LiputanIslam.com –Ketegangan antara Iran dan AS di bawah kepresidenan Trump makin memuncak. Setelah menyatakan keluar dari perjanjian nuklir tahun 2015 yang dinamai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), AS kemudian menambahkan sanksi baru kepada Iran. Trump telah  mengeluarkan perintah eksekutif untuk menjatuhkan sanksi baru yaitu di sektor logam dan pertambangan. Langkah ini dikatakan AS sebagai respons atas keputusan Iran untuk mengurangi secara bertahap komitmennya atas butir-butir JCPOA.

Dengan memperhatikan proses dan perkembangan ketegangan, kita semua bisa memaklumi bahwa biang kerok dari semua itu adalah AS di bawah kepemimpinan Trump. Saat menyatakan keluar dari perjanjian itu secara sepihak, Trump menjelaskan bahwa penandatanganan perjanjian JCPOA oleh Presiden Obama adalah sebuah kesalahan sejarah, dan ia sebagai presiden AS yang sah mengoreksi kesalahan pendahulunya.

Sungguh sebuah sikap yang sangat arogan dan seenaknya. Sangat sulit untuk bisa diterima oleh akal sehat, bagaimana seorang kepala negara bisa seenaknya melakukan pembangkangan terhadap kesepakatan yang pernah dibuat oleh pendahulunya. Ketidakpatuhan model seperti ini hanya bisa dimaklumi jika negara mengalami revolusi atau perubahan sistem secara total. Sedangkan, seperti yang kita tahu, AS sama sekali tidak mengalami riak-riak perubahan sistem saat terjadi pergantian kekuasaan dari Obama ke Trump.

Sebenarnya, kalau kita telaah lebih dalam, akan kita dapati bahwa arogansi Trump atas Iran ini hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak arogansi Trump atas hal-hal lainnya. Sebagaimana yang kita ketahui, selama sekitar tiga tahun menjabat, Trump telah mengeluarkan keputusan-keputusan yang kontroversial, di antaranya: (1) pemberlakuan pembatasan untuk imigran Muslim yang mau masuk ke wilayah Amerika, (2) pembangunan tembok pemisah Amerika-Mexico, (3) menyatakan keluar dari Perjanjian Paris terkait perubahan iklim dunia, (4) keluar dari kemitraan pasifik, dan (5) persetujuan atas pemindahan kedutaan besar Amerika di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Dari sisi kebijakan ekonomi, Trump juga melancarkan perang dagang dengan Cina, Turki, Rusia, dan banyak negara lainnya, yang menyebabkan goyahnya perekonomian dunia.

Dari semua kebijakan kontroversial tersebut, sepertinya, kebijakan Trump terkait Iran ini yang paling mengkhawatirkan banyak pihak. Posisi Iran sangatlah unik. Iran tidak bisa disamakan dengan negara-negara Timur Tengah lainnya. Iran berbeda dengan Irak, Afghanistan, Suriah, Yaman, atau Libya. Secara geopolitik, hard power, dan juga soft power, Iran bukanlah negara yang dengan mudahnya dikenai sanksi secara sepihak. Karena itulah, jika ketegangan ini betul-betul memuncak, serta menciptakan konflik langsung dan terbuka antara Iran dan AS, bisa dipastikan bahwa dunia akan mengalami krisis yang parah.

Iran menguasai Selat Hormuz yang menjadi lalu lalang penyaluran 70% minyak Dunia. Jika selat ini ditutup, Dunia akan mengalami krisis energi yang sangat parah. Iran juga punya banyak simpatisan di seluruh dunia. Konfrontasi terhadap Iran dipastikan akan memancing para pendukung Iran untuk ikut maju ke dalam gelanggang ketegangan. Maka, konflik tak mungkin bisa dilokalisir hanya di kawasan Teluk. Hal inilah yang menyulut sikap prihatin dari banyak negara di dunia, termasuk negara-negara Eropa.

Kini, bola ada di tangan AS; rakyat AS. Trump adalah presiden pilihan rakyat AS yang terpilih lewat sistem yang sah. Di dalam sistem pemerintahan AS sendiri ada Partai Demokrat yang menjadi oposisi Trump. Jika tak ada upaya koreksi dari rakyat AS, atau, seandainya ada upaya koreksi namun upaya itu terlalu lemah hingga tidak cukup kuat untuk menggoyahkan Trump, Dunia akan menyaksikan krisis yang berat. (os/editorial/liputanislam).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*