LiputanIslam.com –Panggung politik Indonesia saat ini sedang hangat-hangatnya memperbincangkan putaran kedua pemilukada Jakarta dengan kontestan pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Cukup banyak pihak yang merasa khawatir dengan situasi di hari pencoblosan dan ekses yang timbul, apapun hasil pemilunya.

Jika diasumsikan Ahok-Djarot yang menang, terbuka kemungkinan bahwa situasi akan semakin panas. Hasil pemilukada akan terus digugat, baik secara hukum ataupun dengan tekanan politik dan aksi jalanan.  Bagaimanapun juga, sebagian warga Jakarta sudah terlanjur yakin bahwa Ahok adalah penista agama, tak peduli dengan vonis pengadilan yang akan dikeluarkan oleh hakim yang masih sedang menyidangkan kasus ini. Sebagian warga Jakarta sudah terlanjur meyakini bahwa pendukung Ahok adalah munafik, bahkan murtad, sampai-sampai jenazahnya tak layak disalatkan.

Bagaimana Anda akan bisa menerima kepemimpinan orang yang menista agama Anda? Bagaimana pula Anda harus hidup berdampingan dengan orang-orang munafik dan murtad, yang justru mendukung orang yang menista agama Islam?

Jika diasumsikan pasangan Anies-Sandi yang menang, tak sedikit yang merasa khawatir dengan wajah ibukota di masa yang akan datang. Tak bisa dipungkiri, sentimen SARA akan menjadi faktor determinan atas kemenangan tersebut. Sebagian besar pemilih Anies-Sandi adalah mereka yang membenci Ahok sebagai “orang kafir penista agama”. Maka, naiknya Anies-Sandi sebagai duet pemimpin ibukota akan membawa nuansa primordial tersebut. Para pendukung Anies-Sandi tentu akan terus “mengawal” pemerintahan baru dengan cara-cara yang sesuai dengan “aspirasi” gaya mereka.

Gayanya tentu tak akan jauh-jauh dari demo-demo sebagaimana yang sudah berlangsung berjilid-jilid, juga mobilisasi massa seperti Tamasya Al-Maidah, yang akan mendatangkan lebih dari sejuta massa ke TPS-TPS pada hari H pencoblosan, tanggal 19 April 2017. Mereka sudah belajar bahwa aksi-aksi tersebut sangat efektif untuk menggolkan apapun yang menjadi tujuan mereka.

Jadi, siapapun yang menang, situasinya memang diperkirakan akan tetap panas. Hal ini tak lain karena keberadaan kelompok-kelompok intoleran yang terus bergerak melakukan provokasi dan intimidasi. Jumlah mereka sebenarnya sangat sedikit. Akan tetapi, mereka punya dana besar dan militansi sekuat baja.  Mereka juga tak pernah takut menebar fitnah dan kebohongan, demi tercapainya tujuan-tujuan mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, aksi-aksi intimidatif memang sangat marak terjadi di negeri ini, dan juga di beberapaa kawasan lain di dunia. Saat ini, kita sedang prihatin atas gerakan Tamasya Al-Maidah yang kental beraroma intimidasi. Kamis lalu (13 April), sebuah acara diskusi yang digelar aktivis Lentera Negeri dibubarkan paksa.  Pelakunya adalah kelompok intoleran yang mengaku bernama Laskar Pemburu Aliran Sesat (LPAS).

Nuh jauh di sana, di Negeri Syam (Suriah), sedikitnya 126 orang yang sebagian besar di antaranya penduduk Fu’ah dan Kefraya, tewas terbunuh akibat ledakan bom bunuh diri yang menyasar beberapa bus yang mengevakuasi mereka dari dua kota tersebut. Lebih dari setengahnya dari korban bom bunuh diri itu adalah anak kecil. Penduduk kedua kota itu dievakuasi setelah dua tahun dikepung oleh pasukan pemberontak dan teroris.

Berbagai peristiwa intimidatif itu diotaki oleh kelompok yang sama, yang bergerak dengan menggunakan cara-cara yang mirip satu sama lain. Sayangnya, mereka menggunakan jubah Islam, sehingga masih banyak orang Islam yang tertipu dengan mereka. Inilah bencana yang sebenarnya bagi agama Islam yang kita cintai dan kita banggakan. (editorial/liputanislam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL