LiputanIslam.com – Hari kemerdekaan tiba. Bangsa Indonesia kembali diingatkan kepada apa yang telah terjadi di masa lalu atas bangsa ini. Kita adalah bangsa yang pernah mengalami masa-masa pahit penjajahan selama ratusan tahun. Entah berapa trilyun rupiah kekayaan alam bangsa kita yang dikeruk dengan seenaknya oleh kaum penjajah. Selama masa itu pula, nenek moyang kita menjalani kehidupan dengan serba terpaksa. Kemerdekaan, independensi, dan kebebasan menentukan pilihan hidup betul-betul ditekan sampai titik minimal oleh kaum imperialis. Para leluhur kita itu dirampok, dihina, dipaksa bekerja, dan sebagian dari mereka harus meregang nyawa.

Sungguh penjajahan adalah kebiadaban. Bayangkanlah seorang budak. Ia adalah orang yang tidak punya kemerdekaan dan kebebasan. Kalaupun ada, pastilah sangat minimal. Segala apapun dari kehidupannya sepenuhnya bergantung kepada sang tuan. Budak tak punya harta, tak punya kebebasan. Segala apapun yang merupakan produk pekerjaannya menjadi milik sang tuan. Apapun yang dilakukan oleh si budak harus seizin sang tuan. Budak adalah sosok individu yang dijajah oleh individu lainnya. Bayangkanlah bahwa sosok budak itu bukanlah individu manusia, melainkan berbentuk satu bangsa. Itulah yang terjadi pada bangsa kita selama ratusan tahun. Kita dijajah, dan kita diperbudak.

Tentu saja bangsa kita melakukan perlawanan sengit. Di seluruh penjuru Tanah Air, perlawanan demi perlawanan dilancarkan oleh jiwa-jiwa merdeka yang tak takut kematian. Nyawa pun mereka korbankan, hingga akhirnya, perjuangan tak kenal menyerah itu sampailah kepada saat yang berbahagia. Proklamasi pun dibacakan; negara yang berdaulat didirikan, lengkap dengan konstitusi dan segenap aturan kenegaraan. Indonesia memang sudah merdeka. Ini adalah nikmat karunia Allah yang harus kita syukuri. Kita sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pendahulu kita.

Akan tetapi, jika kita renungi secara mendalam, masih ada yang tersisa dari perjuangan kemerdekaan para leluhur kita. Kalimat awal pada Pembukaan UUD 1945 menegaskan prinsip paling asasi dari deklarasi atau pendirian negara kita, yaitu bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Lihatlah ke banyak tempat di dunia. Kawasan yang terjajah itu masih ada, dan itu artinya, ada penjajah yang masih berkuasa. Mereka bergentayangan menancapkan kuku kekuasaan. Mereka berkomplot untuk merampas kemerdekaan bangsa-bangsa dunia.

Lihatlah Palestina, Suriah, Libia, Yaman, dan Irak yang porak poranda. Lihatlah negara-negara Afrika, dengan kekayaan alam yang berlimpah ruah yang mereka miliki, tapi umumnya mereka harus hidup dalam jerat kemiskinan. Atau, lihatlah juga ke negeri tercinta kita. Sampai batas-batas tertentu, sebagian dari kekayaan bangsa kita masih cukup banyak yang dijarah dengan semena-mena. Lihatlah, bagaimana para pelakunya adalah negara-negara yang sama. Mereka yang menjajah Palestina, yang memorak-porandakan Libya, yang mencabik-cabik Irak, yang mendanai para teroris di Suriah, serta yang menjarah kekayaan bangsa kita, adalah negara-negara dan konsorsium raksasa ekonomi yang terafiliasi dengan Amerika, Zionis Israel, dan para sekutunya.

Kita memang sudah merdeka. Tapi para penjajah itu masih ada. Kaum imperium itu masih tetap berupaya keras untuk menancapkan perbudakannya atas bangsa-bangsa dunia, termasuk Indonesia.  Di hari kemerdekaan ini, mari kita hirup lagi aroma perjuanganpara leluhur kita yang gagah perkasa. Kita lawan penjajahan sampai betul-betul terhapus dari muka bumi. Kita lawan kaum penjajah, sampai mereka menghentikan perilaku busuknya itu, serta mau menghormati bangsa-bangsa di dunia secara adil dan setara.

Selamat ulang tahun, Indonesia! Semoga panjang umur, dan selamat sentausa. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*