LiputanIslam.com –Kontestasi politik Indonesia makin mendekati fase-fase yang krusial. Tidak sampai sebulan lagi, publik akan tahu, siapa saja yang akan resmi menjadi calon presiden dan calon wakil presiden. Tanggal 4 hingga 10 Agustus 2018 adalah masa pendaftaran capres dan cawapres yang diusung oleh parpol. Setelah masa pendaftaran itu nanti, panggung politik nasional kembali menjad riuh oleh perang strategi pendukung dari para kontestan pilpres. Keriuhan ini akan terus memanas sampai perhelatan puncaknya, yaitu pemilu serentak (pileg dan pilpres) tahun depan.

Ada yang memprihatinkan dari suasana kontestasi pilpres di saat sekarang ini. Suasana yang dibangun semakin menjauh dari asas-asas etika demokrasi. Dalam konteks etika demokrasi, kontestasi bermakna upaya meraih suara rakyat yang dilakukan oleh seorang calon dengan pemikiran bahwa si calon memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan calon lainnya. Si A meraih suara karena berhasil meyakinkan rakyat bahwa dia lebih baik dari si B. Dikatakan lebih baik, bermakna bahwa si B sebenarnya baik. Akan tetapi, A lebih baik dari B.

Inilah etika demokrasi di Indonesia. Pancasila mengamanatkan kepada kita bahwa negara dikelola dengan asas kerakyatan, yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Negara harus dikelola oleh orang-orang yang bijak, rendah hati, menghormati rival politik, serta memiliki kecenderungan kuat untuk bermusyawarah demi mencapai kemufakatan dalam menyelesaikan segala hal.

Sekarang, lihatlah, betapa suasana kontestasi telah berubah menjadi semacam perang dan gladiasi. A dan B berkontestasi dalam suasana rivalitas yang sangat panas serta dalam konteks benar-salah. Para pendukung masing-masing menyatakan bahwa jagoan mereka layak menang karena berada di jalan yang benar, dan rival politiknya adalah musuh yang harus dihancurkan karena berlumuran dengan dosa.

Lihatlah betapa perang tagar di antara kubu-kubu yang bersaing dalam pilpres berisikan seruan yang mengindikasikan kemarahan dan kebencian masing-masing pihak kepada pesaing. Seruan ganti presiden tanpa dibarengi dengan pengajuan jagoannya menunjukkan bahwa bagi kelompok ini, yang penting adalah presidennya harus diganti. Bukan karena mereka punya jagoan yang lebih baik, melainkan karena presiden yang sekarang diyakini sebagai seorang yang buruk, bodoh, dan berlumuran dengan dosa. Makanya, bagi kelompok ini, siapapun yang menjadi penggantinya, pastilah akan lebih baik.

Hal yang sama juga muncul sebagai reaksi dari kubu yang diserang. Muncullah seruan yang juga bernada menyerang dengan nada kebencian, seperti seruan agar partai tertentu ditenggelamkan. Bahasa yang digunakan pun tidak lagi berupa sindiran halus (ironis) atau sindiran secara terbuka (sinis), melainkan sudah berupa makian yang kasar (sarkastik). Nyinyir dibalas dengan nyinyiran;  makian dibalas makian; dan kebencian pun makin membakar hati.

Situasi ini jelas sekali bertentangan dengan etika demokrasi yang diajarkan oleh Pancasila sebagai landasan etis kehidupan bernegara kita. Situasi ini juga bertentangan dengan ajaran semua agama yang dianut oleh rakyat Indonesia Tak ada satupun agama yang setuju dengan penebaran kebencian dan permusuhan yang digunakan dalam rangka meraih ambisi politik.

Agama Islam sendiri memuat banyak sekali norma yang berkaitan dengan masalah etika dan akhlak. Dalam Islam, sedemikian pentingnya akhlak, sampai-sampai amal ibadah yang dilakukan oleh seseorang bukan saja tidak berbuah pahala, melainkan bisa berubah menjadi siksaan, manakala pelaksanaan ibadah tersebut tidak dibarengi oleh akhlak dan etika yang baik.

Iblis diusir dari surga dan menjadi makhluk terkutuk, hanya gara-gara ia punya kesombongan dan dengki kepada manusia. Padahal, Iblis tadinya adalah makhluk dipuji Tuhan karena ibadahnya yang luar biasa. Dalam Al-Quran pun, dikatakan bahwa shalat seseorang akan berbuah kecaman dari Allah jika disertai dengan niat untuk dipuji orang. Infak yang kita beri tak akan bernilai sedikitpun kalau kita memberikannya dengan sikap sombong dan merendahkan.

Adalah tugas para ulama untuk memberikan penyadaran kepada ummat yang mereka bimbing terkait dengan pentingnya masalah ini. Sayangnya, sebagian dari mereka yang mengaku sebagai ulama, justru adalah orang-orang yang menjadi pelaku ujaran dan sikap kebencian itu. Bahkan, sebagian dari ujaran kebencian itu justru diproduksi oleh pihak yang menyatakan diri sebagai partai dakwah. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*