viva_palestina_Perlahan tapi pasti, opini Dunia sepertinya sedang makin berpihak kepada Palestina. Makin banyak negara Eropa yang menunjukkan kegeramannya atas sikap arogan Zionis Israel dalam isu konflik Israel-Palestina. Mereka yang selama ini selalu berada di bawah bayang-bayang politik internasonal poros Washington-Tel Aviv mulai berani keluar dari bayang-bayang itu.
Swedia adalah negara anggota Uni Eropa pertama yang menyampaikan pengakuan atas negara Palestina merdeka. Sedangkan Hungaria, Polandia, dan Slovakia sudah menyampaikan dukungannya sebelum menjadi anggota Uni Eropa. Irlandia juga baru-baru ini menyampaikan dukungannya kepada Palestina. Yang mengejutkan tentunya adalah trio negara Eropa anggota tetap Dewan Keamanan, yaitu Rusia, Inggris, dan Prancis, yang semakin gamblang menunjukkan dukungan, serta siap mengakui secara resmi negara Palestina.
Proses terus bergulir. Gerakan perlawanan rakyat Palestina HAMAS yang selama ini dikenal paling aktif melakukan perjuangan bersenjata melawan penjajah Zionis, kini dicoret dari daftar organisasi teroris oleh Parlemen Eropa. Pencoretan ini berarti bahwa Uni Eropa mengakui perjuangan HAMAS sebagai tindakan legal untuk meraih hak kemerdekaan yang selama ini dikangkangi oleh Zionis.
Dalam perkembangan terbaru, Parlemen Eropa dalam sidang resminya, menyatakan bahwa secara prinsip, mereka mengakui negara Palestina dan solusi dua Negara (Two States Solution). Keputusan resmi itu diambil setelah voting yang digelar menghasilkan keputusan dua per tiga suara mendukung Palestina dan solusi dua negara, dan lainnya menolak.
Jelas ini adalah perkembangan yang sangat menggembirakan. Hanya saja, jika dilihat dari situasinya secara umum, kita akan melihat betapa perjuangan Palestina masih sangat berat. Perkembangan terbaru ini hanya membuat langkah Zionis Israel untuk mewujudkan ambisi-ambisinya semakin terhambat, dan Israel makin terkucilkan. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan pengembalian hak-hak bangsa Palestina yang sudah dirampas, perkembangan ini sepertinya masih merupakan langkah kecil.
Jika dilihat dari ambisi Israel dan tujuan perjuangan bangsa Palestina, kedua entitas ini memang seperti minyak dan api: sulit dipersatukan dan saling meniadakan. Israel dideklarasikan demi sebuah ambisi besar mereka, yaitu membangun koloni Yahudi yang wilayahnya terbentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Eufrat (Furat) di Irak. Harap dicatat, hingga kini, Israel belum pernah merevisi ambisi mereka itu.
Dari sisi ini, segala macam upaya pengakuan atas berdirinya sebuah negara di kawasan yang saat ini dikuasai oleh mereka jelas merupakan langkah mundur bagi perwujudan Israel Raya. Palestina merdeka adalah mimpi buruk yang menandai kegagalan Zionis Israel. Mereka akan menganggap diri mereka sendiri gagal, karena dengan demikian, dalam konteks perwujudan ambisi mereka, jangankan memperluas kekuasaan, mempertahankan apa yang sudah diperoleh pun mereka tidak bisa.
Sedangkan dari sisi bangsa Palestina, mereka saat ini sedang berjuang untuk menjadi bangsa yang merdeka, setara dengan bangsa-bangsa lainnya. Dan ini artinya, mereka punya tanah di mana mereka bisa hidup. Tanah yang dimaksud adalah kawasan yang saat ini dinyatakan sebagai wilayah Israel.
Di sini terlihat betapa masih sangat panjangnya perjalanan yang harus ditempuh dalam perjuangan menjadi bangsa yang merdeka. Dukungan dari Eropa bisa saja kandas di tangan Amerika Serikat manakala dukungan tersebut berubah menjadi gerakan politik di meja PBB. Di Dewan Keamanan, AS punya hak veto.
Seandainyapun lolos dari PBB, eksekusi atas hasil politik di PBB itu pasti akan mengalami banyak sekali hambatan. Negara Palestina merdeka meniscayakan kembalinya lebih dari lima juta warga Palestina yang saat ini berada di sejumlah negara sebagai pengungsi. Berbagai permukiman Yahudi dan tembok rasis yang membentang di sepanjang Tepi Barat juga akan menjadi penghambat eksekusi.
Apapun, perkembangan ini patut kita syukuri. Pada akhirnya, perjuangan rakyat Palestina, khususnya para pejuang HAMAS, ditambah dengan diplomasi tiada henti para pendukung sejati bangsa Palestina, berhasil meruntuhkan tembok keangkuhan politis Eropa. Tak ada yang mustahil dalam pandangan Allah. Apa yang kelihatan sebagai jalan panjang pun bisa menjadi pendek, dan terkadang bahkan muncul jalan keluar dari hal yang tak terduga (min haitsu laa yahtasib). Tugas kita hanyalah berjuang dan berusaha. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL