LiputanIslam.com –Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Khamenei melontarkan pernyataan pedas yang ia tujukan kepada Presiden AS Donald Trump. Sebagaimana yang diberitakan secara luas oleh berbagai media, Khamenei menyatakan Trump tidak punya kapasitas untuk berkorespondensi alias bertukar pesan. Pernyataan itu disampaikan Khamenei sebagai respon atas pesan PM Jepang Shinzo Abe, yang menyatakan bahwa dirinya membawa pesan dari Trump yang ingin melakukan korespondensi dengan pimpinan Republik Islam Iran.

Khamenei menyatakan bahwa Iran siap bertukar pesan dengan pemimpin dunia manapun, termasuk dengan Abe. Akan tetapi, tidak dengan Trump yang ia sebut tak punya kapasitas untuk bertukar pesan.

Ini adalah pernyataan sangat pedas dari seorang pemimpin Iran kepada pemimpin AS. Situasinya kini berbalik. Biasanya, Trump-lah yang arogan dan melecehkan dengan semena-mena pihak lain, terutama mereka yang dianggap sebagai “pembangkang”.

Tapi, kini, justru arogansi Trump membentur batu cadas yang keras. Trump-lah yang kini “dilecehkan”. Ia disebut sebagai pemimpin yang tak punya kapasitas bahkan untuk sekedar diajak berunding. Pernyataan Khamenei itu makin terasa pedas karena hal tersebut merupakan tanggapan atas upaya Trump yang ingin menjalin komunikasi dengan Iran.

Pada dasarnya, berbagai gestur politik Trump di dunia internasional adalah representasi arogansi politik luar negeri AS selama ini. Hanya saja, sebelumnya, para presiden AS selalu mampu menyembunyikan arogansi itu dalam sikap dan kata-kata yang diplomatis. Sedangkan Trump, dia adalah tipe pemimpin yang “apa adanya”. Ditambah dengan pengalamannya sebelum ini sebagai big boss bagi perusahaan-perusahaan raksasa yang ia pimpin dengan sukses, maka jadilah Trump sebagai presiden yang mungkin paling kontroversial sepanjang sejarah AS.

Hanya dalam waktu sekitar tiga tahun menjabat, Trump telah mengeluarkan keputusan-keputusan yang kontroversial, di antaranya: (1) pemberlakuan pembatasan untuk imigran Muslim yang mau masuk ke wilayah Amerika, (2) pembangunan tembok pemisah Amerika-Mexico, (3) menyatakan keluar dari Perjanjian Paris terkait perubahan iklim dunia, (4) keluar dari kemitraan pasifik, dan (5) persetujuan atas pemindahan kedutaan besar Amerika di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Khusus terkait dengan Iran, Trump pula yang dengan pongahnya menyatakan diri secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir tahun 2015 yang dinamai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Kemudian, Trump sempat melontarkan ancaman kepada Iran dengan mengatakan bahwa jika negara itu terus melawan, Iran akan menghadapi akibat seperti yang diderita beberapa negara lain sepanjang sejarah.

Sebagaimana yang disampaikan mantan Menlu AS Hillary Clinton dalam memoarnya, AS selama ini melihat negara-negara Dunia Ketiga (khususnya Iran) seperti keledai, yang harus disodori tongkat dan wortel (stick and charrot) agar mau bergerak. Gestur politik Trump adalah implementasi atas prinsip dan pandangan AS itu.

Kini, kepongahan dan ancaman AS itu menghadapi sikap yang cukup keras bahkan cenderung balik melecehkan. Trump, menurut Khamenei, tidak punya kapasitas sebagai pemimpin dunia yang beradab. Sikap yang dengan mudahnya menarik diri secara sepihak dari berbagai perjanjian yang ditandatangani pendahulunya dianggap cukup sebagai bukti bahwa Trump tidak punya integritas dan kapasitas yang memadai.

Bagaimanakah sikap AS menghadapi kerasnya sikap Iran itu? Di sinilah dilemanya. Tetap berkeras atau menjadi melunak, keduanya punya konsekwensi yang negatif bagi AS. Jika tetap berkeras hingga ke konfrontasi, AS harus bersiap dengan krisis ekonomi dunia yang menakutkan. Jika melunak, selain akan berakibat buruk terhadap “citra hebat” AS, sikap ini juga akan membuat Iran mampu melakukan perbaikan atas kondisi ekonomi dalam negerinya. Dan ini, bermakna buyarnya rencana Trump untuk menekan Iran. Perkembangan selanjutnya tentu patut ditunggu. (os/editorial/liputanislam)

Terkait:

Ayatullah Khamenei: Trump Tak Layak untuk Berkorespondensi dengan Iran

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*