2-fitrah-manusia-1-728Ini betul-betul terjemahan harfiah dari apa yang sedang kita rayakan sekarang ini: Idul Fitri. Dalam bahasa Arab, ‘id berarti kembali, sedangkan fithr berarti fitrah. Jadi, salah satu penafsiran paling mendasar dari makna Idul Fitri adalah kembalinya manusia kepada fitrahnya.

Lalu, apa makna fitrah? Para filsuf dan teolog Muslim menyatakan bahwa fitrah adalah kecenderungan bawaan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Fitrah adalah instink/naluri/ghariizah yang sangat khas manusia. Sebagaimana instink, manusia manapun juga tidak perlu mempelajari hal-hal tersebut agar bisa memilikinya. Fitrah adalah sesuatu yang memang sudah dimiliki manusia sejak ia lahir.

Ada sejumlah fitrah yang berhasil diungkap oleh para filosof. Dikatakan bahwa manusia itu cenderung untuk mencari hakikat, cenderung menyukai keindahan, cenderung mencintai yang disertai dengan pengorbanan, cenderung menghamba (menyembah tuhan), dan cenderung kepada hidup secara damai dengan sesama.

Itulah bekal yang sudah Allah berikan kepada manusia sejak mereka lahir. Tugas manusia adalah menjaga dan menyempurnakan sejumlah fitrah tersebut selama kehidupan mereka di dunia. Para penjaga fitrah akan memperoleh kebahagiaan; sedangkan para perusaknya harus bersiap-siap untuk mendapatkan deraan kehinaan dan kesengsaraan lahir batin.

Hidup di dunia adalah pertarungan mempertahankan fitrah dari gempuran karat bendawi dan kotoran duniawi. Setan dan hawa nafsu tak henti-hentinya menyerang sendi-sendi fitri manusia. Iblis telah bersumpah untuk menjadikan manusia sebagai musuh abadi, menjerumuskan mereka ke jurang kehinaan, untuk kemudian menyeret anak cucu Adam ke neraka. Ini adalah sumpah legendaris makhluk paling hina tersebut.

Tentu saja, Iblis tahu, bahwa fokus pertarungan itu ada pada masalah pertahanan fitrah. Ia menyasar lapisan-lapisan perisai bernama fitrah tersebut. Kemalasan ditiupkan agar manusia enggan mencari kebenaran. Sifat destruktif digelorakan untuk merusak selera keindahan. Egoisme disuntikkan untuk mengganti cinta yang suci dan pengorbanan yang mulia. Pemujaan kepada dunia disodorkan sebagai ganti pemujaan kepada Al-Haqq. Fanatisme dan kecintaan duniawiah digelorakan hingga manusia rela mencabik-cabik kehidupan damai mereka.

Di hari raya Idul Fitri inilah kita diseru untuk kembali kepada fitrah kebaikan tersebut. Setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, saatnyalah kita merenungi kembali perjalanan hidup kita, baik secara individual ataupun sebagai bagian dari masyarakat. Jika kita merasakan ada penyimpangan (walaupun sedikit) atas fitrah yang seharusnya kita jaga itu, saatnyalah kita mengembalikannya kepada trek yang benar.

Sungguh tepat apa yang disampaikan Ketua Umum MUI Pusat KH Din Syamsuddin, saat memberikan sambutan di forum press release Sidang Itsbat Kementerian Agama. Ia mengatakan bahwa Idul Fitri hendaknya menjadi momentum bagi seluruh anak bangsa untuk kembali bersatu, melupakan segala rivalitas dan permusuhan yang sempat mengemuka selama masa pemilu.

Rivalitas dan pertikaian memang punya potensi besar untuk mencabik-cabik kehidupan damai bangsa ini. Ketika akar permusuhan itu adalah nafsu duniawiah untuk bertakhta dan menimbun harta, yakinlah bahwa saat itu, sedang terjadi penyelewengan atas fitrah suci; bahwa itu adalah perangkap setan; dan bahwa ujung dari semua itu adalah kesengsaraan dan penyesalan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Mohon Maaf lahir dan batin. Semoga kita diberi kekuatan untuk kembali kepada fitrah yang suci. (Editorial/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL