LiputanIslam.com – Ketegangan politik di dunia diwarnai dengan perang pernyataan via medsos yang dilakukan oleh para petinggi Amerika dan Iran. Presiden Iran Hassan Rohani yang selama ini dikenal sebagai tokoh yang moderat, sudah kehilangan kesabaran atas tindakan sepihak Presiden Amerika Donald Trump yang menyatakan diri keluar dari kesepakatan nuklir. Rouhani menyebut Amerika sebagai negara yang arogan, yang dengan sangat mudahnya mencabik-cabik perjanjian. Rouhani juga mengingatkan Amerika agar tidak bermain api dengan Iran, karena Iran bisa memberikan pembalasan yang sangat keras dan mematikan. Iran, menurut Rouhani, bisa kapan saja memblokade perairan di Teluk Persia, yang akan melumpuhkan perekonomian dunia, termasuk Amerika.

Trump pun membalas dengan keras. Ia menyebut kata-kata Rouhani itu sebagai omongan gila yang terbiasa dengan narasi kekerasan dan kematian. Trump mengancam Iran agar bersiap menghadapi konsekwensi yang hanya dirasakan sebagian kecil orang dalam sejarah.

Dunia kembali cemas. Krisis Suriah masih belum sepenuhnya usai, meskipun Assad terlihat makin mampu mengontrol situasi di lapangan. Akan tetapi, masih banyak yang harus dilakukan untuk menyelesaikan akibat-akibat konflik, mulai perbaikan infrastruktur yang luluh lantak, pengembalian pengungsi, membangun ekonomi, dan lain sebagainya. Dalam situasi yang masih sangat traumatis tersebut, ketegangan dan narasi perang antara Iran dan Amerika tentulah membuat publik dunia cemas. Mungkinkah akan muncul krisis baru di Timur Tengah?

Ketika membaca berbagai konflik yang terus mendera kawasan Timur Tengah, publik sering dibuat bingung dalam menganalisis petanya yang terlihat sangat rumit. Pertanyaan intinya adalah: ini sebenarnya konflik siapa melawan siapa? Isu aslinya adalah apa? Apakah ini masalah politik, ekonomi, ataukah masalah madzhab?

Konflik di Suriah akhir-akhir ini adalah contoh kasusnya. Tak sedikit publik dunia (dan juga publik di Tanah Air) yang dibingungkan oleh fakta bahwa kaum jihadis yang berkumpul dari 100 negara dunia, yang datang ke Suriah dengan isu perang melawan rezim Syiah Bashar Assad, justru malah dibantu habis-habisan oleh Barat. Padahal, Barat, Amerika, dan Zionis Israel adalah target utama jihad dari kelompok tersebut.

Awalnya, banyak yang termakan propaganda media arus utama dunia. Banyak yang meyakini bahwa krisis di Suriah adalah konflik antarmadzhab: antara rezim Assad yang zalim dan bermadzhab Syiah melawan rakyatnya yang Sunni dan sedang ditindas. Di sinilah Iran dilibatkan, dan dianggap sebagai pemain utama konflik. Iran yang secara resmi menyatakan diri sebagai negara Islam dengan corak Ja’fari (Syiah Itsna Asyariah) bersekutu dengan Assad yang menganut Syiah Alawiah. Sedangkan yang mencoba menggulingkan Assad adalah para jihadis Sunni yang didukung oleh negara-negara Sunni (Arab Saudi, Qatar, Turki, Jordania, Mesir, dan lain-lain). Adapun Amerika dan Barat adalah sekutu tradisional dari negara-negara Sunni tersebut. Dari sisi inilah posisi Amerika dalam krisis Suriah sering dikesankan oleh media utama dunia sebagai keterlibatan negara ini dalam membantu sekutu tradisionalnya.

Ketika  Israel juga ikut terlibat membantu pemberontak,  tak sedikit yang melihatnya sebagai hal yang wajar, karena Israel adalah sekutu Amerika.  Alur berpikirnya adalah: (1) ISIS adalah jihadis Sunni yang didukung oleh negara-negara Sunni; (2) negara-negara Sunni itu adalah sekutu tradisional Amerika; (3) Amerika adalah sekutu terkuat Israel; dan (4) Israel membantu Amerika yang sedang membantu Sunni. Jadi, apa salahnya jika Israel membantu “temannya teman”?

Sekilas logika ini seperti benar. Hanya saja, waktu jualah yang mengurai kabut kerumitan. Publik dunia semakin  paham bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. Sejarah menunjukkan bahwa Syiah tak pernah berkonflik dengan kelompok Sunni manapun. Fakta lainnya adalah: negara-negara monarki itu bukan representasi kelompok Sunni. Tak pernah sekalipun mereka menyatakan diri sebagai negara Islam Sunni. Demikian juga kelompok jihadis semisal ISIS. Mereka tak pernah diakui sebagai representasi kelompok Sunni.

Ini adalah konflik antara Iran melawan Amerika-Zionis. Amerika dan Zionis menjadikan (atau malah menciptakan) kelompok-kelompok takfiri seperti ISIS sebagai proxi untuk melawan Iran. Ketegangan terbaru Iran dan Amerika adalah contoh nyata terkait dengan pihak mana yang sebenarnya saling berseteru. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*