antisyiah_Saat ini, hampir semua elemen masyarakat di Indonesia memandang ISIS dari sisi negatif. Pihak keamanan, politisi, pejabat negara, ormas Islam, hingga MUI, semuanya menyebut ISIS sebagai gerakan haram. Bahkan, pihak yang berwenang sudah mengultimatum siapa saja yang berbaiat kepada ISIS, kewarganegaraannya bisa dicabut.

Apa dosa ISIS hingga diposisikan sedemikian hina dan dibenci? Dari sisi agama, umumnya orang-orang menunjuk kepada perilaku biadab dan brutal kelompok ini dalam merealisasikan tujuan. ISIS dikatakan sangat jauh dari watak Islam sebagai agama yang rahmatan lil-‘alamin. Sebagai bukti, orang-orang beramai-ramai menyebut tindakan milisi ISIS yang dengan bangga memamerkan kebengisan mereka kepada publik dunia.

Memang, tak mungkin ada nurani bersih yang bisa menerima aksi-aksi pemenggalan dan perebusan kepala, eksekusi massal, pengeboman masjid, perusakan makam para nabi/wali, pengusiran warga non-Muslim, perampokan bank, dll. Sungguh itu semua adalah pemandangan yang sangat mengiris jantung siapapun. Dan semua pun menjadi geram ketika ISIS mengklaim bahwa tindakan itulah yang Islami, sambil mengajak anak-anak bangsa ini untuk ikut bergabung.

Tapi, kebanyakan dari kita sering melupakan bahwa metode ISIS yang dikecam secara luas itu berada dalam satu paket dengan ideologi kebencian gerakan itu. Dilihat dari sejarah pembentukannya, ISIS lahir dari rahim Al-Qaeda yang berpetualang di Suriah untuk memberontak kepada pemerintahan Bashar Assad. Isu utama “jihad” mereka sangat primordialis dan sektarianis. Mereka bertekad untuk menumbangkan Assad karena rezim ini dipandang sebagai representasi Syiah Rafidhah. Isu sentral inilah yang berhasil membangkitkan sentimen anak-anak muda Muslim dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia.

Mereka lalu menghembuskan isu-isu ikhtilaf Sunnah-Syiah. Tak lupa, untuk memberi bingkai konteks ikhtilaf, mereka menerapkan cara favorit selama ini: menebar fitnah dan kebohongan. Merela menyebarkan berita, gambar, hingga video tentang “kekejaman Syiah” yang sudah direkayasa. Foto-foto tentang korban kekejaman tentara Amerika di Irak, brutalitas Israel di Palestina, korban kecelakaan lalu lintas di Turki, hingga korban gempa bumi di Azerbaijan, disebut sebagai korban kekejaman Assad. Bahkan, video tentang hukuman indisipliner tentara di Jordania dan eksekusi mati penyelundup narkoba di Meksiko mereka katakan sebagai hukuman yang dijatuhkan Rezim Assad kepada kelompok oposan.

Dengan modal isu itulah penggalangan dana dan relawan untuk “berjihad” ke Suriah pun digelar. Isu memerangi rezim Syiah yang kafir dan kejam betul-betul menjadi spirit perjuangan. Isu ini pula yang kemudian berkembang dalam bentuk lain. Buku-buku kecil dicetak, seminar digelar, dan deklarasi dikumandangkan. Tiba-tiba saja, atmosfer keagamaan di Indonesia dicemari oleh ideologi kebencian.

Banyak pihak yang kemudian terlibat, mulai dari birokrat, ormas, orsospol, hingga lembaga MUI. Kita tentu masih ingat, bagaimana sebuah buku kecil yang menghujat Syiah berhasil diterbitkan. Di sampul buku itu tertera logo MUI. Belakangan, MUI menyatakan bahwa buku itu bukan merupakan buku resmi terbitan MUI, melainkan diterbitkan oleh sebagian pengurus MUI.

Dari sisi ini, kita bisa melihat hal yang absurd. Hampir semua pihak kini mengecam ISIS dan mengkhawatirkan mengguritanya gerakan ini. Padahal, beberapa dari mereka, dalam beberapa momentum sebelumnya, sempat bersentuhan dan berteman dengan kelompok ini dalam menebar ideologi kebencian.

Kita berharap, semangat anti-ISIS di Indonesia tidak hanya terkonsentrasi kepada cara-cara brutal kelompok ini dalam mengejar tujuan, melainkan juga memperhatikan faktor ideologis di balik kemunculan gerakan ini. Penyebaran kebencian atas dasar fitnah adalah pola berpikir yang sangat berbahaya, bukan saja bagi salah satu kelompok di Indonesia, tapi juga akan menyasar keutuhan bangsa secara keseluruhan. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL