebut sebagai “para teroris Palestina”. Maka, pada hari Selasa dini hari kemarin, Baha Abu al-Ata beserta istri dan anak-anaknya tewas setelah rumahnya dihantam roket Israel. Abu al-Ata adalah salah seorang komandan Brigade Al-Quds, sayap militer kelompok Jihad Islami Palestina. Namanya disebut-sebut oleh media-media Israel akhir bulan lalu sebagai salah satu target pembunuhan.

Tewasnya Abu al-Ata beserta keluarganya itu kemudian direspons oleh pejuang Palestina dengan tembakan roket dengan sasaran berbagai kota di Israel. Jihad Islami menyatakan, ada 50 roket yang ditembakkan, meskipun 20 di antaranya terperangkap oleh sistem anti-rudal “Iron Dome”. Sementara itu, pihak Israel mengklaim bahwa jumlah roket Palestina yang ditembakkan mencapai angka 200 buah. Adanya serangan roket ini lalu dijadikan alasan oleh Israel untuk menggelar serangan lanjutan ke Jalur Gaza. Akibatnya, dalam tempo dua hari ini, ada 11 orang Palestina tewas.

Gaza kembali dilanda krisis. Akan tetapi, krisis Gaza kali ini kembali dari sepi dari solidaritas. Jangankan solidaritas, pemberitaan pun tak banyak terdengar. Kalaupun ada, pemberitaan yang muncul di media-media langsung ke poin serangan roket Palestina ke arah kawasan permukiman Israel. Sungguh sebuah framing yang menyesatkan, seakan-akan serangan roket dari Palestina itu adalah sebuah aksi tunggal yang tanpa sebab. Media-media internasional (yang sayangnya juga dikutip oleh media-media di Tanah Air) tidak menyebut-nyebut aksi teror roket Israel yang menewaskan Abu al-Ata sekeluarga.

Barangkali ada yang menyatakan bahwa aksi teror terhadap komandan Jihad Islami itu adalah reaksi Israel atas sepak terjang para pejuang Palestina yang banyak merugikan Israel. Ya, memang demikian. Semua itu adalah akibat dari rangkaian aksi serangan saling balas yang sudah berlangsung puluhan tahun. Ini adalah perang di antara Zionis Israel dan pejuang Palestina. Jadi, tindakan saling serang adalah hal yang wajar dalam peperangan.

Akan tetapi, ada dua poin penting yang yang patut diperhatikan. Pertama, media-media Barat selalu menyebut apapun aksi Palestina sebagai terorisme, sedangkan aksi serdadu Israel sebagai upaya “mempertahankan diri”. Serangan Israel yang menewaskan Abu al-Ata disebut sebagai langkah Israel untuk melindungi warganya dari serangan teroris. Catatan kedua –dan ini yang paling penting–, adalah soal fakta sejarah yang menunjukkan bahwa berbagai macam pertempuran ini diawali oleh penjajahan Israel atas kawasan Palestina. Akar konflik Israel-Palestina tiada lain adalah penjajahan Israel atas Palestina sejak 60 tahun terakhir ini.

Palestina betul-betul tertindas. Mereka dijajah. Tanah mereka mereka dirampas, dan merekapun terlunta-lunta. Lalu, di saat melawan, mereka dicap teroris, disejajarkan dengan kaum jihadis palsu semacam Al-Qaeda dan ISIS yang mencoreng kehormatan agama Islam lewat aksi-aksi sadis dan tak beradab di Suriah.

Yang lebih memprihatinkan lagi, sejak krisis Suriah yang sudah berlangsung selama delapan tahun ini, segala macam tragedi yang berlangsung tiap hari di Palestina seakan luput dari pemberitaan dan solidaritas kaum Muslimin. Bahkan, ketika krisis Suriah saat ini bisa dikatakan hampir mereda, perhatian kaum Muslimin tidak juga kembali mengarah ke bangsa Palestina. Mereka yang selama ini teriak-teriak bicara tentang jihad dan membela Islam, bisa disebut diam tak memberi respon apapun. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*