LiputanIslam.com –Presiden Iran Hassan Rouhani sejak Senin (11 Maret 2019) melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari ke negara tetangganya, Irak. Sebenarnya, ini adalah kunjungan kenegaraan yang biasa-biasa saja. Semenjak melakukan normalisasi hubungan bilateral pasca jatuhnya Saddam tahun 2003, kedua negara secara bertahap semakin mengeratkan hubungan sebagaimana layaknya dua negara bertetangga menjalin hubungan persahabatan.

Akan tetapi, Irak dan Iran memang istimewa. Ketika mendengar dua nama negara ini, memori publik umumnya akan terbawa ke masa tahun 80-an, ketika kedua negara terlibat perang berdarah dan menghancurkan selama delapan tahun. Akan tetapi, jika kita mencermati pola hubungan antara dua negara di masa kini, kita akan mendapati situasi yang betul-betul berbanding terbalik: Iran dan Irak saat ini menjelma menjadi dua negara dengan tingkat persahabatan yang sangat intim.

Secara historis, Iran dan Irak sebenarnya adalah dua kawasan yang memiliki hubungan kultural sangat kuat. Di masa pra-Islam, para raja Persia Dinasti Sasania membangun istana sebagai tempat tinggal di kota Al-Madain yang terletak di tepian Sungai Tigris, sekitar 30 kilometer dari Baghdad. Lalu, di masa Islam, kedua kawasan dipersatukan di bawah dinasti-dinasti Islam.

Secara kultural dan keagamaan, Syiah Imamiyah menjadi mazhab yang dianut oleh mayoritas penduduk kedua negara. Di Iran, jumlah orang Syiahnya mencapai 90%, sedangkan di Irak 67%. Di sisi lain, di Irak terdapat enam makam imam Syiah, sedangkan di Iran ada satu makam. Sebagaimana yang diketahui, tradisi berziarah penganut Syiah Imamiyah ke makam para imam dan para wali itu sangat kuat. Dengan demikian, fenomena “pertukaran-ziarah” di antara orang-orang Syiah dari kedua negara sangatlah mencolok.

Tiap hari, ada puluhan ribu orang Iran yang mengunjungi Irak  dalam rangka berziarah ke makam para imam. Bahkan, pada momen-momen tertentu, seperti Arbain di bulan Shafar, jumlah peziarah Iran yang mengunjungi Irak untuk memperingati momen tersebut bisa mencapai tujuh juta orang. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Tiap hari, ada ribuan peziarah Irak yang mengunjungi kota-kota Qom dan Mashad di Iran.

Sejarah menunjukkan bahwa ketika kedua negara terlibat peperangan selama delapan tahun, ada faktor provokasi dari pihak luar yang terlibat. Ada banyak dokumen sejarah yang menunjukkan betapa AS terlibat secara kuat dalam proses perseteruan kedua negara, sebagaimana yang juga dilakukan oleh AS di kawasan-kawasan lainnya.

Kunjungan Rouhani ke Irak ini juga tak lepas dari provokasi AS. Dikutip oleh berbagai media, Brian Hook, Direktur Perencanaan Kebijakan dan Penasihat Kebijakan Senior pada Kementerian Luar Negeri AS membuat pernyataan yang sangat berbahaya. Ia menyatakan bahwa melalui kunjungan Presiden Rouhani itu, Iran punya niat jahat, yaitu menjadikan Irak sebagai salah satu provinsinya. Artinya, menurut Hook, Iran ingin mencaplok dan menjajah Irak. Dalam kunjungan diam-diam Trump ke Irak akhir tahun lalu, Donald Trump menyatakan bahwa pasukan AS ditempatkan di Irak agar menjadi “mata-mata” bagi Iran yang disebutnya punya niat jahat di kawasan.

Sungguh lontaran provokasi yang sangat beracun; sangatk khas rezim imperialis yang punya prinsip “pecah belah dan kuasai”. Bayangkan jika pihak Irak menelan mentah-mentah begitu saja (seperti yang terjadi di zaman Saddam Hossein), tentulah akan terjadi ketegangan antara kedua negara.

Hubungan Iran dan Irak, dan bagaimana imperium dunia memberikan respon adalah contoh kasus betapa AS dan sekutu-sekutunya masih memainkan pola yang sama sebagaimana yang dulu dipakai oleh kaum imperialis di masa imperialisme fisik. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*