LiputanIslam.com –Kasus operasi tangkap tangan (OTT)  Ketua Umum PPP Romahurmuziy oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagetkan banyak kalangan. Bagaimana mungkin korupsi terjadi di sebuah kementerian yang mengurusi masalah agama? Bukankah salah satu pilar penting agama adalah hukum syariat dan akhlak? Bukankah seorang pemimpin dan ulama dalam konteks agama harus menjadi teladan? Kenapa malah ada korupsi di kementerian ini? Bahkan, yang lebih mengherankan (dan menyesakkan dada), kenapa rekor menteri yang dipenjara karena kasus korupsi malah dipegang oleh kementerian ini.

Sebagaimana yang kita ketahui, dari seluruh kementerian yang ada di kabinet pemerintahan Indonesia sepanjang masa, sudah ada dua menteri agama yang dipenjara, yaitu Said Agil Munawar (menteri agama di era Presiden Megawati) dan Suryadharma Ali (menteri agama di kabinet Presiden SBY). Dalam kasus korupsi Romahurmuziy inipun ada indikasi bahwa Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga ikut terlibat.

Kita tentu berharap, status Menteri Lukman hanyalah sebatas saksi. Jika sampai statusnya ditingkatkan sebagai tersangka, apalagi terdakwa hingga terpidana, makin terpuruklah kementerian ini. Akan tetapi, seandainya hal itu benar-terjadi, sebenarnya agama Islam itu sendiri sudah memperkirakannya. Posisi ulama atau orang-orang yang aktif di bidang keagamaan itu tak selamanya bagus dalam pandangan Islam.

Memang benar bahwa ulama, dalam ajaran Islam, adalah sosok yang memiliki posisi sangat mulia. Misalnya, di dalam surah Al-Mujadilah ayat 11, Allah SWT berfirman: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan juga orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat.” Sementara itu, dalam sebuah hadis, Baginda Nabi SAW menyatakan bahwa para ulama adalah ahli waris para nabi (al-‘ulama`u waratsatul-anbiyaa).

Akan tetapi, Al-Quran juga berbicara tentang ulama atau orang-orang yang faham agama dengan nada sinis dan penuh dengan pengecaman. Al-Quran berbicara tentang orang-orang yang justru melakukan kejahatan dan keburukan dengan berlindung di balik jubah dan topeng agama. Perhatikanlah bagaimana para pendeta Bani Israil dikecam oleh Allah sedemikian rupa, justru karena keilmuan mereka di bidang agama. Untuk itu, Allah dengan murka-Nya, menyebut mereka tak lebih seperti keledai (Al-Jumuah: 5), bahkan seperti anjing (Al-A’raf: 175).

Dalam perjalanan ke Sidratul Muntaha diriwayatkan bahwa Nabi melihat sekelompok orang yang mengguntingi lidah dan bibir mereka. Setiap guntingan disertai dengan jerit kesakitan. Akan tetapi, setiap kali lidah dan bibir mereka digunting, lidah dan bibir tersebut kembali seperti sedia kala. Mereka melakukan hal tersebut terus menerus tanpa berhenti. Jibril yang menemani perjalanan Nabi berkata bahwa itu adalah para pengkhutbah dari ummat Nabi. Mereka fasih bicara agama. Akan tetapi, isi khutbahnya menimbulkan fitnah dan keburukan bagi ummat.

Itulah ulama yang bukannya dipuji, malah dikecam keras oleh agama. Mereka adalah orang-orang yang menjual agama demi mendapatkan keuntungan duniawiah. Dengan berjubah dan bertopeng agama, biasanya, perilaku buruk mereka malah lebih mudah untuk dilakukan. Masyarakat awam lebih mudah dibohongi jika kejahatan mereka itu dibungkus oleh perilaku yang “seolah-olah” religius.

Jadi, jika ditemukan banyaknya pejabat di kementerian agama yang berlaku korup, sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang mengherankan. Situasi ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa agama (Islam) sebagai ajaran yang keliru atau tidak layak untuk dijadikan sebagai pedoman hidup. Ini adalah fenomena ketika orang-orang jahat menjadikan agama sebagai jubah dan topeng yang menutupi hakikat keburukan mereka.

Dari zaman dulupun, agama memang sering disalahgunakan.(os/editorial/liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*