LiputanIslam.com –Puluhan tahun lamanya dunia dikangkangi oleh persekutuan absurd Amerika-Zionis-Wahabi. Dinasti Saudi yang menguasai dua kota paling suci bagi ummat Islam (Mekah dan Madinah), cukup efektif dijadikan alat oleh Amerika-Zionis untuk menahan laju kebangkitan Islam di dunia.

Watak ultra intoleran yang menjadi doktrin mereka telah berhasil menciptakan perpecahan sangat serius di kalangan internal ummat Islam. Wajah bengis dan kaku serta doktrin Wahabi yang cenderung anti peradaban Islam, membuat citra agama Islam menjadi tercoreng. Merebaknya Islamophobia di dunia, tak pelak berakar dari kemunculan Wahhabi yang seolah-olah menjadi representasi ummat Islam.

Dengan keberadaan Wahabi, segala bentuk kebangkitan pergerakan Islam akan distigma negatif oleh masyarakat internasional. Yang mereka bayangkan, manakala mendengar kata ‘Islamic movement’, adalah aktivitas para jihadis palsu dan terorisme. Kalimat agung takbir, akan diasosiasikan dengan perusakan dan kebengisan di luar nalar. Panji Islam yang mulia atau kalimat syahadat yang agung malah membuat orang-orang sinis dan ketakutan.

Wahabi memegang peranan yang sangat strategis untuk melemahkan pergerakan kebangkitan Islam di dunia. Tanpa keberadaan Wahabi, Palestina sudah lama merdeka. Kalaulah penguasa Mekah dan Madinah bukanlah rezim Saudi, ibadah haji sudah lama menjadi poros persatuan Islam dalam melakukan perlawanan terhadap kesewang-wenangan Amerika-Zionis. Jika saja yang mengontrol kawasan kaya minyak di pantai timur Jazirah Arab bukanlah rezim keluarga Saud, niscaya ummat Islam akan punya amunisi dan logistik yang sangat kuat untuk melawan kesewenang-wenangan Barat.

Saat ini, dunia sedang menyaksikan, betapa persekutuan di antara Amerika dan Saudi terlihat semakin rapuh dan melemah. Insiden kematian Khassogi, yang sebenarnya ‘hanyalah’ seorang kolumnis Washington Post, ternyata telah menciptakan efek perpecahan yang sangat serius. Banyak pengamat yang memprediksi bahwa inilah awal dari kehancuran rezim Saudi sebagai penguasa Jazirah Arab.

Tentu saja Amerika dan Zionis sangat berkepentingan dengan tetap bertahannya kepemimpinan Dinasti Saudi atas Jazirah Arab, karena ini bermakna tetap langgengnya kekuasan rezim ini atas Dunia Islam. Kalau sampai rezim ini dibiarkan runtuh, harga yang harus dibayar oleh Amerika-Zionis sangatlah mahal. Keruntuhan rezim Saudi bukan hanya sekedar hilangnya transaksi ekonomi bisnis sekian milyar Dolar, apalagi sekedar kerugian bisnis dari perusahaan Trump. Ini terkait dengan runtuhnya salah satu benteng pertahanan Barat paling strategis yang selama ini berhasil memorak-porandakan persatuan ummat Islam serta mampu menciptakan image wajah Islam yang luar biasa buruk.

Tapi, kita harus percaya kepada sunnatullah, bahwa kezaliman itu pada akhirnya akan lenyap. Persekutuan itu pada akhirnya akan sirna. Ini hanyalah persoalan waktu. Lapisan kedok kejahatan dan kezaliman akan semakin tersingkap satu persatu, dan sebagiannya sudah banyak yang terbuka.

Hancurnya poros kezaliman itu pada hakikatnya adalah kehendak Allah yang Maha Perkasa. Masalahnya, di mana peran dan posisi kita dalam proses penghancuran poros ini? Apakah hanya sekedar saksi sejarah, ataukah kita mengambil peran sebagai bagian dari pelaku sejarah? Atau, jangan-jangan, kitalah yang menjadi bagian yang akan dilibas oleh gelombang kebangkitan ummat Islam itu, karena selama ini, kita malah merasa diuntungkan dengan keberadaan poros kejahatan tersebut. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*