foto: tasnimnews.com

LiputanIslam.com –Mengapa kita harus membela Palestina, dan mengapa harus mengecam Israel? Jawabannya bisa sangat beragam. Jawabannya yang sering kita dengar biasanya dihubungkan dengan masalah agama: Palestina adalah saudara seiman yang wajib kita bela.

Ini tentu bukan jawaban yang salah. Sebagai seorang Muslim, kita terikat dengan komitmen untuk melaksanakan perintah dari agama. Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya mengatakan bahwa siapa saja yang enggan memikirkan nasib saudara seimannya, dia tidak akan dianggap sebagai ummat Rasul.

Akan tetapi, itu bukanlah satu-satunya jawaban. Ada beberapa alasan kuat lain yang bisa dikemukakan, dan alasan tersebut sangat kuat tak terbantahkan. Salah satu alasan pembelaan terhadap Palestina yang sangat kuat dan bersifat universal itu terkait dengan isu kemanusiaan. Kita membela Palestian karena bangsa tersebut sedang mengalami penindasan dan kejahatan kemanusiaan paling sadis selama bergenerasi hingga saat ini

Bahwa Zionis Israel sangat banyak melakukan kejahatan kemanusiaan, itu sudah menjadi hal yang aksiomatis. Jangankan ummat Islam, negara-negara Barat dan kelompok aktivis kemanusiaan pun sudah terlalu sering menyampaikan kecaman mereka terhadap kejahatan Israel tersebut.

Baru-baru ini, Dewan HAM PBB untuk kesekian kalinya merilis ebuah laporan luar biasa tentang demonstrasi ‘Great Return March’ di Gaza, yang menyimpulkan bahwa Israel melakukan kejahatan perang internasional selama aksi protes sipil berskala besar tersebut.  Dalam laporannya tersebut, Dewan menemukan bahwa dalam pembunuhan 189 demonstran antara tanggal 30 Maret-31 Desember 2018, 183 orang diantaranya ditewas dengan amunisi hidup, termasuk 35 anak-anak, tiga petugas medis, dan duawartawan. Hanya 29 dari mereka yang tewas adalah anggota kelompok bersenjata Palestina. Sementara itu, dari pihak Israel sendiri, hanya empat orang penembak jitu (sniper) yang menderita luka ringan, tak ada yang tewas.

Dalam kacamata orang awam, ini jelas kejahatan yang sangat besar. Akan tetapi, dalam konteks kejahatan Israel, tragedi yang terjadi dalam demonstrasi ‘Great Return March’ di Gaza itu masih dianggap kecil. Buktinya, kejahatan yang luar biasa ini masih belum menggugah komunitas internasional untuk bereaksi. Dunia saat ini seperti berdiam diri saja menyaksikan tragedi yang terjadi di Palestina itu. Padahal, yang tewas itu 183 orang, termasuk 35 anak-anak, tiga petugas medis, dan dua wartawan.

Biasanya, selama ini, kejahatan Israel  hanya akan direspons jika skalanya sudah mencapai ratusan atau ribuan orang yang tewas. Itupun biasanya hanya menjadi kritik dan kecaman formalitas. Resolusi kecaman apapun yang ditujukan kepada Israel selalu saja diamputasi oleh hak veto yang dimiliki oleh sekutu setia Israel, yaitu Amerika Serikat. Data menunjukkan bahwa hingga saat ini, Amerika sudah memveto 43 resolusi kecaman terhadap Israel.

Sungguh mengerikan kejahatan demi kejahatan yang digelar Israel, dan selalu saja dibela oleh Amerika. Tanpa adanya pendekatan yang berbeda, upaya pembelaan terhadap bangsa Palestina akan selalu kandas. Ke depannya, situasinya akan terus berulang, dan sangat mungkin makin mengerikan. Struktur Dunia, khususnya PBB, telah membuka ruang seluas-luasnya bagi pembelaan terhadap apapun yang dilakukan oleh Israel. Di sisi lain, Zionis Israel adalah sebuah entitas yang dibentuk dengan watak dasar yang rasis, rakus, dan imperialistis.

Mendengar nama Israel, seharusnya kita selalu ingat dengan ambisi pembentukannya, yaitu mewujudkan The Promissed Land yang membentang dari Mesir hingga Irak. Celakanya, hingga kini, Israel tak pernah merevisi ambisi tersebut. Artinya, tindak-tanduk mereka itu, semuanya masih tersandera oleh sebuah ambisi yang sangat imperialistis; sebuah ambisi yang pengimplementasiannya meniscayakan perampasan serta penjajahan atas sejumlah kawasan dan negara di Timur Tengah. Sungguh sangat mengerikan. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*