hizbullah-isisTimur Tengah masih terus membara. Ketegangan di Irak sampai kini masih belum mereda. Suriah juga masih dilanda prahara. Kini, ketegangan kembali mengemuka dipicu serangan helikopter Israel ke kawasan Quneitra, Suriah, Ahad lalu yang menewaskan enam anggota milisi Hizbullah dan seorang petinggi militer Iran.

Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah sudah mengirim pesan sangat pendek dengan bahasa Arab dan Ibrani sekaligus. Ia mengatakan, “Hanya dua kata: Siapkan perlindungan-kalian!” Pesan ini punya makna yang sangat jelas. Ke kalangan internal Hizbullah, Nasrallah memberi instruksi agar semua elemen milisi mempersiapkan diri. Adapun kepada israel, pesan ini adalah ancaman untuk melakukan serangan balasan. Singkatnya, segala situasi di kawasan Timur Tengah mengindikasikan akan berlangsungnya ketegangan baru, yaitu perang antara Israel versus Hizbullah.

Berbicara mengenai koflik di Timur Tengah, dalam beberapa waktu terakhir ini, ISIS (dan Al-Qaeda) selalu menjadi aktor utama. Atas nama Islam dan jidah melawan musuh agama, mereka melakukan penyerangan, penculikan, pemenggalan kepala, penjarahan, dan beragam kesadisan lainnya. Hasilnya, sejumlah kawasan sempat dikuasai, ribuan orang tewas dengan cara yang keji, ratusan situs sejarah Islam porak poranda, dan bendera hitam ISIS berkibar di sejumlah kota Irak dan Suriah. Ringkasnya, ketika kita menyebut beberapa diksi bermakna konflik dan peperangan di Timur Tengah, nama ISIS pasti akan disebut.

Jika dalam krisis Irak dan Suriah ISIS adalah aktor utama, di manakah posisi ISIS dalam konflik Hizbullah versus Israel? Jika dikaitkan dengan jargon-jargon jihad mereka, mestinya ISIS bekerja sama dengan Hizbullah untuk menyerang Israel. Dengan kata lain, ISIS seharusnya berada di pihak Hizbullah. Bukankah Israel adalah sekutu paling mesra Amerika? Bukankah Amerika dan sekutu-sekutunya secara definitif diposisikan oleh ISIS sebagai musuh agama? Jika Israel adalah salah satu representasi dari musuh agama, bukanlah seharusnya ISIS ikut menyerang negara itu manakala ada pihak lain yang juga berkepentingan dengan kehancuran Israel? Hizbullah punya pengalaman berperang melawan Israel pada tahun 2006. Di sisi lain, para jihadis ISIS dikenal sangat militan. Alangkah dahsyatnya koalisi yang akan bisa dibangun oleh kedua kelompok milisi ini.

Sayangnya, fakta-fakta selama ini menunjukkan bahwa harapan di atas jauh panggang dari api. Faktanya, ketika Hizbullah membantu Suriah yang dianggap sebagai satu-satunya negara Arab yang konsisten melawan Israel, ISIS dan sejumlah milisi lainnya justru mendapatkan bantuan militer dari Amerika dan sejumlah sekutunya (yang notabene adalah sekutu Israel) untuk merontokkan rezim Assad.

ISIS selama ini memang sangat “mesra” dengan sekutu-sekutu Israel. Kekuatan ISIS begitu perkasa karena mereka didukung oleh beragam senjata yang disuplai oleh sekutu-sekutu Israel. Lihatlah, kendaraan yang dipakai ketika mereka melakukan pawai kemenangan, sesaat setelah mereka menaklukkan Ramadi dan Falluja di Provinsi Al-Anbar. Semua kendaraan itu betul-betul baru dan biasanya hanya ada pos-pos militer NATO.

Sejauh ini, posisi ISIS (dan kelompok-kelompok sehaluan yang lain) dalam konflik Israel Hizbullah adalah “netral”. Mereka tidak berkomentar apapun soal serangan helikopter Israel yang menewaskan para milisi Hizbullah. Pesan pendek Nasrallah yang menunjukkan ancaman kepada Israel yang sangat menggegerkan dunia juga tak dianggap sebagai fenomena apapun. Ini tentulah sikap yang memalukan, karena bertolak belakang dengan jargon-jargon jihad mereka selama ini. Tentu akan lebih memuakkan jika di balik sikap netral itu, ISIS justru secara diam-diam membangun koalisi dengan Israel dan sekutu-sekutunya dalam rangka melumat Hizbullah. (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*