LiputanIslam.com – Krisis ekonomi yang saat ini menimpa Turki membuat banyak pihak terperangah. Turki yang disebut-sebut sebagai kekuatan baru ekonomi Dunia Islam, kini sedang terperosok pada krisis ekonomi yang lumayan parah. Nilai Lira, mata uang Turki, terus merosot tajam di hadapan mata uang asing, khususnya Dolar Amerika. Di awal tahun lalu, 1 Dolar AS bernilai 3,73 Lira. Kini, harga Dolar merangkak hingga 7,2 Lira. Artinya, terjadi peningkatan nilai Dolar hingga 93 persen.

Karena Turki di bawah pemerintahan Erdogan memiliki banyak sekali utang dalam bentuk dolar, maka utang luar negeri Turki tiba-tiba saja naik menjadi hampir dua kali lipat. Ditambah dengan ketergantungan ekonomi dalam negeri Turki yang cukup besar pada produk-produk impor, depresiasi nilai Lira tersebut membuat perekonomian Turki tiba-tiba saja kekurangan darah, karena harga bahan-bahan baku industri melonjak naik.

Krisis ekonomi yang melanda Turki ini dipicu oleh ketegangan politik negara itu dengan AS. Awalnya adalah aksi kudeta 15 Juli 2016 lalu yang sempat menciptakan krisis politik terbesar nasional di Turki. Ankara mengklaim AS terlibat dalam aksi tersebut. Secara bersamaan, AS juga dituduh telah memberikan dukungan politik dan finansial kepada kaum separatis Kurdi. Sebagai jawaban, Trump malah memberikan sanksi ekonomi kepada Turki, berupa kenaikan pajak import sejumlah komoditas Turki.

Erdogan meradang. Ia bertanya kepada Trump, “Bukankah Turki adalah sekutu stretegis Anda? Kita bersama di NATO dan kemudian Anda mencoba menusuk mitra strategis di punggung. Apakah cara seperti itu bisa diterima?”

Kemarahan Erdogan ini memang beralasan. Sejak lama, Turki adalah sekutu strategis bagi AS. Mereka selalu berada di kubu yang sama dan memiliki kepentingan politik yang berimpitan di kawasan Timur Tengah. Turki adalah anggota NATO. Turki di bawah Erdogan bahkan menjalin transaksi ekonomi terbesar dengan Rezim Zionis Israel.

Yang teraktual, tentu saja soal krisis Suriah. Turki menjadi pintu masuk untuk kedatangan ratusan ribu jihadis asing dari berbagai negara dunia, yang ingin menjatuhkan pemerintahan Assad. Mereka adalah para jihadis yang diinisiasi dan didanai oleh AS, Barat, dan negara-negara monarki Arab. FSA, salah satu faksi pemberontak yang paling didukung oleh AS, berkali-kali mengadakan pertemuan di Turki. Ada banyak sekali harga yang harus dibayar Turki untuk membiayai dan terlibat dalam upaya penggulingan Assad. Ankara seperti berjudi dengan krisis Suriah.

Kini, krisis Suriah bisa dikatakan hampir selesai dengan kemenangan di pihak Assad. Proses kekalahan kaum pemberontak itu mulai terlihat sejak sekitar dua tahun yang lalu. Turki tentu saja termasuk yang ikut menanggung dampak dari kekalahan pemberontak itu. Di saat situasinya seperti itu, terjadilah kudeta yang hampir menciptakan krisis politik terburuk di negara itu. Dan AS ditengarai terlibat dalam aksi kudeta. Kini, AS malah menerapkan sanksi yang membuat ekonomi Turki betul-betul limbung.

Apa yang terjadi di Turki ini sebenarnya mengulang kisah pengkhianatan yang pernah dilakukan oleh AS terhadap sejumlah negara di dunia. Contohnya adalah Irak. Dulu, AS lah yang mengompori Saddam agar mau menyerang Iran. Ketika sudah gagal, Saddam malah digempur habis-habisan. Habis manis, sepah pun dibuang.

Krisis ekonomi Turki ini sebenarnya hanyalah merupakan pengulangan sejarah. Dulu Irak, kini Turki. Dulu Saddam, kini Erdogan. Aktor antagonisnya sama: Amerika Serikat. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*