suriah ahrar shamEditorial, LiputanIslam.com–Nicholas Carr dalam bukunya the Shallow (orang-orang dangkal) mengeluhkan dirinya sendiri yang semakin lama semakin tidak telaten membaca buku yang tebal. Dan hal ini rupanya dirasakan oleh banyak orang di era internet ini. Dia kemudian mencari penyebabnya, yang ternyata adalah kebiasaan manusia mengkonsumsi berita dangkal di internet membuat daya tahan otak untuk mencerna informasi yang panjang, ilmiah, dan penuh argumen menjadi berkurang.

Kita lihat dampaknya di beberapa tahun terakhir ini, terutama sejak dimulainya  perang Suriah, semakin banyak saja kaum ‘sumbu pendek’ yang bermunculan. Hanya berlandaskan berita-berita singkat di media sosial, mereka merasa lebih tahu apa yang terjadi di Suriah, lalu menyerukan kekerasan kepada sesama anak bangsa sendiri. Sebagian dari mereka beramai-ramai menyumbang dana untuk ‘saudara di Suriah’, padahal yang dilakukan ‘saudara’ mereka itu adalah menghancurleburkan negeri yang terdepan melawan Israel. Sebagian lain berbondong-bondong “berjihad” ke Suriah, lupa bahwa di negeri mereka sendiri banyak dhuafa yang butuh sumbangsih tenaga dan pikiran mereka.  Kemudian, berlanjut pula dengan panasnya perdebatan di medsos terkait isu pilpres dan kini, pilgub Jakarta. Perdebatan panjang umumnya terjadi di permukaan, membahas isu ecek-ecek, tak mampu berpikir mendalam, apa di balik apa, apa esensi kasus yang sebenarnya.

Sebuah studi yang dilakukan di sebuah universitas di AS menemukan bahwa tingkat literasi Indonesia ada di ranking 60 dari 61 negara. Artinya, warga Indonesia memang malas membaca buku. Mungkin ini seiring pula dengan semakin mudahnya akses ke internet dan media sosial, sehingga banyak orang merasa cukup dengan informasi singkat di media digital. Parahnya, media online banyak disusupi oleh propaganda terorisme dan kekerasan terhadap sesama anak bangsa.

Di sisi lain, akhir-akhir ini gerakan tahfidz al-Qur’an juga semakin semarak di Indonesia. Banyak orang tua berlomba-lomba penuh semangat mendorong anaknya menghapal Quran. Tentu ini baik. Tapi alangkah baiknya bila orang tua tak hanya mendorong anak mereka menghapal Quran, tetapi juga membaca buku, sebenar-benar buku, yang isinya mendalam, menganalisis dengan argumen ilmiah, dan mendorong anak agar mampu mengimplementasikan ayat-ayat Quran yang dihafal secara luas. Jangan sampai yang tercipta adalah generasi yang sangat bagus bacaan Qurannya, namun hanya sampai tenggorokan, dan “mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala” (hadis riwayat Muslim).  Membaca buku, sangat penting untuk memanjangkan sumbu dan menghindari “sumbu pendek”. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL