LiputanIslam.com – Teknologi itu bagaikan pisau bermata dua. Dengan teknologi, hidup kita bisa menjadi lebih mudah, dan kita bisa menebar kebaikan dengan lebih efektif. Akan tetapi, teknologi juga bisa menjadi sarana terbaik untuk menebar kerusakan di muka bumi. Teknologi informasi, misalnya, semakin maju teknologi ini, akan semakin menampakkan sisi gelapnya. Kalau tak pandai berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku, kita akan terjerembab ke dalam dosa yang bisa jadi tak akan mungkin termaafkan.

Dosa yang mungkin dilakukan manusia terbagi menjadi dua: dosa karena melanggar haqqullah (hak Allah), dan dosa karena melanggar haqqunnas (hak manusia). Contoh pelanggaran atas haqqullah adalah meninggalkan salat, sedangkan contoh pelanggaran atas haqqunnas adalah mencuri harta orang lain, atau memfitnah orang lain.

Jika seorang hamba menyadari kesalahannya, Islam membuka ruang kemungkinan untuk menghapus kesalahan itu dengan bertaubat dan minta maaf. Syaratnya, selain mengakui secara jelas perbuatan dosanya, dia juga harus menghentikan perbuatannya, menunjukkan penyesalan, serta berjanji untuk tidak mengulanginya. Kalau dosa itu terkait dengan manusia (haqqunnas), ada syarat tambahan, dan ini bisa jadi menjadi syarat tersulit: memulihkan hak yang sudah tercederai atau sudah rusak. Contohnya, jika dosa yang Anda buat terkait dengan pencurian, Anda harus mengembalikan curian itu kepada yang berhak.

Yang sangat repot adalah jika pelanggaran atas haqqunnas itu terkait dengan masalah kehormatan dan nama baik. Jika Anda memfitnah seseorang, dan Anda ingin bertobat atas dosa tersebut, Anda tidak cukup hanya dengan meminta maaf kepada orang itu. Anda juga harus membersihkan nama baik orang tersebut. Jika Anda menebar hoax yang berisikan propaganda fitnah, dan fitnah itu sudah terlanjur tersebar kepada orang lain, Anda harus memberikan klarifikasi kepada orang-orang itu bahwa yang Anda sebar-sebar itu adalah fitnah. Allah berfirman: “Siapa saja yang bertobat atas dosanya, dan ia melakukan perbaikan, niscaya Allah menerima tobatnya.” (Al-Maidah: 39).

Repotnya, di era teknologi informasi ini, hoax berisi fitnah akan sangat mudah menjadi viral, dan itu artinya fitnah yang Anda buat akan sampai kepada ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan orang dalam waktu sekejap. Bisa dibayangkan, betapa hampir mustahilnya membuat klarifikasi kepada jutaan orang atas fitnah yang Anda buat. Jumlah mereka sangat besar. Selain itu, mereka yang akhirnya menelan berita bohong yang Anda buat itu, bahkan bukan orang-orang yang Anda kenal. Bagaimana cara Anda mengklarifikasi? Satu orang saja belum berhasil Anda klarifikasi, kesalahan Anda belum akan dimaafkan oleh Allah.

Sekali Anda membuat hoax fitnah yang kemudian tersebar di media sosial, Anda tidak cukup hanya dengan melakukan konferensi pers atau melakukan shalat malam sambil menangis air mata darah. Anda harus menemukan tiap serpihan kata-kata Anda pada setiap akun medsos yang menerima pesan Anda itu, lalu Anda berikan klarifikasinya.

Hoax berisikan fitnah adalah dosa yang sangat mengerikan, karena sifat destruktifnya yang hampir mustahil bisa diperbaiki. Karenanya, jangan menganggap enteng perilaku hoax. Juga jangan menganggap enteng kebiasaan melakukan share atas berita yang sampai ke akun media sosial Anda.  Perilaku ini dalam pandangan Allah akan tetap dikategorikan sebagai bentuk fitnah, karena Anda melakukan kerjasama di dalam dosa dan permusuhan (at-ta’awun ‘alal itsmi wal ‘udwan).

Sungguh sangat disayangkan bahwa di negeri ini, perilaku hoax berkonten fitnah itu justru malah sering dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengidentifikasi dirinya sebagai kelompok Islam. Ambisi politik duniawiah yang kotor telah membutakan mata hati mereka. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:
Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*