klarifikasiSungguh miris ketika kita mendapati fakta bahwa media-media kita sekarang ini dengan sangat mudahnya menurunkan berita atau informasi dusta dan mengaburkan fakta. Padahal, menyebarkan kebohongan atau melakukan pengaburan atas sebuah fakta adalah pelanggaran paling elementer dari kode etik jurnalistik. Tapi, memang itulah yang terjadi.

Krisis Suriah menjadi awal mula dari situasi yang sangat buruk ini. Berbagai foto korban kekerasan di Palestina (oleh Zionis) dan di Irak (oleh tentara AS), bahkan korban kecelakaan lalu lintas di Turki, dengan semena-mena disebut sebagai foto korban kekerasan Assad di Suriah. Kemudian ada juga foto terkait dengan hukuman gantung bagi para pengedar narkoba di Iran yang disebut sebagai foto hukuman mati bagi warga Iran penganut Sunni.

Terkadang kesalahannya berupa pengaburan. Video ceramah dari seorang berserban yang sama sekali tidak dikenal di kalangan orang Syiah (seperti Yassir Al-Habib) disebut sebagai ceramah dari ulama besar Syiah. Lalu, karena isi ceramahnya terkait dengan hal-hal yang menyakiti kelompok Sunni, seperti melaknat para sahabat besar Nabi, maka dikatakan bahwa sikap itu adalah representasi dari ajaran Syiah.

Bentuk pengaburan lainnya adalah dengan menurunkan berita tentang perilaku sebagian kecil (amat sangat minoritas) kaum Syiah yang melakukan ritual-ritual aneh, seperti melukai diri sendiri, berguling-guling di atas lumpur, dan lain sebagainya, untuk kemudian menyebutnya sebagai ritual resmi seluruh kaum Syiah.

Ini jelas bentuk pengkhianatan terhadap kode etik jurnalistik, karena yang disebarkan adalah opini yang sama sekali berkebalikan dari fakta yang sebenarnya. Dan sungguh sangat disayangkan bahwa perilaku itu terkadang dilakukan oleh media-media besar sekaliber Kompas.

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, Kompas sempat menurunkan berita yang menyebut bahwa banyak organisasi Syiah Lebanon, termasuk Hezbollah, mendorong warganya untuk melakukan ritual melukai diri saat memperingati Asyura. Parahnya, berita seperti ini bisa muncul gara-gara adanya pemelintiran saat melakukan penerjemahan. Setelah adanya kritik dan tanggapan dari beberapa pihak, Kompas lalu mengoreksi kalimat beritanya.

Tentu saja langkah Kompas ini perlu diapresiasi, karena media ini berani memberikan reaksi yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan sejumlah media lain. Dikatakan “sedikit lebih baik”, karena secara keseluruhan, isi berita Kompas itu masih menggiring opini umum bahwa sebagian besar warga Syiah Lebanon memperingati Asyura dengan melukai diri. Hal ini tercermin dari judul berita, dan juga caption pada foto yang ditampilkan.

Bagaimanapun juga, sikap Kompas ini lebih baik dibandingkan media-media lain. Pada media lain, kita menemukan bahwa mereka enggan mengubah isi beritanya, meskipun sudah dengan sangat terang benderang ditunjukkan kepada mereka kebohongan yang mereka buat tersebut.

Dalam Islam, kebohongan, fitnah, dan ghibah adalah bentuk dosa yang melanggar hak-hak manusia. Siapa saja yang terlanjur terjerumus kepada sikap dan perilaku dosa ‘melanggar hak manusia’, selain harus bertobat kepada Allah, dia juga harus mengembalikan hak yang terlanggar tersebut. Dalam hal ini, orang itu harus meminta ampun kepada Allah, meminta maaf kepada orang yang difitnah, serta memuliakannya.

Menarik untuk disimak, pada surat Al-Baqarah ayat 160, dikatakan bahwa cara bertobat bagi mereka yang melanggar hak manusia adalah bertobat, memperbaiki, dan memberikan klarifikasi: “Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan (fakta yang selama ini disembunyikannya).”

Liputan Islam berkali-kali melakukan klarifikasi atas berita-berita dan juga foto-foto kebohongan yang dibuat oleh sejumlah media itu. Langkah ini ditempuh tak lain demi untuk menegakkan etika dalam Islam. Selain itu, Liputan Islam ingin mengembalikan jurnalisme kepada khiththah-nya sebagai alat untuk mencerdaskan, bukannya membodohi. (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL