LiputanIslam.com –Menyebarkan keburukan orang lain adalah hal yang tercela. Jika yang disebarkan itu adalah hal yang faktual, namanya adalah ghibah. Pelaku ghibah diserupakan dengan pemakan bangkai. Amalan baik pelaku ghibah akan ditransfer kepada yang dighibah. Mengerikan, bukan?

Bagaimana jika yang disebarkan itu adalah hal-hal yang tidak faktual? Itu namanya fitnah. Keburukan fitnah lebih dahsyat dibanding ghibah. Al-Quran menyebut fitnah lebih buruk daripada pembunuhan. Lebih buruknya fitnah dibanding ghibah itu sejatinya juga paralel dengan ancaman siksaan. Pelaku fitnah mestinya akan mendapatkan balasan dan siksaan yang lebih mengerikan ketimbang ghibah.

Sungguh sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini, gejala fitnah di bumi Nusantara sedemikian menggurita. Namanya berubah menjadi HOAX. Tapi, esensi pekerjaannya sama, yaitu menyebar-nyebarkan keburukan ‘tidak faktual’ alias kebohongan. Dan lebih memprihatinkan lagi manakala kita dapati bahwa pelaku penyebaran hoax ini justru adalah kelompok-kelompok yang mengatasnamakan komunitas Muslim.

Perhatikanlah bagaimana begitu masifnya hoax terkait dengan situasi di Suriah. Siapa pelakunya, kalau bukan orang-orang yang mengatasnamakan kelompok Islam? Begitu juga dengan isu-isu yang berseliweran di Tanah Air, mulai dari masalah kasus penodaan agama yang menjerat kepala daerah Jakarta, isu simbol Palu-Arit pada uang pecahan yang baru, isu terbunuhnya pendemo, isu serbuan jutaan tenaga kerja asing, isu rush/penutupan bank, dan lain sebagainya.

Ini adalah masalah yang sangat besar bagi ummat Islam. Dampak mengguritanya hoax bukan hanya urusan dosa pribadi, melainkan terkait erat dengan nasib ummat. Fitnah disebut lebih dahsyat daripada pembunuhan karena fitnah bisa menimpakan bencana kepada satu kaum. Karena itulah maka seorang Muslim wajib untuk memverifikasi berita yang punya potensi sebagai hoax.

Sekali lagi, sayangnya, ummat Islam cenderung mengabaikan hal ini. Banyak di antara saudara-saudara kita sesama Muslim yang kelihatannya menyepelekan ancaman Al-Quran itu. Sungguh memprihatikan, bagaimana jutaan ummat Islam bisa dengan mudahnya memberi tanda jempol (like) bahkan men-share berita apapun yang masuk ke akun mereka, tanpa melakukan verifikasi apapun.

Ingat, dengan perilaku seperti itu, alih-alih bentuk dakwah, Anda justru malah menempatkan diri sebagai bagian dari gelombang fitnah yang dikutuk oleh agama. (editorial/liputanislam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL