Liputanislam.com –Akhir-akhir ini, banyak pihak yang menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi ummat Islam Indonesia. Penguatan ghirrah keislaman bercampur-baur dengan radikalisme dan intoleransi. Akibatnya, citra Islam menjadi tercoreng. Lebih jauh lagi, fenomena ini sudah sampai pada tahapan ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jika sudah demikian, yang terjadi adalah penjungkirbalikkan peran agama. Islam yang sejatinya merupakan rahmat  bagi semesta alam, bisa jadi malah berubah menjadi alat destruktif yang mematikan. Rahmat berubah menjadi laknat.

Sebenarnya, adanya potensi penyalahgunaan nilai-nilai agama untuk tujuan negatif ini sudah lama digaungkan, bahkan sejak zaman dahulu kala. Proklamator Indonesia Bung Karno berkali-kali mewanti-wanti bangsa ini lewat slogan “ambillah api Islam, jangan abunya”.  Bung Karno memang bukan ulama. Akan tetapi, sebagai politisi jenius, Bung Karno faham bahwa segala macam nilai kebaikan bisa disalahgunakan untuk tujuan politik.

Salah satu prinsip utama seni politik praktis adalah upaya mengemas partai dan tokoh agar memiliki nilai jual, sehingga bisa mencapai atau mempertahankan kekuasaan. Di sini, segala hal bisa dimanfaatkan, termasuk penggunaan jubah agama. Bung Karno melihat bahwa Islam juga memiliki potensi diperlakukan dengan cara seperti itu. Nah, ketika Islam dipergunakan hanya sebagai “alat” untuk tujuan politik, artinya, dalam pandangan Bung Karno, para politisi itu sedang mengusung dan menyebarkan “abu” Islam, yang membungkus inti berupa sesuatu di luar Islam itu sendiri (yaitu ambisi meraih kekuasaan duniawiah).

Jauh sebelum itu, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib, terkait dengan situasi sulit yang dihadapi Ali pasca wafatnya Nabi. Beliau mengatakan bahwa di zaman Nabi, perang yang berlangsung adalah perang tanzil, yaitu perang menegakkan At-Tanzil (Alquran). Saat itu, yang dihadapi adalah orang-orang Musyrik. Meskipun berat, perang tanzil dianggap oleh Nabi sebagai perang yang mudah karena musuh sangatlah nyata, yaitu orang-orang Musyrikin.

Adapun perang yang akan dihadapi Ali (sebagaimana yang kemudian memang betul-betul terjadi) adalah perang ta’wil, dan menurut Nabi, perang ini sangat berat. Ta’wil secara umum diartikan sebagai penafsiran atau pendapat, dan biasanya dilekatkan dengan Alquran dan teks-teks agama lainnya. Dikatakan ta’wil, karena di masa pasca wafatnya Nabi, perang yang terjadi bukan terkait dengan penegakkan Alquran, melainkan perang yang dipicu oleh perbedaan penafsiran atas agama. Sejarah mencatat, di masa Ali berkuasa, terjadi tiga kali perang, dan semuanya adalah perang saudara, yang menghadapkan kaum Muslimin dengan kaum Muslimin; para Sahabat Nabi dengan para Sahabat Nabi.

Di salah satu episode perang, ketika pasukan Muawiyah hampir kalah, mereka menancapkan lembaran Alquran di atas tombak, sambil berseru” “la hukma illaa lillah!” (tiada hukum selain hukum Allah). Maksudnya, Muawiyah menyerukan kepada Ali agar perselisihan di antara mereka diselesaikan dengan Alquran.

Menanggapi hal itu, Ali berkata bahwa yang disampaikan Muawiyah adalah kalimat yang benar, akan tetapi ditujukan bagi tujuan kotor (kalimatul haq yuraadu bihal-batil).

Tampaknya, inilah yang sedang kita saksikan di Timur Tengah, dan selanjutnya juga di Indonesia.  Makanya, jangan mau dengan polosnya ditipu oleh slogan. (editorial/liputanislam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL