sumber: ImgCop.com

LiputanIslam.com – Kekerasan yang menimbulkan korban jiwa kembali terjadi di Indonesia. Seorang suporter klub sepakbola Persija Jakarta bernama Haringga Sirila tewas dikeroyok oleh sekelompok suporter Persib Bandung. Indonesia berduka. Save Our Soccer (SOS) -lembaga swadaya yang mengamati isu sepak bola nasional- mencatat sebanyak 22 suporter sepakbola meninggal dunia sejak November 2016. Kita pun bertanya-tanya, seburuk itukah bangsa Indonesia? Mana keramahtamahan yang selama ini kita bangga-banggakan?

Sebenarnya, keramah-tamahan dan kebersamaan bukan hanya watak yang seharusnya melekat erat pada bangsa Indonesia. Dalam pandangan Islam, kecenderungan untuk hidup damai adalah fitrah setiap manusia. Meskipun demikian, dalam diri manusia juga ada hawa nafsu dan bisikan setan yang mengajak-ajak agar manusia berpecah-belah dan melampiaskan kemarahan. Setan membisikkan bahwa kemarahan dan kegeraman adalah simbol dari harga diri dan kekuatan. Tentu saja semua itu adalah keliru. Saat seseorang termakan godaan setan, ia kemudian akan menyesal sejadi-jadinya.

Suatu hari, di Masjid Nabawi, para sahabat sedang duduk berkumpul dan berbincang-bincang dengan akrab. Di salah satu bagian masjid, para sahabat yang berbincang-bincang itu adalah mereka yang tadinya berasal dari Kabilah Aus dan Khazraj. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan menenteramkan. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW telah merekatkan hati yang sebelumnya tercerai-berai, memadamkan api dendam yang tadinya menyala-nyala, serta menumbuhkan benih-benih keharmonisan yang sebelumnya terkurung di kegelapan lipatan sekat-sekat perpecahan.

Aus dan Khazraj adalah dua kabilah yang pernah terlibat peperangan selama sekitar 120 tahun. Ada banyak perang yang mereka jalani. Yang paling terkenal adalah Perang Bu’ats. Pada perang ini, kemenangan silih berganti diraih oleh kedua pihak. Kemenangan di satu pihak artinya kekalahan di pihak lain. Kekalahan berarti ada darah yang tertumpah, harta yang terampas, kehormatan yang dicederai, serta nyawa yang melayang. Semua itu menjadi alasan bagi masing-masing pihak untuk menuntut balas kepada pihak lawan, hingga peperangan terus berkobar selama puluhan tahun. Tapi, semua dendam kesumat dan tuntutan itu sirna oleh cahaya Islam. Begitu mereka memeluk agama Islam, mereka bersumpah untuk menghilangkan semua permusuhan yang ada. Mereka pun hidup damai di bawah panji tauhid. Sungguh kenikmatan yang sangat berharga.

Cobaan pun tiba. Keindahan hidup berdampingan secara harmonis di antara kaum Mukminin dari beragam kabilah itu ternyata dimaknai berbeda oleh orang-orang Yahudi. Para pemuka Yahudi dan kaum munafik adalah orang-orang yang mendapat keuntungan besar dari peperangan yang berlangsung, mulai dari bisnis senjata hingga posisi politis. Karena itu, persatuan adalah ancaman buat mereka. Pemandangan harmonisnya kaum Mukminin sangat menyakiti hati mereka. Maka, tampillah Syas bin Qais, seorang tokoh Yahudi. Ia mendatangi orang-orang Aus dan Khazraj yang tengah asyik berbincang-bincang itu. Ia mengungkit luka lama dengan cara menanyakan kabar saudara dan kerabat dari masing-masing orang Aus dan Khazraj yang terluka atau yang meninggal dunia. Ia juga mempertanyakan klaim atas harta yang dirampas pada peperangan dulu. Rupanya, kata-kata Syas ini mampu mempengaruhi kedua kelompok. Mereka kemudian masing-masing menyatakan bahwa memang masih ada utang nyawa yang belum terbayar dan masih ada harta yang belum dikembalikan.

Masing-masing pihak mulai tersulut api permusuhan. Awalnya hanya berupa kata-kata. Lama-lama, kedua kelompok siap menghunus senjata. Di Masjid Nabawi, persatuan di antara sesama ummat Islam siap tercabik-cabik. Saat itulah Rasulullah SAW datang.

“Aku masih ada di antara kalian, dan kalian mau kembali ke perilaku jahiliah kalian? Bukankah derajat kalian menjadi terangkat dengan datangnya Islam?” kata Rasulullah dengan wajah yang terlihat sangat marah. Lalu turunlah ayat 103 surat Ali Imran yang berbunyi,

“Berpegang tegulahlah kalian semua kepada tali Allah, dan janganlah bercerai berai. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu  bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian. Lalu karena ni’mat Allah itu, kalian menjadi orang-orang yang bersaudara. (Padahal sebelumnya) kalian telah berada di tepi jurang neraka (kemusnahan), lalu Allah menyelamatkan kalian dari bahaya itu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya, agar kalian mendapat petunjuk.”

Ya, persatuan dan kebersamaan adalah nikmat dan anugerah yang tiada tara. Adapun perpecahan dan pertengkaran adalah perbuatan setan. Kita berharap, apa yang terjadi pada Haringga adalah yang terakhir kalinya. Walaupun, sayangnya, di tahun politik seperti sekarang ini, ujaran kebencian dan perpecahan tampaknya semakin memanas. Para politisi adalah pihak yang paling bertanggung jawab. Persis seperti kaum munafik dan Yahudi di zaman Nabi SAW, mereka memang membutuhkan rakyat yang bertengkar agar bisa meraih kedudukan politik. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*