LiputanIslam.com –Hipokritas alias tindakan menerapkan standar ganda, adalah hal yang sangat memuakkan. Apalagi jika tindakan hipokrit ini dilakukan secara terang-terangan. Itulah yang selama ini dilakukan AS. Hipokritas AS itu menjadi terlihat sangat terang-benderang saat mereka bersikap terhadap apa yang terjadi di Arab Saudi.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, AS adalah negara dengan banyak sekali ambisi di dunia. Sejak runtuhnya Sovyet hampir tiga dekade lalu, AS mengklaim diri sebagai satu-satunya kekuatan di dunia, dan merasa paling berhak untuk mengatur segala urusan di dunia.

AS lalu membungkus berbagai ambisinya itu dengan sejumlah jargon yang sangat sering kita dengar, di antaranya yang terpenting adalah demokrasi, kebebasan, HAM, dan yang teranyar, adalah perang melawan terorisme. Keempat prinsip ini menjadi standar resmi AS saat menilai dan berinteraksi dengan negara-negara lain. Akibatnya, sejumlah negara berdaulat di dunia harus merasakan pahitnya sanksi dan intervensi AS atas nama demokrasi, kebebasan, HAM, dan pemberantasan terorisme.

Akan tetapi, dalam pelaksanaannya, perilaku AS itu sangat hipokrit, sehingga keempat prinsip itu sangat sering hanya menjadi permainan kata dan gimmick politik. Ada banyak sekali tindakan yang diambil AS dalam rangka menekan siapapun yang melawan kepentingan AS. Padahal, bukti yang diperlukan sangat jauh dari kata memadai. Sebaliknya, ada banyak sekali tindakan yang bertentangan dengan empat jargon di atas yang dilakukan sejumlah negara. Akan tetapi, karena negara-negara tersebut adalah sekutu AS, tak ada sepatahpun kata yang dilontarkan AS. Apatah lagi tindakan.

Selain Zionis Israel, negara yang secara terang-benderang sedemikian dianak-emaskan oleh AS adalah Arab Saudi. Negara ini bisa disebut berada di garis terdepan dalam hal pelanggaran atas empat prinsip luar negeri AS. Dari sisi demokrasi, misalnya, semua juga tahu bahwa Saudi adalah negara monarki absolut. Suara rakyat sama sekali tak punya tempat di Jazirah Arab.

Soal pemberantasan terorisme, tak ada yang meragukan bahwa Wahabi yang menjadi mazhab resmi negara itu adalah biang kerok ideologi takfiri yang sangat mematikan. Ideologi inilah yang mendasari berbagai tindakan sadis terorisme di seluruh dunia. Demikian juga dengan isu kebebasan yang biasanya memang berkaitan erat dengan demokrasi. Ketika demokrasi dibungkam, jangan harap kebebasan rakyat akan mendapatkan jaminannya.

Sementara itu, terkait dengan isu terakhir, yaitu HAM, baru-baru ini Dunia dikejutkan dengan tindakan Arab Saudi menghukum mati dengan cara dipancung 37 orang yang didakwa sebagai teroris. Para pegiat medsos dan netizen Saudi mengatakan, 32 dari para terhukum mati adalah orang-orang Syiah dari kawasan Qatif. Mereka adalah para ulama dan pelajar agama dari daerah Syarqiyah. Kelompok “Tsuwwar al-Syaikh al-Syahid al-Namir” juga mengkonfirmasi kesyiahan 32 orang tersebut.

Maka, kecaman pun berdatangan dialamatkan kepada pemerintah Arab Saudi. Ini adalah hukuman mati massal yang diyakini banyak pihak sebagai tindakan pelanggaran atas HAM. Akan tetapi, Arab Saudi sama sekali tidak menggubris kecaman-kecaman tersebut.

Kejahatan ini dilakukan pemerintah Arab Saudi, di saat ingatan publik Dunia masih hangat dengan tindakan pihak keamanan Arab Saudi yang memutilasi seorang jurnalis. Saat itupun, kecaman demi kecaman mengalir dan dialamatkan kepada Arab Saudi.

Anehnya, ketika negara-negara Dunia melontarkan kecamannya, AS bersikap diam seribu bahasa. Sungguh hipokritas yang sangat memuakkan. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*