LiputanIslam.com –Dunia kembali heboh soal Suriah. Kali ini, muncul berita yang disebarkan oleh media-media main stream dunia (CNN, BBC, dll) yang menyatakan bahwa telah terjadi serangan brutal yang dilakukan oleh tentara rezim Bashar Assad yang dibantu oleh Rusia. Serangan itu disebut sangat brutal karena menggunakan senjata maut gas sarin. Puluhan warga sipil, sebagiannya anak-anak, tak berdaya meregang nyawa karena terpapar gas maut itu.

Ini adalah isu baru yang menyusul ratusan isu lain yang terkait dengan krisis Suriah. Isu ini sama seperti isu-isu sebelumnya, telah memantik gelombang kemarahan di dunia. Bahkan, isu ini diprediksi akan menimbulkan situasi yang benar-benar lebih memperburuk krisis Suriah, karena AS dikabarkan telah menembakkan misssile-nya ke posisi tentara Suriah.

Akan tetapi, sejatinya, design isu ini adalah pola-pola lama, yang bahkan sudah pernah terjadi sejak AS melancarkan apa yang mereka sebut sebagai perang melawan terorisme di Afganistan, dan terutama di Irak. Saat itu, AS secara sepihak melansir berita bahwa Saddam memiliki senjata nuklir dan kimia. Tak lupa, Menteri Pertahanan Collin Powell menunjukkan foto-foto satelit yang menunjukkan lokasi pabrik senjata ilegal tersebut. Foto-foto itu lalu disebarluaskan secara masif oleh media-media mainstream dunia.

Dengan alasan itulah (dan alasan lainnya seperti bahwa Saddam terafiliasi dengan kelompok teroris Al-Qaeda), AS melancarkan serangan unilateral ke Irak. Akan tetapi, setelah serangan dilancarkan dan meluluhlantakkan Irak, AS baru mengakui bahwa semua tuduhan itu hanya isapan jempol alias kebohongan. Para pejabat AS dengan entengnya mengatakan bahwa terjadi kesalahan laporan. Bahkan, George W. Bush tanpa malu-malu mengatakan bahwa ia tak pernah menuduh Saddam punya senjata nuklir.

Itulah pula yang berkali-kali terjadi di Suriah. Dan tampaknya, pola yang sama inilah yang terjadi terkait dengan isu gas sarin. Sedikit saja kita melacak sumber-sumber beritanya, kita akan langsung bersikap skeptis. Sumber pertama yang merilis berita ini adalah Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), sebuah LSM yang berbasis di sebuah aprtemen mewah di London. Kemudian, yang dikutip adalah pernyataan Hussein Kayal, seorang fotografer untuk Edlib Media Center (EMC). EMC adalah lembaga yang terafiliasi dengan kelompok teroris. Demikian juga dalam sebuah tayangan video yang dirilis oleh BCC, seorang bernama Mohammed menceritakan kesaksiannya tentang apa yang terjadi di Suriah. Dia mengenakan pakaian dan helm resmi Syria Civil Defence, nama lain dari White Helmets. Ini adalah lembaga yang didana oleh George Soros. Di Suriah, White Helmets bekerja di bawah komando kelompok teroris Jabhat Al-Nusra.

Ini adalah pelanggaran kode etik jurnalistik paling elementer, karena semua berita bersumber dari satu pihak yang berseteru. Karena itu, sulit untuk dipastikan kebenaran narasi yang tersebar itu. Kita tak pernah bisa memastikan bahwa peristiwa ini betul-betul pernah terjadi. Kalaupun memang benar terjadi, kita juga tidak bisa memastikan bahwa pelakunya adalah tentara Suriah dan Rusia.

Adalah sebuah kebodohan jika kita kembali terjerembab ke dalam jeratan narasi yang dibangun secara sepihak oleh AS dan sekutunya. Sayangnya, banyak di antara kita yang malah ikut menebar jeratan fitnah dan kebohongan itu. Anehnya, di saat menebarkan fitnah yang mematikan itu, mereka merasa sedang melakukan kebaikan dan jihad. Makanya, klarifikasi dong (fatabayyanuu)!  (editorial/liputanislam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL