LiputanIslam.com –Timur Tengah, khususnya kawasan Teluk Persia, masih terus memanas. Ketegangan antara AS dan Iran memang semakin mereda. Narasi yang disampaikan oleh pimpinan kedua negara mulai agak melunak. Presiden AS Donald Trump yang selama ini ditengarai sebagai pihak yang menjadi pemicu ketegangan terlihat lebih santun.

Akan tetapi, ketika narasi AS mulai melunak, tiba-tiba saja percikan api datang dari Inggris. Negara yang pernah menjadi imperium dengan negeri jajahan terluas di dunia itu baru-baru ini menyatakan akan segera mengirim kapal perang ketiganya ke Teluk Persia. Menurut Inggris, tindakannya ini dilakukan dalam rangka menjamin keamanan maritim yang berkelanjutan di kawasan Teluk Persia.

Pengumuman ini merupakan perkembangan terbaru dari ketegangan antara Inggris dan Iran terkait dengan penahanan kapal supertanker minyak Iran oleh pasukan maritim Inggris di Gibraltar. Inggris menahan kapal tanker itu karena dicurigai akan mengirim minyaknya ke Suriah. Padahal, menurut London, Suriah saat ini masih dikenai sanksi ekonomi.

Ketegangan berlanjut ketika Inggris tak lama kemudian mengumumkan bahwa pihaknya telah menghalau sejumlah kapal boat milik tentara Iran yang mencoba menahan kapal tanker minyak milik Inggris yang melintas di Selat Hormuz. Dengan alasan menjamin keamanan kapal-kapal tanker miliknya itulah, Inggris kemudian mengirimkan dua kapal perangnya ke Teluk Persia. Dan kabar terbaru, jumlah kapal perang yang dikirim akan menjadi tiga.

Terkait insiden-insiden itu, Iran telah menyampaikan klarifikasi. Soal kapal tanker minyaknya yang ditahan Inggris, Iran menyatakan bahwa tak mungkin kapal itu menuju ke Suriah, karena tak ada pelabuhan di Suriah yang bisa menampung supertanker sebesar Grace-1. Iran bahkan menyebut penahanan kapal tankernya oleh Inggris itu sebagai perampokan yang dilegalisir. Adapun terkait tuduhan boat Iran yang hendak menahan kapal tanker Inggris, Iran menyebutnya sebagai tuduhan tanpa bukti, dan tak akan pernah bisa dibuktikan.

Inggris dan AS adalah sekutu kuat lahir dan batin. Sejak berakhirnya era kolonialisme fisik sekitar 70 tahun yang lalu, kedua negara selalu berjalan bersama beriringan dalam semua isu besar internasional, termasuk dalam proses pembentukan dan dukungan terhadap Zionis Israel. Dalam kasus-kasus terbaru, semisal krisis Suriah dan Yaman, kedua negara adalah sekutu yang bahu-membahu melaksakan berbagai agenda internasional mereka. Jadi, seandainya Inggris menunjukkan keberpihakan secara sporadis kepada AS dalam kasus Iran, hal itu bukanlah situasi yang aneh.

Dalam masalah nuklir Iran, kedua negara juga punya kepentingan yang identik. Keduanya tak ingin Iran muncul sebagai kekuatan nuklir baru di Timur Tengah, karena nuklir adalah satu-satunya teknologi yang akan menggantikan energi fosil (minyak bumi dan gas) yang tak lama lagi akan betul-betul habis. Kedua negara berkepentingan menjadikan Barat sebagai kekuatan industri yang memonopoli energi dunia.

Keduanya juga sama-sama mengkhawatirkan Iran mampu membuat senjata nuklir, yang nantinya akan menjadi ancaman bagi Zionis Israel. Sebagaimana kita ketahui bersama, daya jelajah rudal Iran sudah mampu menjangkau Tel Aviv. Meskipun Iran berkali-kali menampik tuduhan ini dengan alasan bahwa ajaran Islam mengharamkan penggunaan senjata pembunuh massal, tetap saja Inggris dan AS menunjukkan gimik politik khawatir atas ancaman senjata nuklir Iran ini.

Lalu, kenapa Inggris baru-baru ini saja masuk ke dalam pusaran ketegangan? Jawabannya, kemungkinan ada pada sosok Trump yang reputasinya makin buruk di panggung internasional, dan juga di dalam negeri AS. Saat ini, apapun yang dilakukan oleh Trump akan cenderung direspon negatif oleh publik internasional, termasuk dalam isu nuklir Iran. Dalam kasus krisis AS-Iran baru-baru ini, masyarakat dunia cenderung memihak Iran. Padahal, Barat sangat berkepentingan untuk tetap menekan Iran. Maka, tampillah Inggris, dengan reputasi yang masih relatif ‘bersih’ dibandingkan AS di bawah pemerintahan Trump.

Menarik untuk melihat bagaimana kisah akhir dari keterlibatan Inggris itu. Para pejabat Iran sudah melontarkan peringatan bahwa petualangan Inggris ini berbahaya bagi Inggris sendiri, dan akibatnya pastilah buruk bagi London.  (os/editorial/liputanislam)

Baca:
http://liputanislam.com/berita/irgc-bantah-tudingan-cegat-tanker-minyak-inggris/

http://liputanislam.com/internasional/pemimpin-iran-arogansi-barat-hanya-efektif-di-hadapan-negara-negara-lemah/

http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/inggris-kerahkan-kapal-perang-ketiga-ke-teluk-persia/

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*