takfiri-660x330Indonesia sempat mengalami masa ketika sebuah ideologi dianggap sebagai bahaya laten. Ketika Orde Baru berkuasa, pemerintah menyebarluaskan anggapan bahwa faham komunis adalah sebuah bahaya laten. “Bahaya laten” artinya adalah bahwa secara lahiriah, pemahaman atau ideologinya memang sudah berhasil “ditumpas”. Akan tetapi, sedemikian kuatnya daya tarik ideologi itu sehingga sewaktu-waktu bisa kembali muncul dan menebar ancaman kepada bangsa Indonesia.

Kebenaran klaim Orde Baru tentang posisi komunis sebagai bahaya laten memang hingga kini menjadi polemik. Banyak yang menyatakan bahwa rezim Orde Baru terlalu berlebihan memberi label bahaya laten kepada komunis. Dikatakan bahwa stigma komunis sebagai bahaya bagi negara lebih merupakan tools politik represif rezim untuk melanggengkan kekuasaan. Dikatakan bahwa komunis sebenarnya akan sangat sulit menerobos sendi-sendi ideologi bangsa yang sudah menjelma menjadi pola budaya hidup sehari-hari.

Salah satu contohnya, masyarakat Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam, sangat sulit untuk diajak melakukan revolusi kasta sosial. Ummat Islam di manapun mereka berada, sangat percaya kepada spiritualitas. Mereka meyakini posisi tinggi para ulama sebagai pewaris para nabi. Karenanya, mustahil mengajak ummat ini menyeret kasta spiritual para ulama hingga sederajat dengan mereka.

Jika bahaya laten komunisme dianggap sebagai mitos belaka, tidak demikian halnya dengan takfirisme. Meskipun secara ideologis sama-sama bersifat absurd, takfirisme memiliki potensi yang lebih kuat dibandingkan dengan komunisme untuk menyebar dan meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan bangsa.

Minimalnya, ada empat faktor yang membuat takfirisme berpotensi untuk semakin menyebar secara luas di Bumi Pertiwi ini. Pertama, takfirisme menyentuh ghirrah ummat Islam. Doktrin takfirisme memang selalu diawali dengan penanaman keyakinan tentang spirit perjuangan menegakkan kalimat tauhid. Semangat ummat ini untuk bangkit dengan sangat mudah dimanipulasi oleh takfirisme.

Faktor kedua adalah simplisitas ideologi. Konsep takfirisme memang sangat simpel: siapa saja yang tidak sejalan dengan praktik keagamaan mereka, jatuhlah stigma sesat dan kafir kepada orang itu. Bagi masyarakat awam, kesederhanaan konsep ini sangat menarik perhatian.

Faktor ketiga terkait dengan kepentingan Barat. Keberadaan kelompok ini sangat menguntungkan elit-elit politik dunia. Barat yang saat ini menghegemoni peradaban dunia memandang kaum Muslimin sebagai ancaman yang bisa menggoyahkan hegemoni mereka. Politik imperialistik yang sangat sederhana dan berbiaya ringan kembali mereka terapkan: divide and rule (pecah belah lalu kuasai).

Kelompok-kelompok takfirisme adalah tambang emas bagi Barat untuk mewujudkan ambisi mereka dalam melanggengkan cengkeraman atas Dunia Islam. Jejak-jejak keterlibatan Barat (dalam hal ini adalah Amerika) dalam pembentukan kelompok-kelompok radikal seperti Al-Qaeda sudah teramat jelas. Jadi, dengan melihat sangat signifikannya fungsi takfirisme bagi kelanggengan Barat, dana milyaran dolar siap digelontorkan untuk membiayai aktivitas mereka. Maka, tidaklah heran jika kelompok-kelompok ini seakan dengan sangat mudah mendapatkan sumber dana dalam jumlah yang fantastis.

Adapun faktor yang keempat, takfirisme menyasar mazhab Syiah sebagai target utama. Lihatlah bagaimana kelompok ini berhasil menghimpun puluhan ribu orang Islam dari berbagai penjuru dunia ke Irak dan Suriah, dua negara yang mereka yakini dikuasai oleh orang-orang Syiah.

Perselisihan politik Sunni-Syiah yang telah berusia ribuan tahun memang merupakan luka lama yang belum benar-benar sembuh. Ada sejumlah klaim ideologis yang saling bertabrakan dan belum terjembatani dengan baik. Ada tuduhan yang belum terjawab secara jernih.

Upaya gigih para ulama mulia dari kedua belah pihak untuk menyambungkan jembatan taqrib (pendekatan) dan tafahum (kesamaan faham) ternyata memang belum menciptakan kondisi yang ideal. Akibatnya, lewat jargon-jargon “pemberantasan akidah Syiah yang sesat”, takfirisme dengan sangat mudah meraih simpati dan menggalang dukungan kaum Muslimin Indonesia yang bermazhab Sunni.

Kini, bahaya laten takfirisme itu betul-betul muncul dan mulai diperbincangkan oleh banyak kalangan. ISIS sebagai representasi takfirisme paling nyata saat ini, mulai jadi bahan pembicaraan serius. Para ulama mulia dari bangsa ini kembali tampil menjadi penjaga akidah dan tatanan kehidupan beragama ummat. Mereka menyeru ummat agar tidak terjebak kepada pemahaman keliru kelompok ini. Para ulama yang lurus di MUI, NU, Muhammadiyah, hingga Kementerian Agama, dengan tegas menolak ISIS dan menyebutnya sebagai pemahaman yang sesat.

Semoga Allah SWT memanjangkan usia para ulama Indonesia. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL